Lava Tour Merapi, Air Mata yang Berubah Jadi Berkah

Lava Tour Merapi, Air Mata yang Berubah Jadi Berkah

Foto: Maggie Nuansa Mahardika

Tak selamanya mendung itu kelabu, juga tak selamanya bencana itu meninggalkan luka.

Ini dibuktikan oleh masyarakat di sekitar kaki Gunung Merapi, yang sekarang aktif menggerakkan sektor pariwisata. Letusan dahsyat Gunung Merapi pada 2010 memang merenggut ribuan nyawa, termasuk nyawa tokoh fenomenal yang sempat jadi bintang iklan jamu kuat, Mbah Maridjan.

Air mata juga sempat membanjir di sana. Tapi semuanya bisa diubah menjadi berkah. Lava Tour Merapi yang kini menjadi salah satu things-to-do di Yogyakarta – yang lagi ngetren di kalangan wisatawan – hadir sebagai hikmah dari sebuah bencana.

“Dulu, kami memutar otak gimana caranya supaya Kaliurang (salah satu kawasan di kaki Gunung Merapi) rame lagi,” ujar Fajar, seorang pemandu wisata Lava Tour Merapi.

Sebelum letusan Merapi 2010, Kaliurang ramai, karena salah satu destinasi wisata populer. Tapi, setelah letusan Merapi, jadi sepi. Penduduk di dusun-dusun yang kena dampak erupsi direlokasi. Kaliurang memang kena dampak letusan, tapi nggak parah, nggak sampai kena awan panas.

Tahun 2011, barulah beberapa orang berinisiatif menyediakan jasa mobil Jeep untuk wisatawan agar bisa menempuh jalan ke lereng Merapi yang cukup jahat buat kendaraan biasa. Ternyata banyak yang tertarik melihat sisa-sisa bangunan dan barang-barang yang terbakar akibat erupsi.

Kaliurang pun merebut kembali pamornya sebagai salah satu destinasi wisata. Dari situlah, wisata menggunakan Jeep ini makin populer dan penyedia jasa makin banyak. Mereka terbagi dalam beberapa komunitas, termasuk komunitas yang menaungi dua orang yang mengantar saya menyusuri bekas-bekas erupsi di lereng Merapi, yakni mas Fajar dan mas Bimo.

“Emang apa aja sih Mas yang bisa diliat? Bukannya debu semua?” seloroh saya.

“Cuma jalanan pertamanya aja yang berdebu, di atas nggak kok. Nanti kita ke museum erupsi sama bunker di (dusun) Kaliadem,” tanggapnya.

Jeep membawa saya memasuki jalanan rusak. Yap, di sini justru sensasi off-road jadi daya tarik tersendiri. Belum lagi pemandangan ciri khas gunung berapi tersaji di kanan-kiri.

Ini sebetulnya bukan kali pertama saya ke lereng Merapi. Sebelum erupsi dulu, saya bahkan pernah mendaki Merapi lewat jalur Selo. Saya juga dulu sempat main-main ke Kinahrejo dan Kaliadem yang ternyata menjadi salah satu dusun yang paling parah terkena dampak erupsi.

Tapi, sehabis erupsi, semuanya tampak berbeda. Tak ada lagi hamparan tanah coklat berhias rumput hijau dan pohon-pohon besar yang menyejukkan hati dari panasnya kejombloan. Pemandangan didominasi pohon-pohon mati dan tanah putih. Semua tetap indah, tapi dengan kesan  yang berbeda.

Kami mampir sejenak ke museum mini erupsi Merapi. Museum itu tadinya adalah rumah salah satu penduduk yang terpanggang awan panas.

Masyarakat setempat bergotong-royong menata rumah kecil itu sebagai tempat menaruh bangkai barang-barang yang hancur kena awan panas. Ada barang elektronik, sepeda motor, sampai rangka sapi ternak. Peralatan makan dan alat-alat musik yang terbakar awan panas juga ditata di dalamnya.

“Ini baru kena awan panas, Gie. Belum laharnya. Kalau kena laharnya, udah deh nggak bersisa. Wedhus gembel itu panas banget,” kata mas Fajar, yang ikut masuk ke museum, sementara Bimo menunggu di luar.

“Api cemburu masih kalah panas ya, Mas?” tanya saya serius.

Mas Fajar tampak mau mengatakan sesuatu. Tapi buru-buru saya kasih kamera buat motretin saya, karena saya nggak bawa tisu. Khawatir aja dia terkenang gebetannya yang entah udah digondol lelaki mana, atau tergerak untuk mengambil kembali puing-puing hatinya yang terbakar, di antara barang-barang sisa erupsi.

Puas mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan, tentu saja berhenti di beberapa spot untuk sesi pemotretan. Ya maklum, lah ya, cita-cita saya dulu jadi model. Karena tinggi badan kurang 10 cm, berat kelebihan 10 kg, dan hidung kurang maju 0,5 cm, saya kemudian memutuskan menjalani profesi lain.

Pemberhentian selanjutnya adalah Bunker Kaliadem. Bunker ini dibangun sebelum erupsi Merapi 2010. Merapi memang gunung berapi aktif yang sering batuk-batuk. Bunker itu dibuat untuk tempat berlindung darurat masyarakat, kalau tiba-tiba Merapi memuntahkan wedhus gembel.

Namun, erupsi tahun 2010 yang begitu dahsyat malah menjadikan bunker ini senjata makan tuan. Beberapa orang yang berlindung di tempat itu malah menghembuskan nafas terakhirnya di situ, lantaran pintu bunker terkubur lahar. “Kebayang kan, di dalem jadi kayak dioven,” tutur mas Bimo.

Masuk ke dalam bunker, saya langsung merinding. Pertama, gelap dan dingin. Kedua, membayangkan rasanya terjebak di dalam bunker yang dipanggang lahar. Innalillahi…

“Di sini, nih, ditemukan mayat satu,” jelas mas Fajar, sambil menyorot bekas kamar mandi dengan senter. “Di sini juga ada satu,” lanjutnya sambil mengarahkan senter ke spot lain.

Saya tambah merinding. “Mas, udah yuk keluar.”

Karena langit mulai mendung, kami memutuskan untuk pulang. Jalan pulang dalam Lava Tour Merapi mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat. Jadi, pemandangan yang disuguhkan pun berbeda.

Kita bisa berbelanja oleh-oleh di pengujung rute, saat jalanan agak bagus. Banyak lapak-lapak pedagang yang berjualan beraneka ragam cenderamata.

Dari semua pedagang yang ada, seorang bapak yang berjualan cobek dalam berbagai bentuk dan ukuran menarik perhatian saya. Jadi teringat ibu yang mengidamkan cobek dari batu asli. Tukang cobek di kota itu jahat, ngaku bikin cobek dari batu padahal dicampur semen. Kata ibu, biasanya cobek batu yang asli bisa ditemukan di Yogyakarta dan Magelang.

“Mas… Boleh berhenti sebentar, nggak? Aku mau beli oleh-oleh,” kata saya.

“Boleh, dong. Mau beli apa?” tanya mas Bimo.

“Cobek.”

“Hah? Beneran?”

“Iya beneran. Tawarin, dong Mas… Saya nggak bisa nawar.”

Mas Bimo dan mas Fajar pun turun dari Jeep untuk melakukan transaksi percobekan. Saya pingin ketawa juga melihat dua cowok tulen megang-megang cobek dan ulekan sambil bicara Bahasa Jawa yang entah apa artinya.

Tiba-tiba si bapak penjual bilang kalau cobek ukuran sedang boleh saya beli dengan harga Rp 40 ribu, bonus ulekan. Mas Bimo memilih ulekan paling besar. Tapi saya tolak, nggak butuh yang besar, yang penting fungsional. Soalnya bawanya berat. Kami pun kembali ke Kaliurang usai membeli cobek.

Lava Tour Merapi ini sebetulnya bisa menempuh jarak lebih panjang. Jika memilih kategori medium, pengunjung diantarkan sampai puing-puing rumah Mbah Maridjan. Jika memilih kategori long, pengunjung dibawa sampai kuburan massal korban erupsi. Nah, kalau memilih kategori short, cuma sampai Bunker Kaliadem.

Harganya tiap kategori juga berbeda, short dibanderol Rp 350 ribu per Jeep, medium Rp 450 ribu, dan long Rp 550 ribu. Harga yang diberikan sopir Jeep beda-beda tipis, tergantung tawar-menawar, tingkat pesona senyuman, dan kedipan mata.