Kami Lajang, Bahagia, dan Tak Terkalahkan

Kami Lajang, Bahagia, dan Tak Terkalahkan

(gioguzo/pixabay.com)

Manusia sebagai makhluk sosial tak akan pernah lepas dari orang lain. Bagaimanapun, kita memerlukan hubungan interpersonal secara mendalam, yang akan terus menguat hingga mencapai jenjang pernikahan. Catat.

Pernikahan bisa dibilang ikatan di antara dua insan yang mempunyai banyak perbedaan, baik dari segi fisik, asuhan keluarga, pergaulan, cara berpikir (mental), dan pendidikan. Jadi, cuma akhi-akhi cupet yang mau berpasangan dengan perempuan berpendidikan tinggi. Begitu kan mas Gilang?

Namun, ternyata tidak semua orang dewasa menikah. Hal ini terlihat dari data-data sensus penduduk maupun penelitian. Menurut petinggi setipe.com, angka jomblo di Indonesia mencapai 52 juta orang. Rentang usia jomblo sekitar 18-40 tahun.

Riset serupa juga dilakukan oleh Zola Yoana, pendiri Heart Inc. Menurut riset Zola, jumlah jomblo di atas usia 27 tahun meningkat 2% setiap tahun selama 2010-2014.

Pada 2010, jumlah jomblo laki-laki mencapai 4,9 juta orang, sementara jomblo perempuan mencapai 4,7 juta. Angka ini meningkat drastis pada 2014, jumlah jomblo laki-laki mencapai 5,1 juta dan perempuan mencapai 5 juta.

Para jomblo yang memilih menjalani hidup sendiri atau hidup melajang bukan berarti tanpa masalah. Sebetulnya tidak mudah menjalaninya. Mereka harus berani menanggung segala risiko dan stigma yang sudah kuno.

Tentu ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang menjalani kehidupan menjomblo. Pada umumnya, perempuan lebih mudah stres, jika belum menikah. Terlebih kalau ditanya ‘kapan nikah’ secara terstruktur, sistematis, dan masif dalam tatanan sosial yang patriarkis.

Berbeda dengan laki-laki yang cenderung tidak mempersoalkan kapan harus menikah. Banyak lelaki yang tetap membujang, karena ingin menikmati kebebasan sebagai bujangan atau ingin mempersembahkan waktu dan tenaga sampai mantap dalam berkarier. Nah ini saya.

Kebanyakan orang yang tidak menikah mempunyai alasan yang kuat untuk tetap membujang. Alasan laki-laki tidak menikah karena mereka menganggap komitmen jangka panjang atau menikah akan merusak hubungan indah yang telah terjalin.

Kemudian, mereka menganggap bahwa menikah tidak sebebas hidup melajang. Takut bercerai, trauma karena kegagalan yang dialami kedua orang tuanya, dan kadang lelaki mempunyai sifat pembosan.

Ada survei yang dilakukan oleh majalah Femina (2006) terhadap 60 laki-laki dan diperoleh beberapa alasan mengapa mereka masih menjomblo. Sebesar 35% suara mengatakan bahwa laki-laki merasa lebih bebas tidak menikah atau tak ingin kebebasannya dikekang.

Selanjutnya, sebesar 29% suara menyatakan ingin 100% fokus berkarier, lalu 20% suara menyebutkan belum merasa mapan dan 16% yang mengungkapkan belum menemukan pasangan yang tepat.

Bahkan beberapa penelitian yang menggunakan skala ((kesepian)) yang dikembangkan oleh University of California of Los Angeles (UCLA Loneliness Scale) mendapatkan hasil bahwa laki-laki memiliki rata-rata skor kesepian yang lebih tinggi daripada perempuan.

Sementara, Borys dan Perlman mengatakan perbedaan jenis kelamin pada tingkat kesepian tergantung dari jenis pertanyaan yang diajukan.

Bila pengukuran menggunakan UCLA Loneliness Scale, yang mana dalam skala tersebut tidak muncul kata kesepian secara terang-terangan, maka subjek laki-laki dilaporkan memiliki tingkat kesepian yang lebih tinggi daripada perempuan.

Jika pengukuran kesepian dilakukan dengan terang-terangan menyebutkan kata kesepian, maka didapatkan hasil sebaliknya yakni subjek perempuan memiliki tingkat kesepian yang lebih tinggi daripada laki-laki.

Borys dan Perlman mengemukakan bahwa hal ini karena lelaki pada umumnya lebih sulit mengakui secara terang-terangan kalau dirinya mengalami kesepian.

Meski demikian, sodara-sodara… berbeda dengan negara kita Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Agustus 2017 menyebutkan, Indeks Kebahagiaan penduduk yang belum menikah alias lajang cenderung lebih tinggi (71,53). Dyaaar

Orang lajang, apalagi jomblo, memang selalu diidentikkan sebagai manusia kesepian. Stereotip murahan yang entah sampai kapan itu terus berlangsung. Bahkan, Pak SBY dan Bu Megawati sudah salaman pun, tetap saja begitu.

Padahal, berdasarkan Indeks Subdimensi Kepuasan Hidup Personal (Life Satisfication) penduduk yang belum menikah memiliki indeks tertinggi (68,36) dibanding penduduk dengan status perkawinan.

Jumlahnya yang sangat signifikan, yaitu mencapai 52 juta orang, juga membuat mereka tak terkalahkan. Asal tahu, angka tersebut sekitar 70% dari jumlah pemilih Jokowi-JK pada pilpres lalu yang sebanyak 70,9 juta jiwa.

Tentu ini juga sangat cukup untuk mengantarkan mas Kokok Dirgantoro menjadi presiden, eh? Bahwa kami (memang) melajang, tapi kami bahagia dan tak terkalahkan…

  • Semoga tertundanya gak kelamaan gan.. hehe,.

  • Suardi

    Lajang itu jomblo yg malang

  • Fachrur Rozi

    Jomblo itu nasib, sedangkan single itu pilihan haha

  • termasuk yang 20%

  • Hahhaa keren bro infonya

  • SD/MI Muhammadiyah PK Kartasur

    wah saya dah punya istri, hehe

  • Forbidden Page

    jadi inget ama nasib gw TT