Lagu Lama dan Konglomerat Rokok yang Patah Hati

Lagu Lama dan Konglomerat Rokok yang Patah Hati

Siapapun yang pernah tumbuh besar dengan lagu-lagu 90-an, pasti tahu Alanis Morrisette. Karyanya ‘Jagged Little Pill’ yang dirilis tahun 1995 mendapat pujian dari kritikus dan menang lima kategori Grammy Award.

Salah satu lagu andalannya, ‘Ironic’, lumayan catchy. Di sisi lain, ‘Ironic’ menimbulkan perdebatan, karena sebagian besar liriknya justru tidak berbicara soal ironi sama sekali.

Tapi, baiklah, kita tidak perlu ribet soal beginian. Sampai saat ini, menurut saya, Alanis masih sebagai musisi yang mengagumkan. Lagu ‘Ironic’ juga tetap enak didengar, meski lagu lama.

Sekarang marilah berbicara sesuatu yang tidak pernah ada habisnya di negeri ini, ironi hidup. Yang ini benar-benar ironi, tak seperti lagu ‘Ironic’-nya Alanis Morrisette.

Ini cerita soal pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan rokok. Padahal, perusahaan itu bergelimpangan uang.

Saya yakin pembaca voxpop.id yang smoker tahu betul produk-produk rokok HM Sampoerna. Tapi mungkin tak banyak yang tahu, kalau perusahaan milik Philip Morris dari Amerika itu bakal meraup duit Rp 20,7 triliun dari jual saham.

Buat apa duit sebanyak itu? Naikin gaji pekerja? Oh bukan… Jelas untuk memproduksi rokok. Soalnya yang ngebul makin banyak. Biar pada ngebul terus kayak dapur. Biar aktivis anti rokok makin galak.

Presiden Direktur HM Sampoerna Paul Norman Janelle pernah bilang, pihaknya akan memanfaatkan uang itu untuk modal kerja. Ini artinya perusahaan akan memborong tembakau dan cengkeh buat bahan baku rokok.

Bukannya bagus? Petani tembakau dan cengkeh ikut kecipratan. Iya, tapi di sisi lain, sebanyak 4.900 pekerja di HM Sampoerna jadi korban PHK akibat penutupan dua pabrik.

Pabrik itu berhenti memproduksi sigaret kretek tangan (SKT), karena pola konsumsi masyarakat berubah dari SKT ke sigaret kretek mesin (SKM). Dengan kata lain, mesin kini lebih diandalkan daripada manusia.

Apakah perusahaan rokok semonster itu? Oh tidak juga… Si Paul, orang nomor satu di manajemen HM Sampoerna, merasa patah hati kok. Dia bilang, “Mendengar kabar PHK, hati saya pecah.”

Entah itu Baper (bawa perasaan) atau bukan, yang pasti HM Sampoerna janji akan kasih kompensasi yang layak sekaligus pelatihan kepada karyawan yang kena PHK. Lho, pelatihan apalagi? pelatihan bela negara?

Apapun pelatihan dan kompensasinya, HM Sampoerna punya banyak duit. Sampai Juni 2015 saja, perusahaan itu menggondol Rp 43,7 triliun dari hasil jualan rokok. Kalau dibandingkan Juni 2014, penjualan itu naik lho sebesar 11,89%. Laba bersih hanya turun dikit 0,4% menjadi Rp 5,01 triliun.

Selama ini negara juga turut menikmati pajak dari HM Sampoerna. Ada yang tahu berapa? Miliaran? Triliunan? Wah, saya harus buka contekan dulu. Ini dia.. Ternyata untuk tahun pajak 2014, mereka setor pajak lebih dari Rp 52 triliun!

Tapi bukannya negara kalau tak punya kuasa. Tarif cukai rokok pun terus dikerek naik. Per Januari 2015, kenaikan tarif cukai rata-rata 8,76%. Tahun depan bakal dinaikkan lagi. Kabarnya bisa di atas 10%.

HM Sampoerna dan konglomerat rokok lainnya pun ketar-ketir. Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) memperkirakan, sebanyak 10 ribu buruh terancam PHK sampai akhir 2015.

Sekarang kita cek keuangan perusahaan rokok lainnya, seperti Gudang Garam, Bentoel, dan Wismilak.

Per Juni 2015, pendapatan Gudang Garam Rp 33,23 triliun atau naik 1,71%. Laba turun 11,43% menjadi Rp 2,41 triliun. Pendapatan Bentoel turun 3,87% jadi Rp 7,65 triliun. Tapi Bentoel masih rugi Rp 755 miliar. Lalu, Wismilak pendapatannya naik 19,9% jadi Rp 879 miliar. Labanya naik 7,5% jadi Rp 57 miliar.

Semoga saja tidak terjadi PHK. Kalaupun terjadi, siapa yang paling patah hati? Konglomerat atau pekerja?

Foto: theguardian.com