Lady Fast dan Suara-suara Kemerdekaan Perempuan

Lady Fast dan Suara-suara Kemerdekaan Perempuan

adb.org

Saya selalu kagum ketika ada perempuan yang mampu memperjuangkan dirinya menjadi seorang perempuan seutuhnya. Mencoba menghapus hegemoni budaya patriarki yang selama ini menghantui. Mendobrak mitos bahwa perempuan harus rela jadi makhluk nomor dua setelah laki-laki.

Salah satu wujud perlawanan perempuan terhadap budaya patriarki yakni munculnya sejumlah tokoh perempuan yang mampu menduduki puncak kekuasaan di sebuah negara. Contohnya Angela Merkel. Seorang perempuan atau lebih tepatnya sosok ibu-ibu yang mampu menempati posisi sebagai kanselir Jerman hingga saat ini. Di balik sosok keibuannya tersimpan jiwa kepemimpinan yang bahkan melebihi seorang laki-laki sekali pun.

Perempuan tersebut adalah suatu bentuk dari pemberontakan terhadap budaya patriarki yang kental di seluruh penjuru dunia manapun tak terkecuali Indonesia. Merobohkan dinding yang selama ini memisahkan perempuan dan kebebasannya. Mau perempuan, laki-laki, tidak kafir, bahkan kafir sekalipun, semua punya hak yang sama untuk menjadi seorang pemimpin.

Perempuan bukan hanya soal menjadi ibu rumah tangga seperti kata ustadz Felix Siauw. Lebih dari itu, perempuan juga harus mampu bersaing secara terbuka hingga membuat laki-laki mengakui kehebatan seorang perempuan.

Sungguh menyenangkan sekali ketika melihat Najwa Shihab senantiasa menghabisi sejumlah narasumber laki-laki dalam sebuah perbincangan. Menghabisi laki-laki dengan berondongan pertanyaan-pertanyaan yang tak jarang membuat narasumber mati kutu tak berdaya di hadapan perempuan secerdas Najwa.

Di ranah sepak bola, saya mengagumi pemain sepak bola perempuan bernama Louisa Necib. Ia adalah sosok pesepakbola yang digadang-gadang sebagai ‘Zinedine Zidane’ versi perempuan. Julukan itu diberikan bukan semata-mata Louisa Necib dan Zinedine Zidane berasal dari Prancis, tetapi merujuk pada permainannya di lapangan hijau. Rasanya tidak berlebihan menyematkan julukan itu kepada Louisa.

Selain hal teknis, yang saya kagumi dari Louisa dan pesepakbola perempuan lainnya adalah mereka seolah-olah menampar asumsi-asumsi usang tentang sepak bola. Mereka seperti meludahi anggapan bahwa sepak bola itu permainan keras dan kasar, dimana hanya kaum laki-laki lah yang berhak merayakan permainan ini.

Saya cukup lama hidup dan dibesarkan hanya oleh seorang perempuan. Ibu saya selama bertahun-tahun menjadi single parent bagi anaknya. Beliau selalu banting tulang dari pagi hingga petang hanya untuk menghidupi anaknya. Berperan menjadi ibu dan ayah secara bergantian. Saya juga berada di tengah-tengah keluarga besar yang didominasi oleh perempuan dengan kedigdayaannya masing-masing.

Mungkin atas dasar itulah kenapa saya selalu mengagumi perempuan-perempuan yang superior. Label yang selama ini selalu disematkan kepada laki-laki saja. Hal ini membuat saya akrab dengan yang namanya kesetaraan gender. Sebuah pemahaman yang tak semua orang mampu mengakuinya. Bahkan memilikinya saja tidak.

Sebagai contoh, belum lama ini, lagi-lagi sebuah acara kembali dipaksa undur diri. Lady Fast 2016 di ruang komunitas seni Survive Garage, Yogyakarta, dikebiri oleh aparat dan ormas yang menganggap acara ini berbahaya. Lady Fast sedianya adalah acara diskusi, sharing, dan sekadar kumpul membahas isu-isu tentang perempuan. Acara ini tak ubahnya panggung bagi perempuan untuk merayakan identitas mereka sebagai perempuan.

Tapi seperti biasanya, segerombolan massa ormas yang mengklaim paling paham agama datang beramai-ramai mengancam dan membubarkan paksa Lady Fast. Mereka melontarkan kesesatan acara tersebut. Mereka menganggap acara ini berbau komunis dan layak untuk dilarang.

Pada akhirnya, Lady Fast harus selesai lebih cepat dari jadwal, karena segala teror tentang kericuhan dan kekacauan akan menjadi nyata, jika acara tetap dilanjutkan. “Mbak, kamu maunya adu argumen atau debat? Kamu maunya apa? Kamu ini perempuan loh, gampang aku tonjok,” ujar seorang massa seraya menunjukkan tinjunya ke wajah peserta perempuan, seperti dilaporkan BBC.

Kejadian yang sejatinya tak perlu terjadi, jika aparat tak memihak dan berkawan dengan penebar ancaman kebebasan berekspresi ini. Celaka, sungguh celaka. Ketika perempuan mencoba merayakan dirinya justru terkekang. Saat para perempuan ingin memperjuangkan kesetaraan gender yang didapat hanyalah cibiran. Cibiran komunis pula.

Selain itu, ada pula cibiran berselimut dogma agama yang menuntut perempuan harus tunduk kepada laki-laki. Perempuan tak boleh macam-macam. ’Melayani’ laki-laki adalah kewajiban tanpa pernah ada kesempatan untuk ‘dilayani’.

Kesetaraan gender atau feminisme juga dipandang buruk oleh sebagian orang. Sebab, mereka tak ingin melihat perempuan ‘memberontak’. Merasa takut, kalau perempuan tidak lagi mendekam di dapur. Merasa risau, jika nanti tak ada lagi perempuan yang bisa diajak poligami.

Kalau begini, apakah kesetaraan gender bisa terwujud atau hanya isapan jempol belaka? Kapan perempuan bisa menggunakan hak-haknya secara utuh? Yang ada, perempuan selalu jadi korban sekaligus disudutkan. Misalnya, dalam kasus pemerkosaan, perempuan sering disalahkan karena dinilai memakai kostum yang mengundang nafsu birahi.

Memang benar, kemerdekaan adalah barang mewah yang sulit didapat oleh kaum perempuan. Tak seperti laki-laki yang seenak udel bebas untuk melakukan apa saja. Bahkan berbuat onar sekalipun. Ketidakadilan itulah yang rasanya patut dipertanyakan.

Memperjuangkan kemerdekaan perempuan bukan hanya milik perempuan. Semua orang yang mendambakan kebebasan dan kesetaraan harus ikut serta. Perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki. Harus dihargai dan dihormati, bukan lagi hanya sekadar jadi pemanis yang bisa dinikmati lalu dicampakkan begitu saja. Bukankah ibu anda seorang perempuan?