Mengkhidmati Frasa “Kutunggu Jandamu” dengan Khusyuk dan Benar

Mengkhidmati Frasa “Kutunggu Jandamu” dengan Khusyuk dan Benar

Ilustrasi (harddayco.com)

Saya pikir bukan sembarang laki-laki yang benar-benar mau menunggu perempuan yang dikaguminya, meski perempuan itu malah memutuskan untuk menikah atau dipaksa menikah dengan orang lain.

Tapi nasib manusia siapa yang tahu, jalan takdir malah membuat si perempuan berpisah dengan suaminya, hingga menyandang status yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut sebagai janda.

Tapi ternyata, laki-laki yang ditinggal menikah itu masih menunggu di situ, tidak kemana-mana, mengkhidmati frasa “Kutunggu Jandamu” dengan khusyuk.

Dan, seharusnya frasa “Kutunggu Jandamu” bukan lagi menjadi semboyan yang main-main, frasa yang kerapidentik dengan lelucon dan seolah lepas dari kesan serius, sudah semestinya mengalami redefinisi dan ameliorasi.

Boleh ya, mas Ivan Lanin, jika saya mengartikan frasa yang dijadikan judul lagu oleh Irwansyah ini sebagai sebentuk kesetiaan menunggu orang yang kita kagumi, tapi tak bisa kita miliki. Waiting people we can’t have, kalau istilah yang sering dipakai penulis kesayangan kita, Arman Dhani.

Tapi sekali lagi, perkara tunggu-menunggu semacam ini hanya bisa dilakukan oleh laki-laki dengan mahabbah level makrifat. Oh ya jelas, tentu tidak bisa disamakan dengan pria yang ngedumel gak keruan, karena nunggu pasangannya kelamaaan make up.

Sekali lagi, coba anda bayangkan wahai teman-teman yang budiman, jenis lelaki ini rela mempertaruhkan masa depannya demi perempuan yang dicintainya dengan risiko menjadi jomblo karatan. Kurang apa coba?

Ya terkecuali, jika ia laki-laki jomblo yang hampir kedaluwarsa dan mencari seorang pacar hampir menjadi sebuah kemustahilan. Itu cerita lain.

Lelaki jenis ini tentunya sudah siap dengan segala konsekuensi dan tahu apa yang akan dihadapi ketika memutuskan untuk menunggu perempuan yang dicintainya.

Diakui atau tidak, status yang disandang oleh seorang wanita pasca bercerai dengan bekas suaminya ini memang sulit. Kita tahu bagaiamana cibiran dan kasak-kusuk tetangga sebelah, apalagi jika si perempuan masih muda dan ‘berbahaya’.

Stigma di tengah masyarakat kita masih menganggap sebelah mata status perempuan yang sudah pernah kawin, lalu bercerai. Dalam situasi terburuk, orang-orang bahkan menganggap perempuan tersebut mudah digoda seenaknya.

Tapi, saya tekankan, hal ini cuma akan dilakukan oleh laki-laki dan orang-orang yang punya lingkar otak minimalis.

Menjadi janda berarti hilangnya status keperawanan yang dalam masyarakat kita menjadi suatu hal yang paling dijunjung dalam diri seorang perempuan.

Kita tidak lupa bagaiamana negara yang kita cintai ini suatu ketika hampir saja berlaku diskriminatif dengan mencoba memberlakukan peraturan tes keperawanan sebagai syarat masuk ke instansi-instansi tertentu. Seolah-olah keperawanan adalah syarat utama kelulusan, persetan mereka pintar atau berbakat.

Mereka seolah menilai bahwa perempuan yang sudah tidak perawan sudah pasti perempuan-perempuan yang memiliki masa lalu kelam. Mereka abai bahwa bisa saja seorang hilang keperawanannya oleh sebab kekerasan oleh orang lain, atau mungkin karena kecelakaan.

Lagipula, sekalipun ia memang memiliki masa lalu buruk, kita tidak  punya hak sedikitpun menilai seseorang dari masa lalunya, jika ia berkomitmen menjadi perempuan yang lebih baik. Seperti kamu…

Ini perkara berat, tapi tidak berarti apapun bagi laki-laki yang baik. Yang memandang wanita tak melulu soal perkara selaput dara yang robek dan sudah berapa anak yang ia miliki dari hubungan dengan suami sebelumnya.

Bukankah seharusnya cinta menabrak sekat apapun? Tidak peduli perempuan pujaannya itu janda atau perawan? Aiihh…

Suatu ketika, seorang teman lelaki saya bercerita tentang perempuan yang ditungggunya. Perempuan yang dulu dicintainya tapi memutuskan untuk menikah dengan orang lain sebelum kematian membuat si perempuan berpisah dengan suaminya.

Dalam proses ‘rujuk’ itu mereka terlibat obrolan serius. Hingga akhirnya si perempuan bilang, “Apa kamu yakin masih mau menunggu seseorang yang sudah tidak perawan lagi seperti aku?”

Buat perempuan, plis, jangan coba-coba lagi merendahkan diri dengan pertanyaan semacam itu. Pertanyaan semacam itu hanya akan meletakkan posisimu di bagian terendah dalam strata sosial sekaligus membuat lelaki merasa superior.

Jika seorang lelaki tak bisa menerima kondisi kamu, berarti ia bukan laki-laki yang pantas untuk kamu. Laki-laki yang baik dan mencintaimu tidak akan pernah mau tahu itu. Ia akan menerima apapun kondisinya, termasuk apa agamamu, eh?