Kurang Ngepop Gimana Lagi Kita?

Kurang Ngepop Gimana Lagi Kita?

matatimoer.or.id

Sebagai anak muda tanggung – karena menolak tua – saya cukup senang pemerintah akhirnya melek industri kreatif. Adanya Badan Ekonomi Kreatif yang digawangi bokapnya Sherina, Triawan Munaf, menjadi angin segar buat anak-anak muda. Semoga saja bukan angin mamiri yang datang dan pergi sesuka hati.

Nyatanya sekarang makin banyak orang yang peduli nasib industri kreatif, yang (akhirnya) secara massif membentuk budaya baru, budaya populer atau pop culture. Nggak percaya?

Bisa dilihat betapa besarnya dukungan fans JKT48 buat para idolanya. Bahkan nggak sedikit dari mereka rela perang di media sosial demi membela idolanya, bukan bela negara atau Bella Sofie yang semohay. Maafkan kami pak Ryamizard, orangnya emang gitu.

Lalu, negara mana yang warganya paling rame ribut di media sosial? Malaikat juga tahu Indonesia juaranya. Jadi kurang ngepop gimana lagi kita?

Sebagai salah satu negara yang berkembang terus nggak maju-maju, nggak ada salahnya kalau menularkan budaya baru yang populer di Indonesia. Biar nge-blend, kalau kata adek-adek mahasiswa. Akulturasi budaya, kalau kata bapak dosen saya dulu.

Hingar bingar itu kemudian berlanjut dengan maraknya event budaya pop di Tanah Air. Baru-baru ini diadakan semacam selebrasi budaya pop kelas dunia di Jakarta. Acara itu menjadi ajang pamer berbagai konten, kegiatan, dan barang koleksi bertema budaya pop.

Para kolektor mainan, fans berat AniManga, pecandu film, dan penikmat seni populer dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Jepang, Italia, dan Amerika Serikat dengan bangga menunjukkan kemewahan budaya pop.

Raksasa-raksasa industri budaya pop juga hadir, seperti Sanrio, Piero, Re:On, Glitch, Funko, dan Royal Selangor. Tak lupa puluhan brand produk baru diperkenalkan, mulai dari Funko Pop melalui koleksi Vinyl seri Star Wars terbaru, proyek terkini dari Caravan Studios, Glitch Network, hingga miniatur tanah liat dari seniman lokal Bloembot.

Bagaimana? Roaming ngedengernya? Mungkin anda terlalu banyak dicekoki budaya tradisional. Sekarang itu orang lebih tahu ikon-ikon budaya pop. Vicious Summoner dari Dekaron, kenal? Prime Evil dari Diablo III?

Baiklah. Kalau Gatot Kaca? Gundala Putra Petir? Satria Garuda Bima-X? Nah, kalau yang ini pasti tahu. Nggak sopan betul kalau ikon pop negeri sendiri nggak tahu. Atau mereka yang kurang ngepop ya? Ah sudahlah, anggap aja paling ngepop.

Yang pasti, bagi para pelaku budaya pop, event itu peluang supaya bisa go international. Buat penyelenggara, ini bisa jadi penyambung banyak hal, nyambungin budaya, kreativitas, dan tentu duit. Sedangkan buat yang baru tahu, ya ikut nimbrung aja biar kekinian kayak anak sekarang.

Dalam event seperti itu, (pasti) ada saja orang yang menanti idolanya, apalagi dari luar negeri. Namanya juga fans, kalau sudah ketemu, langsung salaman, selfie, dan minta tanda tangan di salah satu merchandise. Pasti panen love and like kalau di-upload di medsos.

Khusus orang yang baru tahu, mungkin ini terasa lebay. Tapi buat para die hard, lain ceritanya. Ini mungkin seperti menjalankan ritual ibadah haji. Salah satu rukun budaya pop. Belum lengkap rasanya, jika cuma koleksi merchandise doang.

Soal duit? Nggak jadi masalah sob. Harga yang tadinya dianggap irasional jadi rasional. Karena budaya pop, maka aku ada. Terima kasih kepada mbah Descartes, filsuf pelopor dan tokoh rasionalisme. Semuanya jadi rasional di budaya pop!

Tapi bukan Indonesia, kalau tidak ada pemburu rente. Saat para die hard bersusah payah menunggu idolanya, ada saja calo yang menawarkan harga berkali-kali lipat.

Saya sempat tanya kepada seorang teman yang hobi banget sama budaya Jepang-jepangan sampai Marvel-marvelan. Ia merasa itu tidak adil dan mencoreng nama Indonesia di mata ikon budaya pop dari negara lain.

“Sebegitu pentingnya kah?” tanya saya. Ia pun menjawab, “Banget!” Katanya itu bikin artis (seniman) luar jadi ilang feeling. Masa tanda tangannya dicaloin dengan harga dua kali lipat. Kurang ajar betul, masa artis paling ngepop dicaloin? Nggak bagi-bagi lagi.

Sebenarnya bukan budaya pop yang salah, tapi ini soal etika. Etika mengerti budaya kita dan negara tetangga. Etika menghargai sebuah karya. Kalau sudah paham, mau jadi negara ngepop, ngerock, atau ngeblues, ya asyik-asyik saja.