Cerita Kupu-kupu untuk Afi, Para Perisak, dan Penyanjungnya

Cerita Kupu-kupu untuk Afi, Para Perisak, dan Penyanjungnya

Ilustrasi (arrebatadosmag.com.br)

“Lihat! Ada kupu-kupu yang mau keluar dari kepompong!”

“Mana, mana?”

“Itu!”

Seketika para pengunjung Taman Media Sosial berkumpul mengerubungi kepompong itu. Melalui lubang kecil pada kepompong, mereka berusaha mengintip proses yang sedang terjadi di dalam sana. Tampak calon kupu-kupu sedang menggeliat berusaha keluar dari dalam kepompong.

Semakin lama, semakin banyak pengunjung yang berdesakan di sekeliling kepompong. Suara mereka riuh rendah. Mereka berkomentar, memuji, mendiskusikan, tapi ada juga yang merisak bahkan mencaci-maki.

Satu-dua orang tak segan memegang-megang si kepompong. Ada yang memang takjub, ada yang ingin membinasakan, ada juga yang sekadar ingin tahu.

“Kelihatannya kupu-kupu ini terjebak dalam kepompongnya sendiri,” komentar seorang pengunjung.

“Iya. Sudah saatnya kupu-kupu ini terbang. Ayo kita bantu dia keluar dari situ,” tanggap pengunjung yang lain.

Sesaat kemudian sekelompok pengunjung mencabut kepompong dari dahan, menjauhkannya dari daun yang menaungi. Dengan emosi yang bercampur, mereka meletakkan kepompong tersebut di atas paving block Taman Media Sosial.

Dengan tidak hati-hati, mereka membedahnya. Kepompong pun koyak. Tanpa banyak upaya, kupu-kupu di dalamnya dapat keluar dan melihat dunia. Para pengunjung bersorak-sorai.

Tetapi…

“Kupu-kupu ini kok nggak mau terbang?” tanya seorang pengunjung.

“Iya. Kenapa dia merayap-rayap doang?” sambung pengunjung lain sambil bertolak pinggang.

Kupu-kupu yang baru bersua dengan cahaya itu melata-lata di atas paving block. Ia tampak bingung dan hilang arah. Sepasang sayapnya tidak berfungsi, justru menjadi beban ketika ia menyeret tubuhnya sendiri.

“Jangan-jangan ini bukan kupu-kupu!” duga seorang pengunjung.

“Ya! Ini cuma ulat yang pura-pura menjadi kupu-kupu!” tuding pengunjung lainnya.

“Jangan asal tuduh! Ini jelas-jelas kupu-kupu!” sangkal seorang pengunjung yang lainnya lagi.

Taman Media Sosial kembali riuh rendah. Para pengunjung ribut sendiri. Berbagai spekulasi bergulung-gulung, lalu tumbuh secepat bayi alien. Mereka liar menyambar ke mana-mana dan tak jarang dikait-kaitkan dengan berbagai kepentingan.

Kemudian, terjadi perdebatan dan pertengkaran yang keruh. Kupu-kupu yang tidak terbang itu dianggap sebagai akar permasalahan.

Sementara si kupu-kupu yang kecil dan rapuh tampak berada dalam bahaya. Ia tergeletak di jalan terlalu jauh dari mata dan kepala manusia. Kaki-kaki yang berderap-derap di sekitarnya membuatnya dapat terinjak kapan saja. Bisa karena sengaja, bisa juga tidak.

Gerakan kupu-kupu tampak tidak terarah. Ia tak bisa pulang pada kepompongnya yang sudah terburai. Dunia memaksanya menjadi penyintas yang tangguh, tapi sudah sanggupkah dia?

***

Di media sosial, ‘kupu-kupu’ tersebut populer sebagai Afi Nihaya Faradisa. Bagi saya, ia menarik karena pilihan minatnya yang anti-mainstream untuk anak sebayanya. Kami berteman di Facebook, tapi saya tidak terlalu banyak mengomentari berbagai postingan-nya.

Sejauh pengamatan, Afi tetap remaja dengan gejolak-gejolaknya. Saya memilih menyimpan dulu segala penilaian tentang gadis 18 tahun ini, karena ia masih terus berkembang.

Saya melihatnya sebagai manusia yang utuh dan wajar. Itu sebabnya saya menghormati ruang dan waktu yang ia butuhkan untuk berproses.

Sejak awal, bagi saya, Afi seperti calon kupu-kupu dalam kepompong. Ia perlu menjalankan metamorfosa secara sempurna. Meski butuh waktu yang tidak instan, kupu-kupu harus dibiarkan berjuang keluar menembus kepompongnya sendiri, tanpa campur tangan siapa-siapa.

Sebab, ketika kupu-kupu berusaha sendiri, ada cairan yang mengalir ke seluruh tubuh dan menguatkan sayapnya. Jika sudah waktunya, kupu-kupu itu akan merangkak keluar dari kepompong.

Pada dahan dan daun tempat kepompongnya melekat, ia akan bergelantungan mengeringkan sayapnya. Setelah sayapnya betul-betul kering, ia akan mengepak beberapa kali untuk memastikan sayapnya sudah cukup kuat. Baru setelah itu, ia betul-betul siap untuk terbang.

Tapi, jika Afi memang seperti kupu-kupu, saya khawatir ada beberapa proses yang terlompati. Media sosial adalah rimba raya yang tak terkendali. Puji maupun cercaan yang berlebihan sama-sama menjadi ancaman bagi kelangsungan metamorfosa.

Mereka mendesak Afi segera keluar dari kepompongnya hingga ia terancam lahir sebagai kupu-kupu kecil yang prematur. Kemudian, dunia yang ia jumpai berpotensi menyerangnya dengan sangat serius.

Kisruh plagiat yang menghantamnya beberapa waktu lalu sempat membuat saya khawatir. Tapi ternyata, Afi memiliki ketangguhan yang bahkan jauh lebih kuat daripada yang saya kira.

Kendati begitu, menurut saya, segala hal yang terkait dengan ‘kupu-kupu kecil’ ini perlu ditinjau dari segala sisi dan ditanggapi dengan tidak gegabah. Saya tidak berusaha membenarkan atau menyalahkan Afi. Sekadar mengingatkan bahwa ia perlu dihadapi dengan cara yang proporsional.

Baiklah. Sekarang, mari kita kembali ke Taman Media Sosial.

Si kupu-kupu kecil tidak takut pada dunia. Ia juga tidak terinjak, karena mampu menghindari kaki-kaki yang berderap. Lahir prematur tak membuatnya merasa gagal menjadi kupu-kupu. Ia bahkan berusaha membuat sayap-sayapnya berfungsi seperti rekan-rekannya yang lain.

Cerita kupu-kupu ini masih terus bergulir. Saya berdoa agar kelanjutannya baik bagi semua pihak. Saya percaya kupu-kupu kecil yang sedang menjadi penyintas di Taman Media Sosial ini selalu mempunyai harapan. Sebab, di luar segala hal yang tidak nyata, ia menyandang nama ‘Asa’. Asa Firda Inayah alias Afi.

Si kupu-kupu kecil pasti mampu menjaga diri. Tapi saat kamu melangkah di Taman Media Sosial, tetap perhatikan langkahmu!