Kupi Kocok Legendaris di Kampung Eks Kombatan GAM

Kupi Kocok Legendaris di Kampung Eks Kombatan GAM

Kupi kocok dan roti selai (Alfath Asmunda)

Selepas Isya, jalanan di kampung itu kembali ramai. Satu dua kendaraan warga tampak lalu-lalang keluar masuk kampung. Bulan menggantung di langit, sinar terangnya tumpah ke hamparan sawah yang telah menguning. Tanda sebentar lagi bisa dipanen.

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara orang mengaji. Semakin jelas terdengar lantunan ayat suci tersebut ketika kami sampai ke tengah kampung. Nama kampung itu, Cot Keueng.

Saya bersama tiga orang teman melintasi jalanan aspal yang diapit persawahan. Suasananya tampak tenang, syahdu. Cot Keueng yang terletak di Aceh Besar tak lagi seseram dulu.

Semasa konflik masih berkecamuk di Aceh, masuk ke kampung Cot Keueng bikin bulu kuduk merinding. Betapa tidak, di sinilah markas pertahanan Kapolda Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Marhaban Usman alias Tgk Abang.

Ketika itu, Cot Keueng memang ditandai sebagai kampung basis GAM. Dari seorang teman, saya pernah mendengar cerita konflik yang turut mendera penduduk di kampung ini. Namanya Rahmad Saputra, ia adalah teman satu kampus saya yang berasal dari Cot Keueng.

“Dulu kalau masuk ke Cot Keueng, tidak bisa sembarangan. Salah-salah bisa hilang nyawa,” tutur dia.

Rahmad menceritakan bahwa di ujung kampung terdapat perbukitan yang dulu oleh Kapolda GAM Tgk Abang beserta ratusan anak buahnya dijadikan sebagai markas.

Dari kejauhan, perbukitan itu terlihat saling bersambung dengan Lembah Seulawah. Semak-semak di sana terkenal sangat lebat. Basis pertahanan gerilyawan GAM tersebut susah ditembus oleh pasukan militer Indonesia.

Seperti di daerah Aceh lainnya, pos-pos militer Indonesia pun berdiri untuk menjaga kampung dan memburu pasukan GAM. Di seputaran kampung Cot Keueng saat itu berdiri tiga pos militer. Yang paling terkenal dan sangat ditakuti oleh masyarakat adalah pos milik pasukan Raider.

Pos mereka didirikan di bangunan kantor desa yang saat itu di sampingnya juga terdapat meunasah (mushola) warga. “Mereka garang. Kalau kita salah ngomong aja langsung ditempeleng,” kenang teman saya itu.

Orang tua Rahmad pernah menjadi korbannya. Walaupun saat itu ia masih duduk di bangku SD, kejadian yang menimpa orang tuanya tersebut hingga kini masih dalam ingatannya. Kisah pahit itu terjadi pada pagi hari, ketika belasan serdadu Indonesia berpatroli turun ke kampung.

“Mereka masuk ke rumah dan bertanya pernah melihat orang GAM lewat di kampung sini, nggak? Ibuku, karena takut, langsung menjawab tidak pernah. Itu jawaban aman biar tidak panjang diinterogasi tentara. Tapi ayah, karena ingin berkata jujur, menjawab ada. Karena dianggap tidak kompak jawabannya, ayahku kena tempeleng di hadapan kami,” kenangnya.

Ilustrasi patroli TNI pada masa konflik di Aceh (xlaceh.wordpress.com)

Kampung Cot Keueng memang sering didatangi oleh anggota GAM. Jawaban ayah teman saya tersebut tak salah. Sebagian pasukan GAM yang bergerilya di perbukitan Cot Keueng memang asli orang setempat. Bahkan Tgk Abang, kapolda GAM yang menjadi pimpinan gerilyawan di wilayah ini, juga asalnya dari Cot Keueng. Selain Tgk Abang, ada lagi petinggi GAM yang berasal dari Cot Keueng. Dia adalah Tgk Muchsalmina yang bernama asli Irwansyah.

Letak geografis kampung Cot Keueng yang dekat dengan perbukitan memang menjadi jalur keluar masuknya anggota GAM di Aceh Besar. Mereka sering pulang ke rumah untuk sekadar melepas rindu dengan keluarga atau turun gunung mengumpulkan perbekalan makanan.

Warga di Cot Keueng juga sering mendapat intimidasi dari kedua pihak yang saat itu bertikai. Mereka kerap mendapat perlakuan semena-mena yang sering dilakukan oleh pihak militer Indonesia maupun GAM sendiri. Kadang-kadang, hal tersebut terjadi karena persoalan sepele. Di mana pun memang, perang selalu buta melihat mana kombatan, mana non-kombatan, bukan?

Namun, sejak perjanjian damai disepakati tahun 2005, wajah Cot Keueng telah berubah. Warga di sana yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani, kini mulai nyaman kembali turun mengelola sawah, kebun, dan mengembala hewan peliharaannya ke padang rumput sekitar perbukitan kampung. Tidak was-was lagi seperti masa konflik dulu.

Mari kita tinggalkan cerita perang yang sudah berakhir damai itu. Ada hal lain yang ingin saya ceritakan dari kampung Cot Keueng. Cerita tersebut adalah tentang kopi yang dicampur dengan telur ayam kampung. Kopi tersebut bernama kupi kocok.

Malam itu bersama tiga orang teman, saya pergi ke Cot Keueng untuk menyambangi warung kopi milik Muhammad Hanafiah. Letaknya terhimpit oleh bangunan toko-toko tua yang berdiri di kampung itu. Di dalam warung, terdapat meja kayu lengkap dengan kursi plastik. Ketika kami masuk tampak beberapa pelanggan kupi kocok sedang larut menikmati kopinya.

Di warung ini jangan berharap ada pendingin ruangan. Hanya ada sebuah kipas angin kecil dan itupun terletak di meja kasir. Saya berbisik ke seorang teman, “Kelihatan warungnya sudah tua, itu buktinya,” kata saya sambil menunjuk ke kipas angin yang dipenuhi abu. Mungkin kipas angin itu sudah puluhan tahun tidak dibersihkan. “Benar-benar rebel ini warung,” tambah saya. Kami pun tertawa pelan.

Tak lama kemudian, seorang bapak bertubuh gempal menghampiri meja. Dialah Muhammad Hanafiah, sang pemilik warung. Saya langsung memesan empat gelas kupi kocok yang legendaris itu.

Di Cot Keueng, laki-laki yang membuka warung kopi sejak tahun 1987 (sudah 30 tahun) itu sering di sapa Ngoh Nafiah. Dalam bahasa Indonesia, ngoh bisa diartikan paman. Kepala Ngoh Nafiah plontos. Tak nampak satu rambut pun tumbuh di kepalanya. Gigi-giginya juga mulai tampak ompong. Kalau berbicara, cuma gigi taringnya saja yang tampak. Namun, dia sangat ramah.

Saya memperhatikan Ngoh Nafiah membuat kupi kocok. Kelihatannya lumayan gampang. Telur ayam kampung dipecah dan dipisahkan antara putih dan kuningnya. Lalu kuning telur diambil menjadi bahan kupi kocok.

Sebelum teknologi mixer mampu dibeli oleh Ngoh Nafiah, mengocok kuning telur membutuhkan tenaga tangan. Sekarang mixer menjadi andalannya. Saya menduga kuat, karena cara penyajiaannya yang dikocok terlebih dahulu, dari sinilah sebutan untuk jenis sajian kopi ini bermula.

Selesai kuning telur dikocok halus, kemudian dicampur dengan kopi saring. Turut pula ditambahkan sedikit susu kental manis. Ajaib, bau amis telur hilang seketika. “Kiban, pue payah ta pueduk kue meudua krek (Bagaimana, apa kita letakkan kue dua potong)?” Ia berbasa-basi sembari meletakkan kupi kocok pesanan kami di atas meja. “Juet Ngoh (Boleh paman),” jawab saya.

Kupi kocok (Alfath Asmunda )
Kupi kocok (Alfath Asmunda )

Dia berlalu pergi ke belakang warung. Ternyata, tepat di belakang warungnya, ada penjual roti sele (selai) Samahani. Roti yang satu ini sudah begitu terkenal di Aceh. Teksturnya seperti roti tawar. Bentuknya lonjong memanjang. Di dalam roti terdapat selai berwarna kuning telur.

Saat mendarat di mulut, roti ini terasa lembut dan manis. Tidak berlebihan kalau disebut sebagai teman yang tepat untuk menyeruput segelas kupi kocok.

Secangkir kupi kocok Ngoh Nafiah harganya cuma Rp 6.000. Jelas tidak membuat dompet menjerit. Dan, sepiring roti sele Samahani yang disuguhkan untuk teman menyeruput kopi cuma dibanderol Rp 8.000.

Duduk di warung Ngoh Nafiah membuat saya bahagia. Seolah menemukan suasana kampung yang kental. Melihat wajah-wajah khas orang Aceh. Dengan bentuk tulang pipi yang menonjol, hidung mancung, dan kulit wajah yang tampak legam karena terpapar sinar matahari, menyiratkan mereka jiwa-jiwa yang bekerja keras.

Orang-orang tua yang duduk di warung kebanyakan memakai sarung dan mengenakan peci di kepalanya. Ditemani secangkir kupi kocok, mereka mengobrol hal remeh-temeh tentang keseharian yang baru dilalui. Sesekali obrolan mereka dibumbui dengan kelakar dalam bahasa Aceh. Kadang juga menyerempet politik.

Meunyoe lon, soe mantong jeut meunang. Nyang peunteng nanggroe nyoe bek karu-karu leh lagee masa konflik (Kalau saya, siapa saja boleh menang. Yang penting negeri (Aceh) ini jangan ribut-ribut lagi seperti masa konflik),” kata seorang bapak kepada teman semejanya.

Mereka sedang larut membicarakan isi koran lokal yang menurunkan liputan tentang Pilkada yang baru saja berlangsung di Aceh. Dari enam kandidat yang maju dalam Pilkada Aceh 2017, ada dua kandidat yang saling bersaing pada hitungan cepat. Keduanya bekas pentolan GAM yang terjun ke dunia politik.

Senyum mengembang di bibir saya ketika mendengar ucapan bapak itu. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya juga menaruh harapan yang sama. Saya sudah menemukan cinta di segelas kupi kocok racikan Ngoh Nafiah. Jelas, saya tidak ingin kebahagiaan itu dirusak oleh sesuatu yang jahat bernama konflik. Apapun alasannya…

  • izy_moviehunter

    oke, mukodimahnya bikin salah fokus ya, jadi tertarik sama cerita kampung itu lebih lanjut hehehehe