Kumpul-kumpul Seniman Bandung: Bertelanjang Dada, Cerita, dan Petisi

Kumpul-kumpul Seniman Bandung: Bertelanjang Dada, Cerita, dan Petisi

craftincraft.com

Apa yang anda dengar tentang Jawa Barat? Apakah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar? Wisata alam yang eksotis? Budaya dan gaya hidup? Atau, sepak bolanya? Atau jangan-jangan… Pesona gadis-gadisnya yang geulis pisan, yang bisa bikin kaum jomblo bahagia?

Kalau mendengar sekilas, Jawa Barat memang demikian. Tapi, jangan lupa, ada fakta lain yang justru menjadi sebuah ironi. Tahun lalu, data BPS menunjukkan, Jabar adalah provinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak. Kalau banyak yang miskin, pasti kurang bahagia, bukan? Ya betul. Dari data terakhir BPS terungkap, indeks kebahagiaan masyarakat Jabar di bawah rata-rata orang Indonesia.

Lalu soal budaya. Dalam tiga tahun terakhir, kebudayaan di Jabar merosot. Gedung kesenian ambruk. Padahal, wakil gubernurnya kang Deddy Mizwar termasuk salah satu aktor dan seniman tersohor. Tapi rajin betul muncul di iklan-iklan. Mungkin itu yang dibilang seni iklan atau iklan seni atau apa-apalah itu.

Kalangan seniman terutama di Bandung heran tiba-tiba di Jabar ada penampakan makhluk bernama DKJB alias Dewan Kebudayaan Jawa Barat. Ketuanya mantan rektor Universitas Padjadjaran (Unpad), Ganjar Kurnia. Ternyata DKJB sudah berdiri selama tiga tahun. Selama itu pula kebudayaan di Jabar malah merosot.

Berawal dari kasus robohnya bangunan belakang dan panggung di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) di Jl Naripan 1, Bandung. Terkait itu, pernyataan seorang anggota DKJB, Yus Ruslan Ahmad, juga aneh. Ia bilang kalau Gedung YPK harus segera dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru. Tentu saja itu bikin para seniman geram.

Gedung YPK itu adalah salah satu Bangunan Cagar Budaya (BCB) dari 637 BCB di Kota Bandung. Gedung ini bahkan masuk kategori A dari 100 BCB yang terlampir dalam Perda Kota Bandung No 19 Tahun 2009. Pada UU No 5 Tahun 1992 yang direvisi menjadi UU No 11 Tahun 2010 juga disebutkan, renovasi BCB kategori A tidak boleh mengubah bentuk bangunan, material yang digunakan harus sesuai dengan material asalnya, dan lain-lain.

Gedung YPK (merdeka.com)
Gedung YPK (merdeka.com)

Dan sekarang, di mata Yus Ruslan, bangunan bersejarah panjang para seniman di Indonesia itu hanya gedung kemubaziran yang dilindungi aturan. Tidak ada satu pun jenis pertunjukan budaya level Asia, apalagi dunia, yang layak ditampilkan di YPK bila kondisinya seperti saat ini. Padahal, Kota Bandung adalah ibukota Asia-Afrika.

“Jadi, saya keukeuh pada pendirian saya, apa guna meng-heritage gedung tua yang mubazir di tengah kota, padahal di lokasi yang sama bisa dibangun sebuah ikon baru, gedung yg representatif bagi pertukaran misi budaya Asia Afrika selain di Gedung Merdeka,” tutur Yus.

Yus Ruslan yang dipanggil Ogut oleh seniman Bandung ini juga bilang, “Gedung YPK yang baru harus didesain sedemikian rupa, sehingga para seniman dan budayawan domestik maupun mancanegara betah berlama-lama berkolaborasi bikin kreasi, inovasi, dan menjadi tren baru seni budaya di dunia.”

Bagi kami, Yus tidak paham. Sebagai BCB kategori A, Gedung YPK menyimpan sejarah panjang yang tak bisa dianggap sepele. Tak bisa merobohkan begitu saja, lalu bangun yang baru, yang lebih keren. YPK ikut melahirkan seniman terkemuka seperti komedian Bing Slamet, sinden Upit Sarimanah, dalang kakak-beradik Ade Kosasih Sunarya dan Asep Sunandar Sunarya, hingga salah satu kelompok teater tertua di Indonesia, Studi Teater Bandung.

Awalnya, Gedung YPK bernama Villa Evangeline. Tahun 1904, gedung ini digunakan sebagai kantor badan hukum NV Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften “Medan Prijaji”. Badan hukum yang dibuat oleh RM Tirto Adhi Soerjo (1878-1918), tokoh pers Indonesia yang menerbitkan koran Medan Prijaji.

Medan Prijaji adalah surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di Bandung pada Januari 1907 hingga Januari 1912. Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama, karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia). Seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan, dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

Pada zaman Belanda, Gedung YPK digunakan untuk societet (Balai Pertemuan) yang dinamakan Ons Genoegen. Tempat itu biasanya dipakai untuk main biliar, catur, main kartu, serta ajang menonton hiburan yang biasanya berupa orkes kecil-kecilan. Pada 1930-an, para tokoh politik nasional seperti Bung Karno dan kawan-kawannya sering mengadakan vergadering (sidang) di gedung ini.

Aksi seniman Bandung di Gedung YPK (Matdon)
Aksi seniman Bandung di Gedung YPK (Matdon)

Nah, DKJB seolah tidak menghormati salah satu peninggalan sejarah budaya bangsa ini. DKJB seperti makhluk ‘halus’ di Jawa Barat, yang keberadaannya sangat ‘sunyi’. DKJB ternyata diciptakan oleh Wakil Gubernur Jabar, Deddy Mizwar. Ketua dan para anggotanya bahkan dari kalangan intelektual dan seniman, di antaranya Ganjar Kurnia, Miranda Risang Ayu, Yesmil Anwar, Yayat Hendayana, Arthur S Nalan, Aat Suratin, Dede Mariana, Sultan Arief, dan kawan-kawan.

Ini yang mendorong kalangan seniman Bandung menggagas “Gerakan Kebudayaan Naripan II”. Pada 17 Juli 2016, sebagian seniman berkumpul sambil bertelanjang dada dan berunjuk rasa di depan Gedung YPK. Gerakan Kebudayaan Naripan pertama kali terjadi pada 20 tahun yang lalu. Ketika itu, YPK diduduki oleh para seniman selama hampir 3 bulan, karena gedung YPK akan dibangun rumah makan oleh PD Kerta Wisata.

Dalam “Gerakan Kebudayaan Naripan II” kali ini, para seniman mengeluarkan sebuah petisi. Selain mendesak pembubaran DKJB, seniman juga meminta Deddy Mizwar mundur dari jabatan wakil gubernur Jawa Barat. Meski begitu, para seniman sangat terbuka, bila diadakan dialog melalui sebuah forum resmi bersama gubernur dan wakil gubernur, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, serta Dewan Kebudayaan Jawa Barat (DKJB).

Para seniman ingin meminta pertanggungjawaban DKJB atas kinerjanya selama 3 tahun, terutama soal strategi kebudayaan di Jawa Barat. Jika gubernur dan wagub, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta DKJB tidak merespon petisi, maka desakan mundur untuk Deddy Mizwar dan pembubaran DKJB tak bisa ditawar lagi.

  • Dahayu Citrani

    Ngenes gini bacanya… sedih kalo seni tapi ‘kayaknya’ ada unsur2 politiknya gitu…