Kulkas, Mesin Pembuang Cinta di Rumah Saya

Kulkas, Mesin Pembuang Cinta di Rumah Saya

telegraph.co.uk

Awal pekan ini, saya sempat berencana mengawali memasak dengan memasak. Saya tidak belanja lebih dulu, sebab masih ada stok bahan makanan di kulkas. Rumah saya jauh dari pasar, bahan untuk memasak bisa dibeli dari tukang sayur yang setiap hari lewat depan rumah.

Tapi tidak setiap hari saya belanja. Lebih sering berbelanja untuk keperluan tiga hingga empat hari sekaligus, dan menyimpannya di kulkas. Untuk bahan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai, biasanya dibeli sekali untuk satu minggu atau lebih sedikit. Tukang sayur menjual eceran per bungkus seperempat kiloan.

Orang Indonesia tidak bisa hidup tanpa tiga bahan bumbu itu. Sebutannya saja bumbu dasar. Orang lain boleh melongo keheranan pada kisah pertengahan tahun lalu, ketika harga cabai mampu mendongkrak inflasi. Pelaku usaha pun tidak habis pikir soal itu. Begitu pentingnya tiga bumbu dasar untuk dapur-dapur rumah keluarga Indonesia, sampai-sampai bank sentral nyaris selalu mewaspadai pegerakan harga bawang dan cabai.

Semoga dalam mewaspadai itu mereka paham bahwa kami para penguasa dapur ini biasa-biasa saja dalam menakar bawang dan cabai untuk bumbu atau sambal. Kami tidak pernah ugal-ugalan. Jika harus menimbun, paling-paling juga hanya untuk seminggu. Karena lebih dari seminggu di kulkas, cabai sudah tidak bagus lagi.

Itu soal bumbu dasar. Nah kalau soal belanjaan lain, selain membeli stok untuk tiga sampai empat hari, saya sering kepincut pada lebih banyak bahan-bahan masakan. Alhasil nekat membeli, meskipun tak akan memasaknya hari itu juga.

Senin pagi, sebelum memasak, saya memilih bahan yang ada di kulkas. Ya Tuhan, ternyata ada stok tempe, tahu, dan ikan yang entah kapan saya membelinya. Tapi tidak perlu repot mengingatnya, yang jelas tahu dan tempe sudah rusak. Kemudian saya tidak yakin lagi akan memasak ikannya.

Di dalam kulkas juga ada bayam, kangkung, tomat, dan sawi. Sebagian tomat beranjak busuk. Saya masukkan ke dalam plastik bersama tahu, tempe, dan ikan yang siap buang. Daun bayam yang kusam dan sebagian mulai mengering juga menyusul masuk ke plastik siap buang.

Tapi saat meletakkannya di tempat sampah, kepala saya seperti ditoyor oleh, entah tangan siapa. Tiba-tiba ada yang tanya, “Kamu sering ya begitu? Berapa banyak, berapa sering? Kamu ndak tahu ya, petani yang nanam sayur-mayur di tempat sampahmu itu keringetan, lho?” Dengkul saya lemas.

Tentunya bukan hanya keringat petani dan nelayan yang tidak saya hargai. Untuk menanam, petani butuh lahan. Harga lahan sekarang mahal, petani kita hanya punya sedikit. Itu pun masih banyak yang digusur-gusur. Lalu butuh air. Sayur mayur, termasuk tomat butuh banyak air. Belum lagi pupuk. Kadang pupuk juga susah didapat.

Kemudian nelayan. Untuk melaut, mereka butuh solar. Ya sih, solarnya disubsidi. Tapi solar subsidi sering habis, entah siapa yang minum. Harga solar yang dibeli nelayan untuk melaut lebih mahal daripada bensin premium kesukaan mobil murah meriah kita semua.

Dan, saya menyia-nyiakan semuanya. Ikan yang sudah ditangkap dengan solar mahal dan sayur mayur yang ditanam di tengah ancaman gusuran lahan. Saya pun membuang uang saya sendiri, yang seharusnya bisa dipakai untuk menambah koleksi lipstik. Di atas semua itu, saya sudah menyia-nyiakan cinta.

Bagaimana tidak? Tidak gampang merawat tomat dari benih sampai panen. Kurang lebih begini tahapannya: menyemai benih menjadi bibit, memindahkan bibit ke lahan tanam, menyiram, memupuk, menyemprot, baru bisa memanen. Ini untuk tomat saja lho ya, belum yang lain. Ini juga belum termasuk problem lain, seperti hama baru yang menyerang sampai harga tomat anjlok.

Mari mengukur satu saja hal yang sudah terbuang, yakni air. Nyalakan shower di kamar mandi selama lima menit, tampung airnya di ember. Sebanyak itulah air yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu pon tomat (setara dengan 0,453 kg = tidak sampai setengah kilogram). Itu saya intip dari penelitian yang dipaparkan dalam situs kampanye anti-foodwaste, savethefood.com.

Jangan bayangkan suplai air untuk tanaman tomat mengucur semudah kita membuka keran shower. Lha, petani kita kan belum punya pesawat ultra light bikinan bocah-bocah Salatiga itu. Iya, pesawat yang bisa untuk nyemprot dan nyiram di ladang itu lho. Iya betul, pesawat yang sudah dipakai petani Kansas itu.

Petani kita juga masih harus terjaga tengah malam, berbagi air dengan petani lain, lalu berjalan menyusuri parit, menggiring jatah air menuju ladangnya. Hanya cinta yang bersemayam di hati para petani yang membuat mereka mampu melalui itu semua.

Apalagi coba kalau bukan cinta di hati para nelayan kepada keluarganya? Hingga mereka bersedia bergelut di laut, bahkan saat harga solar bikin kepala mereka cenat-cenut. Tapi saya membuang cinta mereka, lewat kulkas saya.

Eh tapi, ternyata saya tidak sendiri. Gabriel Andari Kristanto, dosen Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, pernah meneliti sampah makanan di Jakarta tahun 2012. Jumlah sampah makanan yang dihasilkan penduduk Jakarta adalah 0,5 kg/orang/hari.

Sebagian besar makanan dalam sampah itu awalnya layak konsumsi, tetapi karena jumlah berlebih, kemudian dibuang. Di antaranya ada makanan kualitas baik yang tetap disimpan di kulkas, namun akhirnya dibuang juga karena tidak dikonsumsi pada waktunya.

Gabriel menemukan persentase makanan dalam sampah kian meningkat mendekati 70% di lokasi timbunan sampah dekat apartemen kelas menengah-atas, serta kantin-kantin kampus di Jakarta. Ah, kelas menengah memang gitu ya?

Pengkhianatan saya pada cinta petani dan nelayan itu hanya sebagian saja. Karena saya juga mengkhianati upaya penemuan kulkas yang tak mudah. Ribuan orang berupaya menyempurnakan kulkas, termasuk Albert Einstein, sejak teknologi pendingin ditemukan William Cullen lebih dari 250 tahun lalu.

Ribuan orang berdebat untuk kulkas yang lebih baik. Sejak penggunaan gas amonia hingga pemakaian chlorofluorocarbon untuk kulkas agar bisa mengawetkan makanan dengan aman. Ribuan tangan bekerja memproduksi kulkas hingga hari ini untuk memenuhi kebutuhan kulkas yang di Indonesia saja mencapai 1,5 juta unit per tahun.

Tapi saya malah menggunakan kulkas di rumah saya untuk membuang cinta mereka semua…