Kretek ½ Dewa ½ Siluman

Kretek ½ Dewa ½ Siluman

Inilah kehebatan kretek. Bukan karena aroma atau bunyinya yang gemeretak saat dibakar, tapi daya magisnya yang sudah mencapai level kanuragan tingkat tinggi. Nggak percaya?

Kretek – bukan rokok – yang merupakan campuran daun tembakau dan cengkeh tiba-tiba masuk draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Kebudayaan. Padahal tidak pernah dibahas atau tidak diusulkan oleh Komisi Kebudayaan DPR.

Kretek seakan memiliki kemampuan menghilang dan muncul tiba-tiba. Bahkan keris yang identik dengan daya magis dan warisan budaya tidak masuk RUU Kebudayaan. Di situlah kretek membuktikan kesaktiannya.

Ini yang bikin orang kagum cenderung iri. Sebagian orang menuding bahwa anggota dewan yang terhormat telah menyelundupkan pasal kretek ke dalam RUU Kebudayaan. Fenomena ini mirip anggaran siluman yang muncul tiba-tiba. Sudah selevel itukah kretek?

Sebelumnya, tembakau – bahan baku kretek – pernah muncul tiba-tiba dalam draf RUU Kesehatan pada 2009. Tapi, setelah ditentang aktivis anti rokok, ayat soal tembakau dalam RUU Kesehatan menghilang entah kemana. Apakah sekarang balik lagi dalam bentuk kretek?

Tunggu dulu, jangan gaduh, ekonomi sedang lesu. Jangan cepat-cepat menuduh pasal siluman soal kretek dalam RUU Kebudayaan merupakan hasil konspirasi anggota DPR dengan perusahaan rokok.

Mana sanggup perusahaan rokok mensponsori pasal kretek? Dari jualan rokok sepanjang 2014 saja, Gudang Garam hanya meraup Rp 65,1 triliun. Sedangkan HM Sampoerna cuma Rp 80 triliun. Djarum? Yang pasti pemiliknya adalah orang terkaya di Indonesia. Tidak mungkin.

Anggota DPR? Ya kita perlu tanya dulu, “Wahai anggota dewan yang terhormat, apa benar bapak-bapak dan ibu-ibu semua yang membuat pasal kretek dalam RUU Kebudayaan?”

Taufiqul Hadi, anggota Badan Legislasi DPR, menjawab soal itu. “Kretek kami masukkan dalam RUU Kebudayaan sebagai warisan budaya, karena sifatnya yang unik. Tidak ada di dunia lain tradisi meramu tembakau dengan cengkeh kecuali di Indonesia,” tutur anggota DPR dari Partai Nasdem untuk daerah pemilihan Jember-Lumajang (Jatim) tersebut.

Tradisi menghisap kretek juga ada di tiap desa. Kretek termasuk rokok kretek juga ikut membantu geliat usaha kecil menengah (UKM) dan pertumbuhan ekonomi di daerah. Kretek sudah dianggap sebagai dewa penolong oleh sebagian penduduk terutama di daerah-daerah penghasil tembakau dan cengkeh.

Sementara itu, para aktivis pro rokok menilai, penelitian soal bahaya merokok merupakan kampanye hitam negara-negara Barat. Ada konspirasi asing supaya ekonomi Indonesia sulit bertumbuh. Mereka bahkan menuntut penelitian ulang tentang rokok di Indonesia.

Para aktivis dan masyarakat yang anti rokok sepertinya harus bersabar. Pelanggaran terhadap peraturan kawasan dilarang merokok tampaknya masih bakal marak terjadi khususnya di Jakarta.

Berdasarkan riset dari Koalisi Smoke Free Jakarta, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, masih terdapat pelanggaran di 70% tempat umum. Mungkin butuh 23 tahun lagi supaya tidak ada pelanggaran di kawasan dilarang merokok. Artinya, tempat umum di Jakarta baru bisa terbebas dari asap rokok pada 2038!

Foto: wallshq.com