Kostum Balap Rio sebagai Inspirasi Pakaian Politisi

Kostum Balap Rio sebagai Inspirasi Pakaian Politisi

kaganga.com

Akhirnya Rio Haryanto, pembalap F1 asal Indonesia dari tim Manor Racing, tampil perdana di Grand Prix Australia. Tapi Rio terpaksa keluar dari arena, karena mobilnya bermasalah. Tidak apa-apa, tetaplah tersenyum. Orang-orang tetap bangga kok, meski gagal finish. Tetap bangga, walaupun mobil rusak. Pokoknya bangga saja, apapun yang terjadi.

Jangan pikirkan dananya, meski itu sanggup membiayai pembinaan bulutangkis yang prestasinya nyaris terkikis atau menghidupkan kembali sepak bola yang hampir mati tragis. Yang penting, Rio bisa satu trek sama pembalap tenar macam Fernando Alonso, Lewis Hamilton, dan Sebastian Vettel. Itu saja sudah cukup. Begitu kan?

Untuk bisa mendapatkan satu kursi di ruang kemudi jet darat Manor Racing, Inggris, Rio kudu nyetor ‘mahar’ sebesar 15 juta euro atau sekitar Rp 225 miliar. Kalau nggak mau nyetor segitu, silakan lewat jalur independen. Itu pun kalau diatur dalam Undang-Undang (UU) F1.

Uang ‘mahar’ itu mungkin untuk beli ban tubles anti ranjau paku, ganti oli setiap malem Jumat, atau beli BBM non-subsidi. Angka yang fantastis? Iya, kalau dibandingkan pembalap cabe-cabean, yang hanya butuh modal bedak satu kotak supaya muka bisa putih dalam sesaat.

Tapi setoran tersebut mungkin biasa-biasa saja di balapan sekelas F1. Coba kalau orang tua Rio adalah anggota DPR dan punya banyak saham di Freeport, mungkin para petinggi Manor akan mempertimbangkan untuk menaikkan uang pendaftaran. Lah, ini F1 atau mahar politik sih? Ngelantur saya.

Beruntung, banyak pihak yang saweran untuk membantu Rio. Mulai dari BUMN, pengusaha, dan entah siapa lagi yang tak bisa disebutkan namanya, karena takut dibilang Riya sama Tere Liye. Tapi sponsor utamanya adalah Pertamina, BUMN terbesar di negeri ini. Yang namanya BUMN itu milik negara. Kalau negara siapa yang punya? Ya rakyat, memangnya petinggi partai?

Itu artinya seluruh rakyat Indonesia berkontribusi dalam hal pengadaan dana. Masyarakat dari Sabang sampai Merauke, para petani hingga pegawai bank, sampai mereka yang mencintai Leicester City yang tengah naik daun atau fans Chelsea yang mencoba setia di tengah keterpurukan tim kesayangannya. Semua ikut ‘patungan’.

Tapi, bukankah lebih baik dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat untuk banyak orang, seperti pembangunan rumah sakit atau sekolah, khususnya untuk mereka yang masih tinggal di daerah pedalaman? Ah, itu sih pikiran saya saja yang sok moralis, idealis, dan utopis ini.

Toh, Rio juga membawa nama bangsa dan punya potensi mengharumkan Indonesia di kancah internasional. Begitu kira-kira orang mengatakannya. Apalagi, palu sudah diketok. Dana hingga sebesar Rp 225 miliar harus disiapkan. Setelah Australia, Rio akan mengaspal di Bahrain pada 3 April 2016.

Tapi, saya boleh usul nggak? Boleh ya… Sebelum tim Manor sibuk ngoprak ngaprik alias betulin MRT05 yang dikendarai Rio, ada baiknya ganti dulu motif dan warna cat mobil. Soalnya mirip sekali dengan bus metromini. Bukan apa-apa, saya khawatir kelakuan mobil balap Manor yang menor itu ikut-ikutan bus metromini. Suka nyenggol kendaraan lain akibat aksi kebut-kebutan atau mogok semaunya di jalan raya.

Coba kita perhatikan mulai saat Rio mengikuti sesi latihan bebas pada 19 Maret 2016. Mobil Rio menyenggol mobil pembalap lainnya, Romain Grosjean. Insiden ini terjadi ketika keduanya baru sama-sama keluar dari garasi masing-masing dan hendak menuju ke arena balapan.

Meskipun tak disengaja, Rio tetap dianggap bersalah oleh race director dan dikenakan hukuman harus berlaga dari posisi paling belakang. Tapi, Rio tak gentar dengan penalti tersebut. Ia mengawali lomba dengan cukup baik dan sempat berhasil melaju ke posisi 18.

Namun, Rio kembali mengalami nasib sial. Transmisi mobil bermasalah dan akhirnya MRT05 yang dikendarainya tidak bisa lagi dipaksa untuk melaju di sirkuit Albert Park, Australia. Mobil itu akhirnya ‘mogok’. Nah, mirip-mirip tabiat bus metromini, bukan?

Pihak Manor sendiri mengakui bahwa buruknya reliabilitas mobil Rio adalah tanggung jawab mereka. Manor berjanji akan mengusahakan yang terbaik agar masalah ini bisa selesai sebelum sesi balapan selanjutnya di Bahrain. Mudah-mudahan, motif dan warna mobil juga diubah.

Bagaimana pun juga Rio membawa nama Indonesia. Selain itu, ia juga perwakilan dari sejumlah korporasi yang turut mensponsorinya, seperti Pertamina, Pirelli, Kiky, dan sebagainya. Untuk lebih lengkapnya, silakan pelototi daftar sponsor di kostum balapnya.

Nah, bicara soal seragam balap mobil seperti yang dikenakan Rio, sebenarnya dapat dijadikan inspirasi untuk pakaian kerja para pejabat publik dan politisi. Ketimbang hanya memakai jas polos, alangkah baiknya jika jas mahal para politisi ditempeli dengan emblem logo para sponsor.

Yang dimaksud sponsor di sini adalah para pengusaha atau perusahaan yang selama ini turut mendukung karier politik mereka. Entah itu untuk biaya kampanye, sewa jet pribadi, atau mendatangkan artis-artis ibukota. Dengan tampilan demikian, rakyat bisa menandai siapa saja ‘wakil rakyat’ yang didukung oleh perusahaan-perusahaan perusak lingkungan atau pengemplang pajak.

Kostum ala pembalap F1 ini sebenarnya juga menguntungkan politisi. Daripada mulut sampai berbusa menebar janji-janji palsu, kan cukup memamerkan deretan logo sponsor di jasnya masing-masing. Dengan begitu, publik bisa tahu keberpihakan para politisi.

Jika para sponsor adalah pengusaha yang terbiasa merusak alam, warga tidak perlu heran jika alokasi dana pembangunan akan digunakan untuk menutupi kerusakan alam yang ditimbulkan oleh si pengusaha.

Atau, jika para pengusaha yang menjadi sponsor terafiliasi dengan investor asing, mahasiswa tidak perlu menggelar unjuk rasa menentang kebijakan politik luar negeri. Kalaupun mau unjuk rasa, tidak perlu turun ke jalan. Cukup berkoar-koar saja di Twitter kayak selebtwit. Uhuk.

Saya yakin, banyak orang terutama mereka yang bapak atau ibunya penjahit setuju kalau jas politisi meniru kostum balapan. Semakin banyak logo sponsor, semakin menjauhkan mereka dari fungsinya sebagai wakil rakyat. Tapi, sepertinya para politisi tidak akan setuju. Mungkin malu. Apa iya masih punya malu?