Sudah Diperkosa, Dianggap sebagai Aib Keluarga, Bisa Dipidana pula

Sudah Diperkosa, Dianggap sebagai Aib Keluarga, Bisa Dipidana pula

(Volkan Olmez via unsplash)

Ada sebuah kisah. Seorang anak usia 8 tahun diculik oleh salah seorang kerabatnya. Diana, nama anak itu, berasal dari salah satu daerah di Pulau Sumatera. Dia kemudian jadi korban human trafficking. Ia dijual, diperkosa, dan diumpankan pada pedofil yang mau membayar mahal untuk keperawanannya.

Lisa Ling, berhasil “menemukan” Diana di salah satu rumah bordil tersembunyi di salah satu kota di USA. Ia juga berhasil menelusuri keberadaan keluarga Diana, serta mengembalikan anak kecil tersebut ke keluarganya.

Apa lacur, keluarga Diana menolak putri mereka itu. Alasannya, Diana telah kotor dan tak layak dianggap sebagai anak mereka lagi. Ia sudah dibuang serta terbuang dari keluarganya. Ibunya bahkan terang-terangan menganggap Diana sudah lama mati.

Kisah ini diceritakan oleh Lisa Ling di salah satu episode Oprah Winfrey Show, bertahun-tahun silam. Mungkin sekitar akhir tahun1990-an, atau awal tahun 2000-an, saya sendiri agak lupa tepatnya.

Hanya saja, saya masih bisa mengingatnya dengan jelas. Bukan karena nama saya yang sama dengan nama perempuan kecil tersebut, tapi saya kebetulan mempunyai seorang kenalan dengan kisah yang kurang lebih sama. Dibuang dan terbuang dari keluarganya, setelah menjadi korban pemerkosaan, oleh pamannya sendiri!

Perempuan, lagi-lagi perempuan Dan seringkali memang hanya perempuan, yang menjadi korban perkosaan dan jauh dari kata keadilan. Tak hanya menjadi korban, tapi para perempuan korban perkosaan justru dianggap sebagai aib oleh keluarganya sendiri.

Ibarat kata, sudah jatuh ketimpa rumah ambruk pula. Berat, Dilan pun tak akan kuat.

Para perempuan korban perkosaan ini, tak hanya mendapat penderitaan fisik, tapi juga psikis. Mereka seringkali dianggap sebagai manusia bernoda yang tak ada harganya.

Sementara tak jarang, para pelaku pemerkosaan mendapat hukuman ringan bahkan kebebasan. Apalagi jika si pelaku pemerkosaan mau ’bertanggung jawab’ dengan cara menikahi korban. Lalu, masalah perkosaan ini selesai karena dianggap sudah menemukan titik temu.

Diselesaikan secara ”kekeluargaan”. Sebuah solusi tanpa solusi.

Korban perkosaan seringkali dikucilkan dan disingkirkan. Mulai dari bisik-bisik tetangga hingga dijauhi, seolah mereka itu adalah virus menular yang tak ada obatnya.

Belum lagi stempel bahwa mereka adalah perempuan bernoda yang tak pantas dinikahi. Tak boleh dicintai, karena sudah menjadi ”bekas” laki-laki lain yang telah menjamahnya.

Tak ada lagi hukum yang lebih kejam, ketimbang disingkirkan secara paksa atas kesalahan orang lain, namun hukuman terberat justru dipikul oleh si korban.

Lalu, ada satu lagi kesalahan yang juga ditimpakan pada para korban perkosaan. Yaitu cara mereka berpakaian yang konon katanya mengundang para lelaki untuk menjamahnya. Layaknya undangan, layaknya pintu yang dibuka lebar, mengundang siapa saja untuk memasukinya.

Padahal, banyak sekali korban perkosaan yang justru memakai baju yang biasa-biasa saja. Bukan baju seksi layaknya bikini ataupun rok mini.

Tengok saja apa yang dilakukan CAW East Brabant, sebuah organisasi sosial pemerhati korban perkosaan. Mereka memamerkan baju-baju yang dipakai oleh para korban kasus pelecehan seksual maupun perkosaan sebelum kejadian biadab itu terjadi.

Baju-baju yang dipamerkan CAW di distrik Molenbeek, Brussels, menjadi saksi bisu bahwa perkosaan dan pelecehan seksual bukan terjadi karena kesalahan si korban dalam berpakaian. Lihat saja, pakaian yang mereka kenakan adalah seragam kerja, baju-baju standar sehari-hari seperti kaos oblong dan celana panjang, hingga baju anak kecil bergambar my little pony.

Bayangkan, patutkah baju anak kecil, berupa kaos biasa dengan celana selutut, bergambar my little pony yang lucu, dianggap sebagai baju yang mampu mengundang nafsu syahwat seorang lelaki?

Atau, masih ingatkah kita pada #metoo movement kemarin? Yang bercerita tentang bagaimana para perempuan, yang menunaikan ibadah haji ataupun umroh, mendapat perlakuan tak senonoh selama di tanah suci?

Padahal itu kan di tempat ibadah. Masa iya orang beribadah pakai bikini?

***

Berbicara tentang perkosaan serta kekerasan seksual, angka perkosaan dan kekerasan seksual di negara ini terbilang tinggi. Data di Komnas Perempuan Indonesia menyebutkan, sepanjang tahun 2017 saja, ada sekitar 2.227 kasus kekerasan seksual yang terjadi di negara ini.

Dengan catatan, itu baru yang dilaporkan. Padahal, seringkali korban kasus kekerasan seksual jarang yang melaporkan karena menganggap itu sebuah aib. Apalagi kalau kita bicara kejahatan inses. Waduh, itu benar-benar ibarat memakan buah simalakama.

Banyak keluarga yang cenderung tutup mulut dengan kejadian kejahatan seksual seperti inses. Seperti kita tahu, pelaku inses ya orang-orang terdekat korban. Entah itu ayah kandungnya sendiri, paman, kakek, atau bahkan kakak atau adiknya.

Dari 2.227 kasus terlaporkan, ada 1.200 kasus inses yang dilaporkan. Itu terdiri dari 425 kasus dengan pelaku adalah ayah kandung, 322 kasus dengan pelaku adalah paman korban, 205 kasus dengan pelaku adalah ayah tiri, 89 kasus dengan pelaku adalah kakak kandung, serta 58 kasus dengan pelaku adalah kakek kandung. Sementara sisa kasus lainnya, ya kerabat dekat, atau orang-orang di sekitar korban.

Dan para korban, 95% nya adalah gadis cilik. Mereka yang tak tahu apa itu seks, apa itu keperawanan, apa itu vagina, dan apa itu yang namanya menjaga diri. Bisa dibayangkan, trauma psikis macam apa yang mereka bawa hingga tua nanti?

Belum lagi, banyak keluarga yang memilih untuk memendam serta menutup kasus inses rapat-rapat, karena takut mendapat kecaman dari masyarakat. Mereka takut kecaman ini berimbas kepada seluruh anggota keluarga besar. Aib yang bisa meruntuhkan harga diri sebuah keluarga besar.

See, sudah menjadi korban, tak mendapat dukungan, malah justru dianggap sebagai sumber aib keluarga.

Belum lagi tuduhan bahwa mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Dengan alasan si korban bisa merasakan orgasme. Gustiiiiii… kalau sudah ada yang komentar begitu, ingin saya berkata kasar macam parutan kelapa!

Tubuh manusia itu sudah didesain sedemikian uniknya, dimana kadang reaksi tubuh muncul secara spontan dan tak ada hubungannya dengan logika di kepala. Seringkali juga pelaku tak bisa membedakan yang namanya orgasme pada perempuan. Vagina yang otomatis mengeluarkan cairan pelumas saat dirangsang, dengan atau tanpa paksaan.

Kalau kemudian ada reaksi tubuh, sama halnya seperti ketika kita terbatuk saat tersedak. Setengah mati kita tahan seperti apapun, kepala sudah memerintah seperti apapun, otomatis kita akan terbatuk-batuk saat tersedak.

***

Perkosaan, kekerasan seksual. Kenapa lagi-lagi harus perempuan yang disalahkan, harus perempuan yang menjadi korban?

Hal ini seolah-olah menggenapkan stigma pahit bahwa perempuan itu setan yang diciptakan untuk menghancurkan. Stigma yang amat bertolak belakang dengan candu-candu dogma tentang betapa mulia posisi seorang perempuan.

Padahal, para korban perkosaan bukan hanya menghadapi aib, rasa malu, rasa rendah diri serta trauma psikis saja. Mereka pun masih menghadapi kemungkinan tertular penyakit kelamin yang dibawa oleh si pelaku.

IPPI atau Ikatan Perempuan Positif Indonesia, mencatat ada banyak kasus perempuan yang terkena HIV setelah menjadi korban perkosaan. Ternyata para pelaku ini memang sudah mempunyai penyakit kelamin, semacam HIV, Gonorhea dan sebagainya.

Dan yang lebih menyedihkan, rancangan undang-undang hukum pidana yang baru sama sekali tak melindungi posisi para korban perkosaan. Para korban perkosaan ini, bisa terancam dipidana jika merunut pada kalimat di pasal 484 RKHUP.

Di situ disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah, melakukan persetubuhan, maka ia bisa dipidana. Kalimat tersebut amat sangat rancu, taksa dan ambigu. Karena terkesan berisi banyak pesan implisit.

Belum lagi kalimat tersebut memang kalimat bersayap, yang amat sangat bisa diutak atik maksud dan artinya. Apa nggak kurang ngenes, sudah diperkosa, terkena penyakit kelamin, masih dipidana pula.

Lalu, kalau sudah seperti itu, apa iya empati kita sebagai sesama manusia masih kurang. Saat menghadapi atau mendapati kasus kejahatan seksual malah terus menyalahkan keadaan korban?

Sudah selayaknya kita berpikir lebih jernih dan terbuka jika bicara tentang kejahatan seksual. Karena ini semata hanya karena kesalahan pelaku yang tak bisa mengendalikan hawa nafsu. Bukan kesalahan korban. Bukan karena pakaiannya, bentuk badannya, senyumnya yang manis, ataupun karena wajahnya yang rupawan.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN