Kopi Sebagai Senjata Melawan Kerusakan Hutan

Kopi Sebagai Senjata Melawan Kerusakan Hutan

Danurfan sedang meracik kopi.

Ada banyak cara orang memperjuangkan sesuatu. Di Rembang, Jawa Tengah, ibu-ibu bersama warga menolak pabrik semen, dan menyemen kaki mereka di depan Istana Negara di Jakarta. Kehadiran pabrik dinilai merusak lingkungan dan mengancam keberlangsungan hidup warga.

Tapi yang namanya perjuangan sudah pasti berliku, kadang terjal berbatu. Kadang dibantu, namun tak sedikit yang membatu. Butuh kerelaan menghabiskan banyak waktu, bahkan tak jarang menguras isi saku.

Sama seperti apa yang dilakukan oleh warga Rembang, perjuangan tak kenal lelah juga dilakukan oleh Danurfan, seorang pemilik warung kopi di Jalan P. Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh. Hanya caranya saja yang beda. Meski begitu, keduanya memiliki ‘benang merah’: melawan kerusakan lingkungan.

Melalui warung kopi yang diberi nama Leuser Coffee, Danurfan bertekad ingin berjuang melestarikan hutan di Aceh, minimal pada lingkup kawasan hutan tempat dari mana biji-biji kopi di warungnya berasal.

Pada sore yang gerimis, saya menyempatkan diri berkunjung ke warungnya. Danurfan langsung menawari kopi. Sejenak saya berlagak mikir, kemudian melempar tanya, “Di sini kopi apa yang paling enak?” Danurfan menjawab, “Semua kopi enak.”

Saya tertawa kecil. Pertanyaan itu sengaja saya lempar dengan maksud menggoda. “Sanger Arabika aja deh,” balas saya tersenyum.

Saya paham betul bagaimana Danurfan mendefinisikan kopi. Sejak pertama sekali mengenalnya di sebuah komunitas, kehidupan Danurfan tak jauh-jauh dari dunia kopi. Baginya, semua kopi itu memiliki penikmat tersendiri dan tak bisa diintervensi.

Danurfan lahir di Bireuen, sebuah kabupaten yang konon pernah menjadi ibu kota sementara Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Namun, Danurfan kecil tidak tumbuh besar di sana, melainkan di Takengon, sebuah daerah dataran tinggi di Aceh.

Takengon kota yang dingin. Dalam banyak literatur, pohon kopi yang tumbuh di Takengon dibawa oleh orang Belanda pada masa penjajahan. Sewaktu kecil, kebun kopi bukan pemandangan yang asing. Begitu juga dengan aktivitas petani kopi. Dari sanalah ketertarikannya terhadap kopi tumbuh.

Perlahan namun pasti, Danurfan terus menyelami dalamnya ilmu tentang kopi dengan terjun langsung mengelola warung kopi milik kerabatnya. Tapi itu tidak berlangsung lama. Jiwa mudanya berkata lain. Dia merasa kurang lengkap menekuni kopi tanpa tahu bagaimana hulu dari kopi itu sendiri.

Gejolak itu sempat membawanya ke dunia yang baru. Dunia yang tidak berhubungan langsung dengan kopi, tapi nanti akan mempengaruhi persepsinya terhadap tanaman yang satu itu. Dunia konservasi hutan.

Bermula dari bergabungnya Danurfan ke dalam komunitas pencinta alam, hingga sering naik gunung dan berdiskusi soal konservasi, ia akhirnya jatuh hati pada alam. Namun, tempat yang dicintainya itu, semakin hari kian terancam punah. Diusik oleh tangan-tangan serakah.

Ia mulai merenungi segala ancaman yang terjadi di hutan, seperti perambahan kayu ilegal dan perburuan satwa langka yang mestinya dilindungi negara. Mendapati kenyataan itulah yang memantik dirinya untuk berbuat sesuatu.

Ia menyalurkan sikap kritisnya melalui sebuah lembaga yang konsen pada isu konservasi. Namun, dunia kopi tak sepenuhnya ditinggalkan. Sambil terus terlibat di dunia konservasi, ia mendirikan Leuser Coffee pada 2013.

Namun, saat itu, Leuser Coffee belum dalam bentuk warung, melainkan hanya melayani pemesanan kopi per-pack yang dikerjakan di rumah. Itu semata-mata dilakukan untuk menopang hidup, dan tentu saja agar ilmu tentang kopi yang sudah susah payah dipelajarinya tidak meredup.

Saat mulai mendirikan Leuser Coffee, Danurfan tak sepenuhnya hanya ingin mengejar untung. Di satu sisi, ia sadar bahwa dirinya bukan pengusaha kopi dengan modal besar.

Namun, di sisi lain, ia tak bisa membendung keinginan hati agar usahanya itu bisa berkesinambungan dengan apa yang ia perjuangkan: pelestarian lingkungan.

Dia memutar otak dan akhirnya menemukan cara. Pada setiap satu pack kopi isi 250 gram yang terjual, ia akan menyisihkan Rp 2.500 untuk menjalankan niatnya melawan kerusakan alam. “Kalau kita cuma cari untung tanpa ada kontribusi sosial, itu nggak sustainable,” kata Danurfan.

Setiap tahun, uang tersebut diserahkan kepada masyarakat petani kopi yang bekerja sama dengannya, yang tinggal di sekitar kawasan hutan tempat biji kopinya didatangkan.

Namun, ia lebih memfokuskan kegiatan itu bersama petani dalam bentuk penanaman pohon, terutama pohon yang menghasilkan buah. Karena menurutnya, jika sewaktu-waktu petani kopi mengalami gagal panen atau harga kopi turun drastis, tanaman buah tersebut nantinya bisa menutupi kebutuhan hidup petani.

“Nggak hanya pohon buah sih. Yang lain juga bisa asal bukan sawit. Tujuannya sebenarnya sederhana, biar area sekitar kebun kopi itu tetap hijau dan terawat baik dan petani juga bisa dapat hasil lain,” tuturnya.

Langkah pelestarian lingkungan itu juga dilakukan karena melihat kenyataan bahwa hutan di Gayo Lues dan Takengon – wilayah asal pasokan biji kopinya –, yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), terus mengalami perambahan besar-besaran.

Hutan gundul di sana sini. Pohon ditebang sesuka hati. Satwa langka yang dilindungi terus diburu. Dan efeknya, bencana alam serta konflik antar satwa dan manusia tak bisa terelakkan.

Hutan Leuser bagi Danurfan layaknya ibu kandung kedua yang harus dijaga, dirawat, dan dicintai sepenuh hati. Kawasan hutan Leuser yang mencakup dua provinsi, Sumatera Utara dan Aceh, memang tak pernah lelah diintai oleh berbagai ancaman.

Tak hanya masyarakat, para pemangku kebijakan yang seharusnya bertanggung jawab untuk menjaga Leuser pun kadang ‘gatal tangan’ sering mengusiknya.

“Kopi Gayo sekarang ini terancam. Memang secara kuantitas kopinya terus ada. Tapi kalau secara kualitas, karakter rasa kopi perlahan-lahan berkurang. Itu semua pengaruh dari rusaknya hutan di sekitar kawasan ekosistem Leuser,” jelas Danurfan.

Karena itu, ia terus mengencangkan perjuangannya menyelamatkan wilayah kebun kopi yang berada di sekitar kawasan TNGL tersebut. Ini bukan hanya persoalan untuk memastikan keberlangsungan bisnis kopinya, tapi ini panggilan hati.

Tanaman kopi memang memberinya sedikit rezeki, namun semua itu tak lantas membuat matanya tertutup untuk berbagi. Program pelestarian lingkungan dari hasil penjualan Leuser Coffee dipastikan terus berlanjut.

Pada 2017, berbekal pengalaman tentang kopi dan dunia konservasi yang digelutinya, Danurfan membuka sebuah warung kopi. Ini mimpi yang tampaknya sudah lama ia pendam. Berbekal nama brand kopi yang dia miliki, warung kopi tersebut juga diberi nama yang sama: Leuser Coffee.

“Leuser sebuah kata yang indah. Hutan yang menjadi tumpuan hidup banyak orang. Meskipun dengan kesibukan baru ini akan sedikit mengurangi aktivitas di konservasi, tapi minimal dari warung kopi ini aku masih bisa berkontribusi,” tutupnya.

Sejenak saya termenung. Kemudian, bertanya-tanya dalam hati, “Bagaimana jika suatu saat nanti, ketika saya sudah tua, hutan Leuser yang masyhur itu benar-benar lenyap?”

  • Leiman Jeka

    Turut bangga dengan perjuangan Danurfan, serta berharap yang terbaik untuk kegigihannya melestarikan lingkungan, sukses selalu mas Danurfan..

  • Evan Setyawan

    Menginspirasi sungguh