Betapa Susahnya Membuat Konten Orisinal

Betapa Susahnya Membuat Konten Orisinal

Ilustrasi (appshopper.com)

Saya kira kita perlu berhenti merisak Firgiawan Ramaulana dan menganggapnya sebagai pencari popularitas. Bahwa ia berkali-kali ketahuan membuat twit yang menyinggung, tidak lucu, keterlaluan, menjiplak, dan menyadur tanpa menyebutkan sumber, itu perkara lain.

Meminjam sebuah pepatah, mereka yang tak pernah secara sadar mencuri konten orang lain tanpa izin, boleh menghina pertama kali. Ini perkara sederhana, konten orisinal adalah hal yang nyaris mustahil di zaman yang hadir dari peradaban copy dari copy dari copy dari copy.

Firgi melalui akun Twitter @seterahdeh dihina, dimaki, oleh banyak orang yang mengaku orisinal dan otentik. Benarkah kita seumur hidup tak pernah mengaku-ngaku pekerjaan orang lain?

Tapi bukan berarti itu mustahil. Tentu ada konten yang orisinal, lucu, benar-benar lucu tidak seperti usaha melucu yang kerap gagal dalam artikel-artikel mojok di berbagai situs milenial. Kita ingat bagaimana Afi dikecam karena dituduh menjiplak, sementara dalam peradaban sastra kita, penjiplakan nyaris selalu ada dan ia dirayakan.

Ingat bagaimana Chairil Anwar menyadur tanpa menyebutkan sumber puisi dari Archibald McLeish berjudul The Young Died Soldier? Atau, Seno Gumira Ajidarma yang dituduh menjiplak cerita Dodolitdodolitdodolibret dari Three Hermits dari Leo Tolstoy?

Apakah tuduhan penjiplakan hanya ada dalam sastra? Tidak, ingat bagaimana Anggito Abimanyu mesti mengundurkan diri dari jabatan sebagai dosen, karena tuduhan plagiat opini. Belum lagi tuduhan plagiat Nina Lubis oleh Ajip Rosidi. Juga bagaimana Prof Anak Agung Banyu Perwita diberhentikan karena tuduhan plagiat opini di Jakarta Post.

Maka, kita tahu dalam peradaban penulisan Indonesia penjiplakan adalah hal yang nyaris biasa saja. Ini perkara kamu suka atau tidak, teman atau bukan, satu circle atau tidak.

Jangan lupakan pula bagaimana Dadang Ari Murtono mempermalukan beberapa redaktur kolom sastra koran Minggu dengan cerpen berjudul ‘Perempuan Tua dalam Rashomon’ karena berhasil membobol beberapa koran sekaligus. Penulis ini dimaki-maki sedemikian rupa, seolah dia lah kriminal dunia kreatif. Sampah yang harusnya di-balikpapan-kan.

Kalau merujuk pada data kronik yang dihimpun Indonesia Buku pasca Indonesia merdeka, plagiat itu bukan suatu yang mengagetkan dan bikin sesak. Selalu ada pemaafan. Selalu ada pelupaan. Bahkan plagiat kerap berujung pada kehormatan.

Saat itu, Jassin tampil sebagai pembela utama Chairil dengan mengutip macam-macam pendapat untuk menyokong argumentasinya. Seperti mengutip pendapat Andre Gide sendiri yang pernah mencari-cari bentuk pemaafan plagiasi dengan bicara soal pengaruh: “Pengaruh jang datang dari luar diri si seniman mendjelang seniman itu ‘mendjadi’”

Menjiplak, asal tak ketahuan dengan mutu jiplakan yang bermutu, nyaris bisa dimaafkan. Selebihnya bisa jadi perayaan hina menghina tanpa akhir. Ingat bagaimana Hamka dan Chairil – meski ia menyadur – dituduh melakukan plagiat? Pernah kalian dengar usaha merisak habis-habisan dua orang itu?

Jika tidak cukup, mungkin kalian bisa membaca bagaimana plot Star Wars dengan film Akira Kurosawa berjudul The Hidden Fortress. Bisakah kita memaki George Lucas sebagai penjiplak? Ini perkara sederhana, apakah anda tahu dan siapa yang peduli.

Maka, soal menjiplak bisa jadi sekadar privilege yang dimiliki beberapa orang yang beruntung membaca lebih banyak, mencari lebih rajin, dan menyadur lebih baik.

Kamu mungkin tak akan pernah tahu bahwa saya pernah menulis sebuah esai yang disadur dari artikel pendek dari penulis Prancis tidak terkenal pada tahun 1890.

Atau, kamu pernah lupa mengingat ada esai pendek yang ditulis Mahbub Djunaidy di Tempo yang aku tulis ulang dengan mengganti nama, tempat, dan konteks tanpa memberi tahu kamu bahwa artikel itu saduran.

Ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan dengan mudah melayang tertiup. Seperti kertas, ketika ia menampakkan diri di depan kita, sebenarnya dalam proses berubah.

Kita yang menemukannya juga berubah; dengan kepala yang tak lagi pusing atau menatapnya dengan mata yang tak lagi lelah. Kertas itu sendiri jadi lecek atau sumbing, lembab atau menguning. Maka siapa yang sadar bahwa konten di Twitter punya hak cipta?

Akses terhadap pengetahuan merupakan privilege. Kau bisa menulis puisi pendek saduran dari sajak Proust dan mengganti konteksnya dengan milenial lantas membuatmu menjadi seorang Aan Mansyur baru.

Kelompok-kelompok dominan telah diuntungkan dengan kemalasan membaca dalam masyarakat. Namun, wacana-wacana dominan yang memungkinkan terus eksisnya kelompok-kelompok terakses ragam bacaan tersebut diuntungkan oleh ketidakmampuan masing-masing kelompok yang bertikai untuk menjadi subjek atas eksistensi mereka sendiri.

Membuat konten orisinal itu susah, menjiplak itu mudah, yang lebih mudah dari menjiplak adalah membikin keramaian untuk mencari perhatian. Oh ya, tiga paragraf dari artikel ini menjiplak dari beberapa penulis, apakah saya tetap keren atau menjadi sampah?