Konsekuensi Gelap dari Batman v Superman, Siapkah Kita?

Konsekuensi Gelap dari Batman v Superman, Siapkah Kita?

screenrant.com

Film ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’ lumayan berbahaya. Sejak dirilis secara serentak, banyak penonton yang memuji dan nggak sedikit yang caci maki. Belum lagi spoiler di media sosial tentang siapa yang menang atau yang bertahan hidup di akhir film.

Bagi saya, film ini lebih menghibur ketimbang segerombolan superhero di film ‘The Avengers’. Saya tidak terganggu dengan plot cerita yang berjubel alias padat. Ya memang ini masalah selera. Tapi saya cukup kagum dengan perspektif yang ditawarkan film action tersebut.

Wajar Batman v Superman membuat khalayak mengangkat tinggi-tinggi ekspektasi. Sejak mulai produksi pada 2013, segala aspek film dengan biaya US$ 250 juta atau sekitar Rp 3,3 triliun itu jadi bahan perbincangan.

Keterlibatan Ben Affleck pun dipertanyakan. Sebab, siapapun yang pernah melihat acting Christian Bale di seri Batman bakal sangsi ada aktor lain yang mampu memerankan manusia kelelawar itu seapik Bale.

Bagaimanapun Batman v Superman sebetulnya bukan sekadar ajang menonton senang-senang. Ada cinematic experiences effect yang tidak main-main. Di antara visual film yang dikemas otentik ini, para penonton bisa saja belum siap dengan perspektif dunia gelap.

Pelajaran pertama yang disuguhkan adalah menolong orang tidak selalu benar. Superman sudah pasti punya naluri menyelamatkan dunia. Tapi bagaimana jika Superman ‘dihukum’ karena tindakannya?

Di pembuka film, adegan Superman menyelamatkan kota Metropolis dari gempuran Zod, tiba-tiba bikin sakit hati Bruce Wayne. Gedung-gedung di Metropolis runtuh, termasuk Wayne Enterprises Building. Ratusan orang meninggal, karena baku hantam Superman dengan Zod di tengah kota. Tragedi ini disebut ‘Black Zero’. Tapi nggak perlu ada tagar #PrayForMetropolis. Cukup pray-pray yang lainnya saja.

Saya pun cukup girang dengan ide jenius itu. Sutradara Zack Snyder sepertinya punya visi soal konsekuensi dari kekerasan. Belum lagi sekelompok senator AS yang dipimpin senator Finch, yang mengajukan gugatan terhadap legalitas atas tindakan Superman.

Banyak kutipan dari senator Finch ini yang kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Misalnya, perlukah manusia super selayaknya dewa mengikuti peraturan manusia? “The world has been so caught up with what he (Superman) can do that no one has asked what he should do.” Satu lagi kutipan asik dari senator Finch adalah, “We have been looking for a savior… And we try to make him abide by our rules.

Pelajaran gelap selanjutnya yang bisa penonton tangkap dari Batman v Superman adalah dua superhero yang saling mencoba membunuh satu sama lain, tapi tetap termasuk kategori heroik. Kalau pakai logika, Superman bisa sangat mudah melibas Batman menjadi butiran debu, hanya dengan kekuatan laser jarak jauh, booom..! Selesai sudah.

Tapi Batman adalah laki-laki cerdas, tangkas, dan penuh persiapan. Penulis skenario David S Goyer tentu lebih jenius lagi. Dia seperti ingin menyuguhkan bahwa Batman v Superman bukan soal mana yang baik dan yang jahat saja.

comingsoon.net
comingsoon.net

Dengan formula adu domba ala Lex Luthor, konflik pun muncul. Dengan begitu, tujuan saling membunuh berubah jadi kerja sama. Klise sih. Tapi, marilah kita perhatikan kata-kata keras Batman. Betapa heroik, sekaligus ironis. “Twenty years in Gotham. How many good guys are left? How many stayed that way? He has the power to wipe out the entire human race. I have to destroy him.”

Makna Batman v Superman selanjutnya datang dari para tokoh perempuan. Ketimbang pacar Superman si Lois Lane atau si ibu Martha Kent, satu tokoh perempuan yang sangat mencuri perhatian adalah Wonder Woman.

Kalau dikatakan ada diskriminasi gender atau sexist di film ini, ya benar adanya. Seharusnya ada subjudul khusus di film ini, yakni Wonder Woman v Sexism. Di adegan petarungan Batman v Superman melawan Doomsday, tiba-tiba Wonder Woman datang tanpa dijemput, pulang tak diantar. Saya lumayan gembira saat adegan tersebut berlangsung, karena dada dan paha tidak diblur. Tapi ya segitu aja porsi Wonder Woman.

Tapi, perhatikan pada pertengahan film, saat Diana Prince (nama manusia Wonder Woman), berdialog pertama kali dengan Bruce Wayne. “You know, it’s true what they say about little boys: born with no natural inclination to share.”

Berapa banyak film superhero yang bicara soal hak anak laki-laki atau perempuan? Ya, tapi sudahlah. Saya bukan feminis. Saya berharap Wonder Woman punya cerita sendiri nanti.

Setelah menonton film, sekarang kita cermati kondisi realita. Ada ego antara polisi v tentara, Ahok v Lulung, Sudirman Said v Setya Novanto, dan yang terkini angkutan umum konvensional v angkutan online. Selalu ada konsekuensi gelap dari acara vv-an tersebut. Sudah siapkah kita?

  • Varda

    Tetep jelek, Bro. Ngga perlu jenius2 amat, dari awal film Superman muncul, saya sbg warga dunia, udah males liat dia berantem ngancur2in bumi. Makhluk2 asing bin alien itu nyebelin krn level ngerusaknya ga beda lah sama Transformers. Ini common sense lah, bukan jenius. Jadi wajar aja Wayne marah. Tapi ya ga perlu juga, Bruce Wayne kaya, pinter, … Lois Lane aja bisa nemu Clark Kent, kenapa Bruce Wayne ga bisa? 18 bulan cukup lah buat nyari siapa sih orang di balik Superman, diajak ngopi2 atau ngobrol2. Ha! Gak pinter penulis skenarionya. Gitu dibilang jenius?

    Tentang Wonder Woman, what the hell? Saya sebagai perempuan terus terang kecewa berat sama mbak satu ini. Gak jelas banget idupnya (di film ini). Di samping akting yang jelek, positioning yang gak jelas, dan mimik yang sering kali gak pas dari Gal Gadot, I don’t know what’s the good of this girl in the movie kecuali utk memperkenalkan the next movie. Oh you guys pasti ga setuju… And I will say you all blind haha! Cantik aja gak cukup buat jadi Superhero. Mana ekspresinyaaaaa… Manaaaaaa. *gemes.

    Buat film Hollywood dengan ekspektasi dan budget setinggi itu… Sumpe deh… Itu penulis skenario dan sutradaranya sungguh meh!

  • Kevin91

    Memang gak jenius sih, tapi tetap aja org penasaran, apalagi bagi yg gila komik DC. Ini kan sudah semacam ritual. Sudah tahu gitu-gitu aja, tp ya tetep dijalani. Yg penting update lah, minimal klo lagi nongkrong sm tmn2 bs nyambung hihihi….