Komunitas KAHE: Berekspresi Atas Nama Sastra (Coretan dari Maumere)

Komunitas KAHE: Berekspresi Atas Nama Sastra (Coretan dari Maumere)

Anggota Komunitas KAHE (Sastra Nian Tanah).

Kehadiran berbagai komunitas seni yang digandrungi generasi muda Indonesia saat ini sungguh baik adanya. Di dalamnya, kaum muda berekspresi serentak mengafirmasi dimensi-dimensi positif yang menjalari diri. Komunitas musik, lukis, sastra, teater, dan lain-lainnya membuka ruang pengembangan diri yang mantap.

Di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kesadaran tersebut semakin terasa. Komunitas seni tampil sebagai parade unjuk kualitas diri di luar sekapan selimut akademis-formal yang nyaman dalam institusi pendidikan (baca: kampus). Maka, didorong oleh keinginan luhur dengan libido semangat menggebu-gebu, terbentuklah sebuah komunitas sastra.

Yang jelas komunitas ini ada bukan karena keterpaksaan, melainkan lebih pada kesadaran bersastra. Sebab, kalau pakai paksaan, komunitas sastra KAHE (Sastra Nian Tanah) Maumere – nama komunitas tersebut – tidak bakal mencapai level orgasmenya. Sebab, landasan yang melahirkan komunitas ini ialah gairah-gairah tak berkesudahan para anak muda untuk mencapai kebajikan hidup lewat seni itu sendiri. Seni sastra.

Sebenarnya, wacana kehadiran sebuah komunitas sastra di Maumere, Kabupaten Sikka, sudah terbetik sejak pertengahan tahun lalu. Beberapa orang mo’at – panggilan untuk lelaki Sikka – dari varian profesi, seperti mahasiswa, fotografer, dan aktivis, berniat membentuk wadah yang merangkum generasi muda Maumere dalam mengekspresikan minat sastra.

Namun, itu masih hanya dalam obrolan lepas di media sosial ataupun dalam perjumpaan sehari-hari. Belum ada suatu perbincangan serius. Kerapkali pertemuan yang digagas batal terjadi akibat kesibukan masing-masing personalia. Meski demikian, suatu niat baik pasti menemukan titik muncratnya.

Maka, pada suatu malam minggu, 24 Oktober 2015, tiga orang lelaki jomblo (sebelum tulisan ini diturunkan, mereka sudah klarifikasi kalau mereka ternyata masih tetap jomblo) berkumpul di salah satu taman kota Maumere. Mereka adalah Dede Aton (mahasiswa filsafat dan kritikus sastra di sebuah surat kabar lokal), Valentino Luis (fotografer cum penulis lepas), da Hironimus Lejap (penyiar radio).

KAHE On Air di Radio Sonia FM Maumere.
KAHE On Air di Radio Sonia FM Maumere.

Meskipun berbeda profesi, mereka tetap punya satu kesamaan. Sama-sama jomblo. Bukan itu, tapi sama-sama mencintai karya sastra. Dari situlah nama KAHE pun lahir. Dalam bahasa Maumere, Sikka, KAHE ini merupakan semacam seruan, pekikan, dan ekspresi kebebasan. Awalnya hendak menamai komunitas itu Komunitas Ringkik, sebab waktu itu mereka tepat berada di bawah patung kuda taman kota. Namun, term ‘ringkik’ dirasa kurang mewakili filosofi sebuah komunitas sastra.

Dengan demikian, malam itu KAHE pun dipermaklumkan dalam ranjang pelaminan mahaluhur oleh tiga orang pemuda tangguh dalam tanur api termaktub. Lengkapnya KAHE (Sastra Nian Tanah). Kata ‘Nian Tanah’ itu sendiri merujuk pada tanah kelahiran, daerah Sikka itu sendiri.

Keanggotaannya beragam. Tak kenal separasi gender, tak pandang latar profesi, tak pakai kasta sosial. Mulai dari mahasiswa hingga wartawan, dari PNS sampai aktivis lingkungan, dari yang jomblo sampai yang jomblo abadi, semuanya bersatu padu dalam kepak sayap KAHE (Sastra Nian Tanah).

Akan tetapi, jangan salah sangka, mereka-mereka itu rupanya telah menghasilkan berbagai karya sastra yang tersebar mulai dari media lokal, bahkan nasional. Di samping itu, ada pula yang telah menelurkan anak rohaninya (baca: buku) sendiri.

Namun, yang menjadi inti komunitas ini ialah para anggota bisa menyalurkan libido sastranya secara efektif nan efisien. Dengan begitu, masing-masing orang bisa mengembangkan diri secara sehat, bugar, segar, bertanggung jawab, dan penuh percaya diri.

Semenjak terbentuk, komunitas KAHE telah melakukan berbagai macam kegiatan. Diskusi-diskusi sastra dilakukan dalam tajuk kopdar alias kopi darat. Biasanya dilakukan sebulan sekali. Tempatnya pun beragam. Di kafe, taman kota, pantai, juga di rumah salah satu anggota.

Pada lanskap ini, seorang anggota dipilih menyiapkan suatu tema pembahasan, misalnya seputar sastrawan tertentu. Ketika kopdar berlangsung, anggota tersebut memaparkan materinya dan diteruskan dengan diskusi (tanggapan) dari semua anggota. Anggota komunitas juga membacakan karya sastrawan tertentu. Bisa juga membacakan karyanya sendiri. Setelah itu, anggota lain diminta memberi catatan kritis.

Battle Puisi KAHE
Battle Puisi KAHE

Yang paling seru ialah battle puisi. Misalnya, sehabis membawakan puisi, seorang anggota langsung menunjuk teman lainnya dan seterusnya, teman itu kemudian menunjuk teman lainnya lagi untuk membawakan puisinya.

Menariknya, hasil diskusi dalam kopdar akan dibawakan on air di salah satu radio di kota Maumere. Sehingga sastra sekiranya bisa mengumat. Di lain sisi, komunitas KAHE juga bekerja sama dengan berbagai komunitas lain dalam aksi-aksi sosial. Misalnya, pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 21 Februari 2016, mereka bersama Gerakan Pemuda Sikka Peduli Sampah membersihkan sampah di salah satu pantai Maumere.

KAHE juga pernah tampil membawakan puisi pada acara pameran foto dan lukisan yang digagas oleh komunitas Seni Ruang Tanpa Batas (SERUPA) Maumere. Di denyut ini, barangkali sastra menunjukkan taji revolusionernya, seperti kata salah seorang anggota.

Kehadiran komunitas sastra seperti KAHE ini patut diapresiasi. Ini menunjukkan bahwa ada kesadaran estetis di dalam diri kaum muda. Kesadaran estetis itu merupakan langkah awal untuk gerakan perubahan lanjutan. Apalagi ini digawangi oleh anak-anak muda yang berpikiran cerdas dan kreatif.

KAHE dalam Kopdar Bersama Sastrawan NTT Dicky Senda.
KAHE dalam Kopdar Bersama Sastrawan NTT Dicky Senda.

Generasi muda menampilkan kebebasan berekspresinya. Dan, sastra tampil sebagai ruang legitimasi kebebasan berekspresi tersebut. Karena sejatinya, anak-anak muda Maumere, Flores khususnya, dan Nusa Tenggara Timur umumnya punya potensi luar biasa untuk mengembangkan bakat dan minatnya dalam langgam seni apa saja. Lalu, eksistensi sebuah komunitas terasa tepat bagi pengembangan diri tersebut.

Akhirul kalam, Leo Tolstoy, sastrawan Rusia itu, bilang begini, “Seni adalah sebuah proses untuk memunculkan kembali nilai rasa seseorang dari apa yang pernah dialami dalam kehidupan”. Anak-anak KAHE (Sastra Nian Tanah) sedang dalam proses bertumbuh kembang. Mereka ingin membahasakan realitas lewat medium kata-kata.

Namun, mereka ini baru lahir. Mereka butuh masukan, nasihat, dan kritikan konstruktif. Kelak, semoga komunitas yang masih unyu-unyu ini bisa melahirkan sastrawan-sastrawan muda yang bisa menginspirasi banyak orang. Tentu mulai dari orang-orang sekitar hidupnya.

Seperti kata Tolstoy, seni itu sedang berproses. Namun, yang paling dibutuhkan dalam proses itu sendiri adalah komitmen dan konsistensi. Baiklah, coretan ini saya akhiri. Samo pi minum kopi dan merokok dulu. Salam damai dari Maumere…