Klandestin atau Frankenstein?

Klandestin atau Frankenstein?

Ilustrasi (flocabulary.com)

Isu Partai Komunis Indonesia (PKI) memang selalu hot sepanjang masa. Pada suatu waktu, pernah muncul simbol-simbol PKI saat karnaval HUT Kemerdekaan RI di Pamekasan, Madura.

Meski itu hanya bagian dari sebuah teatrikal tentang kekejaman PKI, sekelompok orang tetap saja mudah terpancing. Itu tanda-tanda kebangkitan PKI! Waspada Kekejaman PKI!

Selama ini, partai berlambang palu arit itu memang dicap sebagai bahaya laten. Banyak orang yakin PKI kini menjadi sebuah organisasi klandestin atau organisasi yang bergerak secara rahasia di bawah tanah. Karena itu, PKI sewaktu-waktu bisa muncul kembali ke permukaan.

Tapi apakah ancaman itu nyata atau hanya ketakutan yang berlebihan akibat program cuci otak selama pemerintahan Orde Baru? Jangan-jangan PKI itu mirip Frankenstein dalam novel gothik karya Mary Shelley, penulis berkebangsaan Inggris.

Frankenstein atau ‘The Modern Prometheus’ merupakan monster menyeramkan yang dibuat dari serpihan dan potongan orang mati. Serpihan dan potongan tubuh itu disatukan dengan cara dijahit bersama, dan dihidupkan lagi menggunakan listrik dari petir.

Setelah hidup, Frankenstein yang buruk rupa menyebar teror menakutkan. Tapi itu semua hanya fiksi di dalam novel, bukan kisah nyata. Nah, mirip dengan Frankenstein, PKI juga digambarkan sebagai monster yang menyeramkan. Apakah itu fakta sejarah? Itu masih menjadi misteri.

Tapi rupanya kebanyakan orang lebih suka menyalahkan PKI sebagai sumber dari segala bencana. Mereka tidak butuh kajian mendalam soal komunisme dan PKI untuk itu.

Pokoknya PKI salah, karena membunuh para jenderal dan berencana kudeta pada 1965. PKI itu terlarang, anti Tuhan, dan sebagainya. Titik!

Mereka tidak perlu membaca buku-buku Karl Marx, penggagas marxisme, mbahnya komunisme. Tidak peduli dengan pemikiran Friedrich Engels, apalagi Karl Kautsky.

Mereka juga tidak perlu mempelajari teman-temannya komunisme, seperti sosialisme, marxisme-leninisme, anarkisme, dan lain-lain. Apalagi, mengkaji manifesto dan manuskrip asli PKI. Hanya orang-orang yang belum paham saja yang belajar soal itu. Gitu kan?

Mereka berterima kasih kepada Orde Baru, yang memberikan pelajaran soal PKI tanpa susah payah melakukan penelitian mendalam. Cukup dengan nonton film ‘Pengkhianatan G 30 S PKI’ saja.

Hasilnya? Masih ingat aksi Aliansi Anti Komunis yang men-sweeping dan membakar buku ‘Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme’ karya Franz Magnis Suseno?

Buku tersebut dianggap menyebarkan paham komunis. Padahal, Franz Magnis, yang guru besar filsafat itu justru menyampaikan kritik mendalam terhadap dasar-dasar ajaran Karl Marx. Wah, kecele dong…

Tapi ya itu, kebencian terhadap PKI sudah menjadi sebuah kebenaran absolut, seperti matahari terbit dari Timur dan tenggelam di Barat. Kalau PKI bangkit, matahari bisa terbit dari Barat. Kiamat.

Padahal, ideologi komunis sebenarnya sudah runtuh, sejak pecahnya negara Uni Sovyet. Bahkan, Tiongkok saat ini disebut-sebut sebagai negara komunis, tapi dengan ekonomi kapitalis.

Penyeimbang

Teori marxisme, yang menjadi akar paham komunis di dunia, sepertinya masih diperlukan untuk pisau analisis kondisi sosial dan ekonomi saat ini. Agar paham kapitalis tidak kebablasan. Dalam konteks ini, teori ‘kiri’ menjadi penyeimbang.

Bahkan, anak-anak muda saat ini terutama mahasiswa kerap berdiskusi secara terbuka dan ilmiah soal marxisme, komunisme, dan sosialisme.

Yah, meski belakangan segala diskusi, seminar, pementasan, pemutaran film, atau kajian ilmiah lainnya kerap dipaksa bubar oleh sekelompok ormas.

Aktivitas ini sudah dimulai oleh para mahasiswa sejak reformasi 1998 untuk membuka khasanah ilmu pengetahuan. Toh, hingga hari ini, mereka tidak menyebarkan atau mendirikan negara komunis.

Bahkan, buku-buku ‘kiri’ sudah dijual bebas di toko-toko buku ternama. Lebih canggih lagi, bisa belanja online. Padahal, sebelum reformasi, buku-buku ‘kiri’ mungkin statusnya sama dengan buku porno, terlarang…

Tapi, ya itu tadi, sama seperti pembubaran diskusi, belakangan penjualan buku-buku ‘kiri’ mulai ditarik. Padahal, istilah ‘kiri’ tidak sama dengan komunis, apalagi PKI. Makanya, kalau ada bukunya ya dibaca, bukan di-sweeping