Kita Berutang pada Sepak Bola, Mengapa Voxpop Tak Bahas Piala Eropa?

Kita Berutang pada Sepak Bola, Mengapa Voxpop Tak Bahas Piala Eropa?

goal.com

Sudah empat hari Piala Eropa 2016 berlalu, tapi tidak ada satu pun artikel di Voxpop yang membahas sedikit pun soal turnamen akbar ini. Tidak ada satu pun artikel yang berusaha mengaitkan, misalnya, meningkatnya indeks kebahagiaan suatu negara seiring dengan berlangsungnya turnamen ini.

Atau, tidak ada artikel yang mengupas soal dampak masif perayaan turnamen akbar di Prancis tersebut dengan, misalnya, relaksasi pikiran kita dari hal-hal bebal yang terjadi di sekeliling kita. Terlebih artikel-artikel itu disajikan dengan gaya bahasa dan tulisan khas Voxpop yang renyah, jenaka tapi “bergizi”.

Berhari-hari ini, orang-orang tenggelam dalam kasus razia makanan oleh Satpol PP Kota Serang yang menimbulkan gerakan sosial dan berhasil mengumpulkan dana sosial ratusan juta rupiah untuk membantu ibu penjaga Warteg yang dagangannya disita. Belum lagi meributkan kasus pernikahan Aming dengan istrinya yang dicap sebagai pernikahan sejenis.

Seriously, guys? Ketika turnamen sepak bola akbar ada di depan mata kita, maksudnya di layar kaca, kita masih meributkan ritual tahunan apakah warung makan boleh buka pada siang hari atau tidak? Lantas, seperti sudah paketan, orang-orang kembali sibuk debat soal isu toleransi yang lama-kelamaan berubah makna jadi tololransi? Apa namanya kalau bukan tololransi, kalau yang satu ngotot, yang satu ngeyel. Begitu sebaliknya dan seterusnya, seolah itu jadi aktivitas ngabuburit di era digital kekinian.

Ini yang kemudian saya pertanyakan kebijakan mas Jauhari Mahardika. Anda ini antipati kepada sepak bola atau bagaimana? Sampeyan jurnalis senior, orang yang kritis dan kompeten. Sungguh sebuah kealpaan yang paripurna kalau tidak mengizinkan satu pun naskah mengenai Piala Eropa tayang di Voxpop. Bukan begitu?

Lagipula di Voxpop juga ada mas Kokok Dirgantoro. Blio sudah melumat pahit manis dunia bisnis ke-CEO-an. Mas Kokok pasti punya basic insting dan jeli soal selera pasar pembaca. Apalagi beliyauu juga digadang-gadang jadi calon presiden. Pasti tahu arah dan persepsi masyarakat. Mas Kokok dan mas Jauhari itu kombinasi yang klop. Artikel soal Piala Eropa seharusnya menjadi sebuah keniscayaan di Voxpop.

Jadi begini…. Bumi ini, konon, sebagian besar wilayahnya atau 70% dipenuhi air. Lautan luas. Tapi saya tidak pernah mendapati fakta bahwa olahraga renang, polo air, atau balap perahu dayung menjadi olahraga paling populer di dunia. Bahkan, dari sisa 30% wilayah Bumi yang berupa daratan, muncul cabor yang luar biasa menarik dan menggugah birahi bernama sepak bola.

Sepak bola sudah dimainkan ribuan tahun lalu oleh kelas pekerja pada era Kekaisaran Romawi. Lalu berkembang serta berevolusi dengan sempurna hingga menjadi seperti sekarang ini. Menjadi olahraga populer dan menghasilkan perputaran uang yang jauh lebih besar dari gaji Bapak Presiden Jokowi selama lima tahun memimpin Indonesia.

Jangankan bapak presiden – Ini masukan buat mas Kokok – Cristiano Ronaldo saja, atlet bergaji mahal menurut data terbaru Forbes, yang bahkan mengungguli superstar NBA, LeBron James, gaji seminggunya bisa untuk 10 kali membiayai Kangmas Fadli Zon piknik ke Amerika Serikat untuk sekali lagi bertegur sapa dan selfie bareng Donald Trump. Atau, membiayai istri-istri anggota DPR plesiran bolak-balik ke Jepang sampai jet lag.

Ini yang kemudian juga patut dipertanyakan, kenapa Voxpop tak kunjung menayangkan artikel berbau sepak bola? Padahal, gaung Piala Eropa 2016 bergema dari pelosok Sabang hingga ujung Merauke sana?

Sepak bola adalah soal budaya dan Eropa tahu benar hal itu. Italia yang elegan dan terkenal dengan pertahanan gerendelnya. Jerman yang efektif dan efisien layaknya kerja pemerintah dan masyarakatnya. Prancis yang sekuler dan romantis hingga terbawa ke aroma timnas sepak bolanya yang berisi para pemain berdarah Arab (Beur) yang Muslim hingga deretan pemain kulit hitam khas Afrika.

Konon, dalam bahasa latin, Voxpop adalah suara rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana? Tidak sedikit orang, baik dari masyarakat kelas atas, menengah, atau bahkan bawah sekal ipun yang melewatkan sepak bola dan tayangan Piala Eropa 2016. Bagi saya, Indonesia adalah perwujudan Inggris di masa lebih modern. Negara yang menggilai dan menganggap sepak bola, seperti diktum ajaib Bill Shankly, lebih berarti dari hidup dan mati sekali pun.

Kita, warga negara Indonesia, menonton dan menggilai sepak bola seperti seorang maniak. Sama seperti Inggris, prestasi negara kita di sepak bola hanya dongeng masa lalu yang tersimpan rapi dalam memori belaka. Tapi urusan menonton dan nggambleh soal sepak bola, kita berada di level yang sama dengan Inggris.

Kita akan minum arak atau tuak kopi saat menonton sepak bola dengan mulut tak henti mengumpat dan mencaci. Sama seperti hooligan Inggris yang menenteng bir, tawuran, dan berisik di dalam stadion kala pertandingan berjalan. Kita menggilai sepak bola seperti seorang agamis beronani dengan kedekatan intimnya yang personal kepada Tuhan dan surga.

Sepak bola yang menggerakkan bapak-bapak tukang parkir di pasar Belimbing, Malang, untuk rehat sejenak di malam hari demi bergerombol duduk di depan teleivisi menyaksikan laga Wales melawan Slovakia yang main pukul 11 malam. Sepak bola pula yang menggerakkan pemuda tanggung dan ingusan macam saya untuk menyisihkan sebanyak mungkin jam tidur untuk tetap terbangun dan tidak melewatkan satu pun pertandingan.

Apakah kemudian kami, para pecandu sepak bola, melupakan kewajiban dalam hidup? Saya rasa tidak. Kami masih peduli isu sosial. Saya bahkan mengikuti semua masalah sosial-ekonomi yang terjadi di sekitar saya, tentang keluhan harga kebutuhan pokok yang naik, tentang razia Satpol PP di Serang, tentang isu kebangkitan komunis gaya baru, LGBT, hukum kebiri, dan tentang banyak hal. Sama juga dengan bapak tukang parkir yang masih akan bekerja esok hari ketika sepak bola sudah selesai. Tidak ada kewajiban yang dilupakan dan moralitas yang diabaikan.

Sepak bola hanya membuat kami sedikit melupakan beratnya beban hidup. Melupakan kebebalan dan banalitas yang berkeliaran di negara kita dan tampak tidak berujung. Apa kemudian kami lupa beban moral dan tanggung jawab sebagai manusia, karena asyik menonton sepak bola? Tunggu dulu, jangan memberi stigma seperti itu, karena mengutip ucapan Albert Camus yang fenomenal itu, “Untuk segala yang saya ketahui tentang moralitas dan tanggung jawab, saya berutang pada sepak bola.”