Kisah Pahit Petani di Balik Manisnya Cokelat Kasih Sayang

Kisah Pahit Petani di Balik Manisnya Cokelat Kasih Sayang

Ilustrasi (dramafever.com)

Sebagian orang percaya bahwa cokelat adalah simbol ungkapan kasih sayang. Mungkin karena rasanya yang semula pahit dan kemudian berubah menjadi manis, seperti kisah kamu dan dia.

Atau, bisa juga karena cokelat membantu mengurangi efek penuaan, meningkatkan gairah dan semangat hidup, sehingga orang merasa menjadi muda terus – yang muda yang bercinta – yess

Ungkapan kasih sayang dengan cokelat kepada orang-orang terdekat sebetulnya sudah lazim terjadi setiap hari. Tapi seolah menemukan momentumnya saat perayaan Valentine’s Day pada 14 Februari.

Setidaknya ada beberapa versi tentang sejarah perayaan hari yang identik dengan ungkapan kasih sayang dan buah tangan berupa cokelat tersebut. Silakan saja berdebat tentang versi mana yang Anda yakini, toh fatwa haram soal perayaan Valentine kali ini nyaris tidak terdengar. Tenggelam bersama keriuhan Pilkada DKI Jakarta.

Konon, hubungan erat antara cokelat dan perayaan Valentine dimulai dan diperkenalkan oleh kaum bangsawan Prancis sekitar tahun 1770-an. Ketika itu, cokelat adalah barang mewah. Hanya orang tertentu sekelas ningrat yang sedang kasmaran, seperti Louis XVI dan Marie Antoinette, yang bisa menikmati dan menghidangkan cokelat untuk sang pujaan hati.

Sebetulnya apa sih cokelat itu? Nah, jika kita bicara cokelat, rasanya tidak afdol kalau tidak menyinggung kakao. Sebab, cokelat dihasilkan dari biji kakao. Di dalam setiap buah terdapat sekitar 40 biji kakao. Satu pohon kakao dapat menghasilkan sekitar 50 buah, yang dapat dipanen setahun dua kali.

Dari setiap buah yang dipanen, pihak produsen rata-rata dapat membuat delapan batang cokelat susu atau empat batangan dark chocolate. Jadi, jika dikalkulasikan satu pohon, mungkin dapat menghasilkan sekitar 400-800 cokelat batangan setiap tahun.

Indonesia adalah negara terbesar ketiga penghasil biji kakao, setelah Pantai Gading dan Ghana. Tetapi hal itu tidak menjamin negara kita memiliki angka konsumsi cokelat yang tinggi. Indonesia hanya sebagai negara penghasil bahan mentahnya saja. Produk cokelat yang siap kunyah itu lebih banyak dibuat di Eropa.

Minimnya pengolahan cokelat di dalam negeri dan kesan harga cokelat yang mahal bagi sebagian kalangan, ternyata bukan alasan utama masalah cokelat Indonesia. Persoalannya adalah harga kakao produksi nusantara masih dianggap rendah.

Kakao Indonesia di pasar global dianggap kelas dua, karena dijualnya mentah tanpa proses fermentasi. Hal tersebut disebabkan keinginan petani kakao yang menginginkan proses singkat untuk mendapatkan uang.

Jika para petani kakao memutuskan untuk melakukan fermentasi, setidaknya membutuhkan waktu beberapa pekan, baru bisa dijual. Pertanyaannya, siapa yang mau menanggung biaya hidup petani kakao selama masa fermentasi? Pada akhirnya, menjual mentah adalah pilihan paling logis bagi petani kakao untuk bertahan hidup.

Saya tidak tahu, mereka yang merayakan Valentine dengan memberikan kado berupa cokelat, tak lupa dengan untaian kata mesra, apakah juga terbesit tentang bagaimana petani kakao supaya harga jual dari hasil buminya tersebut bisa lebih bagus dari Pantai Gading dan Ghana?

Ah, mungkin pertanyaan itu hanya akan membuat cokelatmu terasa pahit, lantas merusak suasana Valentine saja.

Tapi tak bisa dipungkiri, petani kakao di Indonesia hanya bisa menjual pada kisaran harga Rp 30 ribu per kilogram. Saat menjadi cokelat, harga produk tersebut bisa melambung tinggi. Terlebih dengan memasang merek dari produsen bergengsi. Seolah dengan mengonsumsi cokelat, maka status sosial Anda naik beberapa level.

Saya kemudian berpikir, jika pada masanya cokelat menjadi barang mahal untuk dihadiahkan kepada orang yang dicintai, kenapa tidak memanfaatkan hasil bumi bercitarasa lokal lainnya? Sebab, cokelat sudah terlalu mainstream, kita bisa menggantinya dengan cabai rawit.

Lho, saya tidak sedang bercanda. Kenapa cabai? Karena harga cabai rawit merah per kilogramnya jauh melampui harga kakao dalam beberapa bulan terakhir. Di beberapa daerah di Indonesia, harga cabai rawit merah sekitar Rp 140-150 ribu per kg.

Apakah Anda tidak bangga, memberikan hadiah yang unik – beda dari yang lain, anti mainstream – kepada pasangan saat perayaan Valentine? Terlebih harga cabai yang mahal, ini tentu akan menjadi kemewahan tersendiri. Ya betul, di negeri gemah ripah loh jinawi ini, lama-kelamaan cabai pun menjadi barang mewah.

Lantas bagaimana jika pasangan Anda protes karena ternyata hadiahnya adalah cabai rawit, bukan cokelat?

Gampang, jawab saja begini.

“Cabai membuatmu menjadi waspada, sayang. Kamu kepedesan dan tidak ngantuk. Sementara cokelat membuatmu begitu rileks, terbawa suasana, dan kemungkinan besar setelah itu ngantuk. Jangan sampai tertidur saat Valentine, apalagi di samping pacarmu ini. Sebab, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Waspada, waspadalah…”

“Oh ya, satu lagi sayang. Jika ada fatwa mengharamkan perayaan Valentine, nanti kita bisa ngeles. Lho, Valentine kan pakai cokelat, bunga mawar, dan macam-macam itu. Ini pakai cabai kok, Insya Allah halal!”

Kemudian bagaimana dengan nasib para petani kakao yang tidak kunjung sejahtera, ataupun petani cabai yang walaupun harganya sedang naik tetapi tidak banyak mendapat keuntungan?

“Negara, sayang. Negara. Negara harus hadir di tengah mereka. Itu adalah bentuk kasih sayang negara kepada rakyatnya.”

  • Syam Rudy

    30ribu itu harga dimana? Sulawesi sekarang 40ribuan per kg. Fermentation cuma butuh tambahan 3-5 hari, tidak berminggu2 ..