Kisah Janda yang Jadi Bahan Gunjingan, karena Sering Pulang Malam Demi Anak

Kisah Janda yang Jadi Bahan Gunjingan, karena Sering Pulang Malam Demi Anak

Ilustrasi (Alex Ivashenko/unsplash.com)

Dari seorang teman, saya mendapatkan cerita ini. Tentang bagaimana perjuangan seorang ibu yang bertahan dengan status janda. Anggap saja, saya menuliskan kembali ceritanya.

Teman saya mengenal perempuan setengah baya tersebut dengan baik. Beliau adalah rekan kerjanya selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. Seorang admin di sebuah apotek di Yogyakarta.

Ibu Admin – begitu teman saya memanggilnya – adalah ibu dengan satu anak lelaki. Meski sebagai single parent, si ibu tetap berusaha membesarkan anaknya dengan baik.

Ibu Admin pindah agama sejak menikah dengan suaminya sampai sekarang. Suaminya adalah anak ulama. Namun, sejak semula, pernikahan mereka sudah mengalami pertentangan yang besar dari keluarga laki-laki.

Bagi pihak lelaki, menikah dengan perempuan biasa – bukan dari kalangan ulama – seolah menjadi persoalan besar. Apalagi, menikah dengan perempuan yang sangat awam pengetahuan agama.

Maka, pernikahan tersebut tak bertahan lama, sebab sang suami tak bisa menentang keluarganya. Singkat cerita, Ibu Admin berpisah dan membesarkan anak semata wayangnya seorang diri. Dari cerita-cerita yang beliau tuturkan, saya memahami bahwa beliau adalah perempuan yang tegar.

Sampai pada suatu hari, beliau bercerita dengan air mata yang tertahan. Katanya, anaknya yang masih kelas 3 SD itu mengatakan bahwa masyarakat setempat menggunjingkan ibunya.

Saat anaknya pulang sholat berjamaah di mushola, segerombolan orang memperbincangkan bahwa ibunya selalu pulang malam dan sampai sekarang belum bersuami lagi.

Tentang masalah belum bersuami ini, seorang ustadz yang ikut pulang bersama-sama mereka mengatakan bahwa sebaiknya ibunya cepat menikah lagi. Alasannya adalah untuk menghindari fitnah.

Orang-orang yang menggunjingnya tersebut tahu bahwa Ibu Admin bekerja di dua tempat. Itu berarti, ia bekerja sekitar 16 jam setiap hari. Alih-alih menghargai perjuangannya, mereka malah menuduh sebagai perempuan tak baik lantaran sering pulang malam.

Ibu admin sepenuhnya menyadari bahwa menyandang status janda tidaklah mudah. Selain masyarakat memandangnya sebelah mata karena perkawinannya tidak berhasil, ia juga tidak satu-dua kali ‘diganggu’ oleh lelaki.

Istilah ‘diganggu’ ini digunakan, karena menurut Ibu Admin, beberapa lelaki yang mendekatinya bukan hanya yang berniat serius, tapi juga ada yang main-main.

Terlepas dari hal itu, ia sendiri sangat menyesalkan komentar tokoh agama. Ia berkata, “Saya memang orang yang awam agama, mbak. Tapi, saya cukup tahu bahwa janda seharusnya diberi dukungan yang besar dalam agama. Bukankah janda termasuk golongan yang berhak menerima zakat? Itu berarti Islam memang menempatkan mereka pada golongan yang lemah, yang wajib dilindungi, bukan sebaliknya.”

Apa yang bisa dikatakan kepada beliau selain bersabar? Dalam Islam, perceraian memang tidak disukai oleh Allah. Namun, jika jalan tersebut merupakan jalan terakhir, apa lagi yang bisa dilakukan?

Ibu Admin hanya satu dari sekian banyak janda yang kerap menjadi bahan gunjingan masyarakat. Data BPS menunjukkan, setiap tahun, ada sekitar 2 juta perkawinan dan 340-an ribu talak dan cerai.

Jawa Timur berada di peringkat pertama dalam hal talak dan cerai, dengan jumlah mencapai 87 ribu. Rekor tertinggi dalam 5 tahun terakhir di Jatim terjadi pada 2012, yaitu 91 ribu.

Saya rasa, untuk dua orang yang menikah karena saling mencintai, memutuskan untuk berpisah bukanlah keputusan yang mudah. Dan ini yang luput dari penilaian masyarakat kita.

Terkadang, mereka sering sekali melakukan penilaian yang memberatkan salah satu pihak. Seolah apa yang diamini oleh banyak orang merupakan sesuatu yang benar.

Apakah mereka pernah merasakan lelahnya bekerja 16 belas jam sehari? Atau, betapa beratnya membesarkan anak seorang diri? Dua hal ini saja sudah sangat berat, apalagi ditambah penilaian negatif yang ditimpakan masyarakat kepadanya.

“Kalaupun tidak bisa memberikan bantuan materil, setidaknya mereka tidak menekan saya. Saya teramat sedih, karena anak saya yang tak tahu apa-apa itu ikut terlibat. Takut sekali jika ia merasa tak berharga, karena tak dibesarkan oleh keluarga yang utuh.”

Pada penilaian yang tidak sepatutnya itu, kita seharusnya kembali berpikir. Selama ini, penilaian hanya dilakukan melalui ukuran norma yang diikuti secara buta.

Benar bahwa pulang malam adalah sesuatu yang membahayakan bagi perempuan. Tapi, menerapkan hal itu kepada semua orang tanpa melihat alasan dibaliknya, sepertinya lebih membahayakan.

Mungkin bagi si ibu, rasa sakit akibat jadi bahan gunjingan bisa ia redam. Tapi bagaimana dengan anaknya, apakah kita bisa tahu seberapa dalam hatinya terluka?

1 KOMENTAR

  1. Ya itulah masyarakat disekitar kita..pihak perempuan banyak yg menjadi pihak terdiskriminasikan.. mungkin baru 1/4 yg bisa menikmati kebebasan dan penghargaan sebagai layaknya manusia…

TINGGALKAN PESAN