Kisah Gelas yang Tak Penuh Terisi dan Manusia sebagai Makhluk Berhati

Kisah Gelas yang Tak Penuh Terisi dan Manusia sebagai Makhluk Berhati

glossglam.com

Jakarta. Kota yang menawarkan mimpi sekaligus kejenuhan. Sialnya, dua hal itu tak melulu sepaket. No pain, no gain. Itulah kalimat yang sering dilontarkan para motivator super dan orang-orang yang sudah sukses lebih dulu. Prinsip tersebut jelas tak terelakkan.

Jika anda ingin naik kelas ke level menengah atau bahkan superkaya, ya kerja keras (dan cerdas), bukan pergi ke padepokan pengganda uang. Mosok masih nggak paham juga? Kalau masih ngeyel, ucapkan selamat datang pada kejenuhan hidup. Kubur dalam-dalam mimpi anda sekarang juga.

Tapi memang masalahnya, jalan untuk menggapai mimpi terkadang amat menjenuhkan dan bikin panas hati. Banyak hal yang harus dikorbankan, salah satunya kenyamanan. Merasakan bagaimana pergi kerja pagi-pagi buta, lalu baru bisa pulang kalau hari sudah gelap.

Kalau sudah begitu, tidur hanya sebatas siasat merebahkan badan dan pikiran yang mumet. Coba bayangkan, situasi itu terus berlangsung secara berulang-ulang, jenuh kan? Saya termasuk golongan orang-orang yang terpaksa bangun pagi itu. Wajib sampai kantor jam 7. Setelah doa bersama, maka dimulailah ritual mengais rezeki, yang Alhamdulillah ya cukup untuk nyicil Alphard atau Rubicon.

Saya biasa tiba di kantor antara pukul 06.00-06.20 WIB. Kadang masih ngantuk, tapi ya mau bagaimana? Supaya mata tetap terang dan bening seperti hatimu, saya selalu menghibur diri di sudut pantry. Mulai dari membaca artikel, misalnya di Voxpop, sampai menikmati video musik artis Korea yang seksi-seksi dengan memanfaatkan wifi kantor. Hihihi…

Tapi pada suatu hari, akibat password wifi baru saja diganti dan sebagian besar orang tidak tahu, terpaksa hanya bisa membuka situs-situs tertentu dengan kuota minimalis. Padahal, berita yang saya baca jauh dari kesan minimalis. Ada seorang presenter cantik yang menikah dengan orang yang baru dikenal selama tujuh hari, tapi sebelum itu dihadiahi mobil dan arloji Rp 4 miliar!

Sementara saya, masih saja bersenang-senang di salah satu sudut pantry yang tak luas-luas amat. Nikmat mana lagi yang bisa saya dustakan? Gagal nonton video musik artis Korea plus internetan dengan kuota minimalis. Inikah simulakra kelas menengah? Halahh…

Tak lama setelah itu, beberapa kawan mulai berdatangan. Mbak Gita, salah satunya, yang juga singgah di pantry-ku istanaku. Selesai helo-heloan, saya tak sengaja mengamati apa yang dilakukan mbak Gita. Pagi itu, ia menuangkan liter demi liter air ke dalam gelas-gelas yang siap diedarkan ke seluruh insan korporat. Penuh presisi, tetapi tidak penuh terisi.

Lalu saya bertanya, “Kenapa nggak dipenuhin aja, Mbak?” Dia menjawab, “Sisanya mau diisi air panas, Mas.” Mendengar itu, saya coba berkontemplasi ala-ala guru spiritual filsuf gadungan. Entah mengapa pikiran ini langsung terbuka, cerah, dan bersinar.

Mbak Gita ternyata melakukan itu untuk menghasilkan gelas yang berisi air hangat. Yaelahh… standar amat. Nggak perlu jadi filsuf gadungan kalau cuma begitu, keleus…

Jadi begini, sekitar ¾ gelas diisi air dengan suhu netral dan sisanya air panas. Cukup logis, karena walau kepala dan hati sudah cukup ‘panas’ menghadapi kemacetan lalu lintas dan puadetnya penumpang kereta listrik, perut tetap butuh relaksasi. Jika minum air dingin, perut bisa melilit. Minum air dengan suhu netral juga akan terasa hambar. Minum air mendidih? Ya kali.

Tapi dibalik itu, sebetulnya ada makna lain yang bisa kita pahami, yang masih ada kaitannya dengan jalan menggapai mimpi yang terkadang amat menjenuhkan dan bikin panas hati itu. Sebuah makna yang menyembul dengan mengaitkan gelas-gelas tersebut dengan hati manusia.

Mungkin hati manusia sama dengan gelas presisi yang tak penuh terisi. Harus disisakan ruang kosong supaya kita siap berbagai hal dengan suhu bervariasi. Ya, karena manusia tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi, bukan?

Di zaman yang serba semrawut ini, tentu ada banyak hal yang tak sesuai ekspektasi. Contohnya, pada hari itu, saya melayani seorang nasabah yang berasal dari Pulau Jawa. Ia bukan nasabah sembarangan, melainkan prioritas. Nasabah dengan kartu ATM khusus. Cukup tunjukkan kartu prioritas di cabang atau unit kerja manapun, ia langsung dilayani tanpa perlu mengantre.

Jangan pikir mereka egois, karena mereka memang punya hak untuk itu. Jika anda memenuhi persyaratan dan saldo yang (lebih dari) cukup layak, anda dapat mengajukan diri menjadi nasabah prioritas dan menikmati berbagai fasilitas. Ya begitulah.

Tapi permasalahannya, ada hal yang terjadi di luar kuasanya. Kartu ATM beliau terblokir. Lupa PIN tiga kali. Jika sudah begitu, PIN-nya harus direset atau istilah lainnya di-reissue. Secara regulasi, nasabah prioritas maupun tidak, harus membawa kartu ATM yang terblokir, buku tabungan, dan KTP untuk reissue.

Nah, nasabah tersebut tidak membawa buku tabungan dan KTP. Sulit bagi kami untuk melakukan verifikasi. Saya sempat bertanya, “Tertinggal di mana, Pak?” Ia menjawab singkat, “Di Makassar.”

Bapak itu pun hanya bisa terdiam. Untunglah ia tak sendiri, masih ada sanak famili yang menemani. Setidaknya masih ada solusi untuk menjelajahi Jakarta yang bikin pusing kepala ini.

Inilah yang saya sebut sebagai hal tak terduga dengan suhu bervariasi. Apa yang terjadi tentu bikin panas hati bapak tadi. Niatnya pergi ke Jakarta ingin belanja, sambil wara-wiri, tetapi kartu ATM malah terblokir.

Jika kita asosiasikan hati dengan gelas-gelas yang penuh terisi, maka bayangkan apa yang akan terjadi? Gelas penuh berisi air bersuhu netral – jika diisi air panas – maka air di dalamnya akan tumpah ruah. Air dalam gelas dapat berganti dan dipenuhi air bersuhu panas. Pasti bawaannya emosi kayak orang-orang Jakarta menjelang pilkada sekarang ini. Eeaaa…

Mungkin ada masa ketika kita benar-benar hanya menyiapkan hati untuk sekadar bersenang-senang dan merasa tenang. Layaknya air bersuhu netral di dalam gelas yang tak penuh terisi dan dituangi air panas, maka akan berubah menjadi air hangat yang bisa membuat kita tetap nyaman.

Gimana, saya sudah layak mengisi pangsa pasar yang ditinggalkan Pak Mario Teguh, belum?

  • Wah sangat menghibur dan memberikan berita fakta lewat prosa yang ringan. Menghibur sekaligus memberikan fakta. Saya suka 😀

  • Halo Rula, terima kasih banyak 😀
    Iya nih, lagi seneng berprosa ria haha