Kiri Kanan itu Apa sih, Kenapa Nggak di Tengah-tengah?

Kiri Kanan itu Apa sih, Kenapa Nggak di Tengah-tengah?

bassam21312.deviantart.com

Belakangan banyak sekali artikel yang membahas pembubaran diskusi atau seminar yang dianggap kiri. Tidak sekadar nulis, tapi mengulasnya dari beragam teori dan perspektif, serta angle yang berbeda.

Sebagai penulis apa-apalah ini, saya coba untuk mengulasnya dari sisi lain, sebab aksi pembubaran diskusi, pemutaran film, dan pentas seni secara paksa terus menerus mengisi batok kepala.

Pembubaran kegiatan publik lagi-lagi mengonfirmasi bahwa narasi anti-kiri masih terus dipelihara dan direproduksi sedemikian rupa. Dari mulai kekejaman yang katanya dilakukan oleh orang-orang kiri hingga propaganda asyik dan kenikmatan menjadi kanan. Wis uenak jamanku toh..?

Lalu, kiri itu apa sih? Begitu juga dengan kanan yang selama ini jadi lawannya. Yang pasti bukan rambu-rambu lalu lintas ‘belok kiri boleh langsung’ seperti nyinyiran Gege Sureggae.

Mendefinisikan kiri atau kanan adalah hal yang sangat perlu, sebelum komentar sana-sini di media sosial. Konon, istilah kiri dan kanan, atau bahkan tengah muncul di Prancis tatkala Raja Louis XIV memposisikan pendukung dan lawannya dari sisi-sisi tersebut.

Jadi ceritanya, para pendukung sang raja berada di posisi kanan dan pengkritiknya atau yang menentang kekuasaannya berada di sebelah kiri. Tapi ada juga yang di tengah-tengah. Mereka adalah orang-orang yang bingung menentukan posisi atau mungkin lebih tepatnya cari aman kali yee..

Yang tengah ini tipikalnya persis sama dengan kelas menengah pragmatis oportunis yang selalu cari aman dan jauh dari nalar kritis. Saat kiri menguntungkan, mereka ikut atau dukung kiri. Saat kanan lebih menguntungkan, mereka pasti anti-kiri. Ya gitu deh.

Kiri dan kanan mungkin identik dengan perilaku politik. Untuk mengetahui secara pasti soal definisi dari kiri dan kanan, kita harus mengerti soal politik. Tapi jidat anda jangan langsung berkerut dulu, karena itu logika yang teramat minimalis. Semoga bukan penyederhanaan.

Soal acara yang dianggap kiri, misalnya Belok Kiri Festival, nyatanya tak berjalan mulus sesuai rencana. Rangkaian acara yang sejatinya adalah peluncuran buku ‘Sejarah Gerakan Kiri untuk Pemula’ itu diprotes habis-habisan oleh kelompok masyarakat yang katanya juga bisa dibilang kelompok kanan.

Tak tanggung-tanggung, representasi dari kelompok penolak ini datang dari sebuah inisiatif yang mengatasnamakan pemuda dan mahasiswa Islam. Kemudian, istilah komunis gaya baru semakin populer dikumandangkan.

Bahkan di akun Facebook Front Pang-Islamna, postingan video pembukaan festival yang menampilkan sang penulis Yayak Yatmaka dan beberapa panitia, yang menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan riang gembira, jadi amunisi mereka untuk membakar para anti-kiri agar mau berjihad.

Fobia kiri yang diasosiasikan dengan komunisme, terlebih dengan kekejaman dan kebrutalan rezim komunis, dari pembunuhan hingga narasi anti-tuhan, terus menerus direproduksi dan didoktrinasi ke dalam batok kepala.

Ini tentu hal yang menggelikan mengerikan. Terlebih, di tengah membludaknya informasi yang mengabarkan sebuah fakta. Dari mulai penelitian-penelitian canggih yang dilakukan sejarawan Indonesia hingga pemikir-pemikir level internasional.

Adanya penolakan terhadap acara-acara, yang bisa dianggap penolakan secara menyeluruh terhadap ide-ide dan gagasan-gagasan kiri, adalah bukti masih kuatnya gagasan kanan.

Sekali lagi, untuk mengerti soal ini, kita mesti ngerti soal politik. Karena, dalam sejarahnya, kiri dan kanan adalah pertentangan dan perebutan kekuasaaan politik. Mengapa politik? Ya itu tadi, kiri dan kanan sekadar untuk menggambarkan perilaku politik.

Artinya, yang diduga kuat kiri ternyata tak selalu identik dengan komunis. Contohnya bagaimana para pendukung Partai Demokrat di Amerika dianggap kiri ketika berhadapan dengan Partai Republik yang konservatif dan reaksioner alias kanan.

Nggak percaya? Coba di bookmark dulu Wikipedia, kalau malas cari referensi-referensi yang lebih komprehensif semacam buku atau hasil-hasil penelitian ilmiah.

Berkaca dari soal ini, betapa anehnya melihat tantangan dan penolakan para pemuda harapan kakanda bangsa itu yang selalu menstigma kiri dengan komunisme.

Apa mereka tak pernah baca Wikipedia? Jangankan mengkaji ide dan gagasan kiri, baca artikel pendek semacam ini saja bisa jadi waspada bagi mereka.

Kalau kata orang bijak, soal kiri saja mereka nggak paham, apalagi soal ide-ide dan gagasan komunisme. Belum lagi rumitnya pemikiran Marxisme-Leninisme. Tapi ini sudah main tolak-tolakan. Kalau mau gagah-gagahan ke Kalijodo saja. Kalau Kalijodonya sudah digusur, silakan ke Alexis.

Kiri bisa saja identik dengan Marxisme, Komunisme, ataupun isme-isme lainnya. Tapi menolak dan menjauhkannya atau bahkan memberangus pemikiran kiri adalah tindakan barbar.

Bukankah Proklamasi Indonesia Merdeka tahun 1945 itu tak akan terjadi, jika tak dipelopori oleh orang-orang kiri? Bahkan Soekarno, sang proklamator, mengaku seorang kiri. Pemikirannya berlandaskan pemikiran Karl Marx, mbahnya komunis.

Kalau kata Ali bin Abu Thalib, dedengkot Syiah, kita tak akan mengetahui suatu kebenaran yang baru, jika tak mengetahui kesalahan-kesalahan dari yang sebelumnya dianggap kebenaran.

Lebih kurang seperti itulah pesannya. Saya lupa-lupa ingat. Lagipula kalau ingat, saya nanti distigma penganut Syiah. Kalau nanti dideportasi, mau hidup dimana?

Oh ya, satu hal lagi, yang kiri-kiri itu juga banyak. Ada kiri mentok, kiri luar, kiri tengah, kiri atas, kiri bawah, dan kiri-kiri lainnya. Bahkan yang kekiri-kirian juga banyak. Jadi kiri yang mana, kakanda?

Di antara kelompok kiri pun saling bertarung dan membuktikan siapa yang paling kiri. Ini bukti pemandangan kiri dibangun atas landasan ilmu pengetahuan. Tidak seperti kanan yang berdiri di atas kedunguan dan kebebalan.

Jadi bagaimana? Anda kiri atau kanan? Atau, tengah-tengah?

  • Bangsa Indonesia bangsa harmonis yang toleran… 😀