Kiat Menjadi Warga yang Selow usai Pilkada
CEPIKA-CEPIKI

Kiat Menjadi Warga yang Selow usai Pilkada

harindabama.com

Saya masih ingat ketika pertama kali mengumumkan rencana pernikahan saya. Seorang teman baik bersama anak dan istrinya bela-belain datang dari Jakarta ke Denpasar – waktu itu saya masih di Bali – cuma buat ngasih nasihat.

Maklum, jaman itu masih jamannya BBM, sementara saya gak punya BB. Di bawah temaram cahaya bulan dan di tengah dinginnya hembusan angin malam di Pantai Double Six, saya ingat dia bilang begini:

“Pernikahan itu gak kayak kata orang-orang, mempersatukan dua orang atau bahkan dua keluarga dalam satu ikatan. Yang paling penting itu adalah tumbuh bersama…”

Dan, sampai sekarang, saya masih gak ngerti itu maksudnya apa?

Saya menikah sudah lama, waktu itu Jakarta masih dipimpin Pak Fauzi Bowo. Jadi saya gak bisa bilang ke teman saya itu, kalau dia bisa ngomong gitu karena posisinya lebih enak. Dia bisa konsentrasi ‘tumbuh bersama’, karena sudah tidak perlu memikirkan hal-hal mendasar.

Gak punya rumah bisa nyewa rusun Pak Ahok, ke mana-mana bisa pakai bus Trans Jakarta, sekolah anak ada Kartu Jakarta Pintar, bahkan kalau sakit sudah ada Kartu Jakarta Sehat.

Atau, seandainya saya menikah pada hari ini, saya tetap bisa bilang kalau dia lebih enak, karena bisa punya rumah dengan DP 0%, tiap RW akan dapat bantuan Rp 2 miliar, dan ke mana-mana bisa naik ojek terbang.

Sayangnya, Pak Anies dan Pak Sandi baru menjanjikan bantuan untuk RW-RW. Seandainya Rp 2 miliar itu dijanjikan kepada calon-calon kepala keluarga, saya yakin Jakarta bisa jadi daerah pertama yang bebas jomblo. Selain makmur tentunya. Gemah ripah loh jinawi, kalau kata orang Jawa. OK OCE, kalau kata Pak Sandi.

Tapi saya tahu pasti teman saya itu akan menjawab, “Enak apanya?! Jaman Ahok, Stadium ditutup. Dan sekarang, Pak Anies sama Pak Sandi malah mau nutup Alexis…”

Ngomong-ngomong soal Jakarta, berdasarkan hasil hitung cepat, sepertinya ibukota negara kita akan punya gubernur dan wakil gubernur baru. Saya pikir pilkada itu gak beda jauh sama proses pernikahan, saya contohnya.

Kedua keluarga bertanya-tanya siapa yang akan jadi pasangan anak-anak mereka. Dan, yang bisa kami berdua janjikan waktu itu ya cuma visi-misi dan pogram-program berkeluarga yang tepat, aman, nyaman, efektif, dan efisien.

Repotnya, saya gak bisa gembar-gembor kalau saya adalah suami petahana. Pasti ditolak kalau itu. Nah, waktu menikah, keluarga besar kedua pihak datang, lalu menerima dengan sumarno, eh maksud saya legowo, pilihan anak-anak mereka.

Teman-teman juga datang, padahal di undangan resepsi pernikahan cuma tertulis ‘undangan pernikahan’, bukan tamasya. Yang gak datang malah teman saya yang ngasih nasihat tadi. Sapi memang.

Tapi di titik inilah, saya jadi teringat pada nasihat teman saya itu. Pilkada sama dengan menikah. Omong kosong, kalau mau mempersatukan pendukung kedua kubu yang perseteruannya di media sosial ngalah-ngalahin berantemnya Dewi Perssik sama Nassar. Jonru-Jonru baru dan Denny Siregar-Denny Siregar baru pasti akan bermunculan. Itu biasa.

Yang bisa dilakukan warga Jakarta sekarang ini adalah tumbuh bersama. Masak karena Pak Anies yang jadi gubernur, lalu pendukung Pak Ahok mendoakan supaya Jakarta banjir terus? Kan ikut kebanjiran juga mereka.

Gimana, saya udah bijaksana kayak teman saya belum? Dan yang penting, kalian ngerti gak, mblo?

Yang kalah pasti kecewa, tapi ya harus bisa terima. Minimal masjid-masjid sekarang gak pilih-pilih jenazah lagi. Kalau diibaratkan perkawinan, anggap saja yang kalah itu sekarang jadi mertua dan gubernur terpilih adalah menantunya.

Kalau tidak benar ya ditegur, bukan diomongin ke tetangga-tetangga. Pendukung yang menang juga bisa mengganggap dirinya sebagai istri Pak Anies. Kalau belanja-belanja, beliau bisa disuruh bawain. Apa gunanya punya suami kalau gak mau bawain belanjaan?

Pak Ahok juga bisa bekerja menyelesaikan masa jabatannya seperti mantan yang membereskan barang-barang di kamar kita karena sudah kita putusin. Lalu kita sadar kalau gak punya apa-apa karena ternyata semuanya punya mantan.

Tapi gak apa-apa, pasangan yang baru akan mengisinya dengan hal-hal yang baru juga. Tumbuh bersama. Asal kuat dicerewetin mertua. Nanti kalau tivi-tivi nasional menyiarkan pelantikan Pak Anies, ya ditonton saja. Anggap aja datang ke resepsi mantan. Gak usah spanneng nontonnya, nanti malah lengkuasnya kemakan lho…

Begitupun, anggota keluarga yang nyinyir pasti ada aja. Yang gak senang dengan apapun yang kami kerjakan, yang gak puas dengan apapun yang kami lakukan, dan yang nyebar-nyebarin hoax ke tetangga-tetangga. Anggota keluarga yang cuma mau melihat dunia hancur.

Kalau ketemu yang gini-gini, tidak usah risau, ingatkan saja kalau setelah ini masih ada Pilkada Jawa Barat. Tenang saja, riaknya sudah mulai terasa.

Ngomong-ngomong soal mantan, saya jadi ingat pas ketemu mantan beberapa bulan setelah menikah. Setelah mengucapkan basa-basi ‘selamat menempuh hidup baru’, beliau ingin tahu istri saya. Sayangnya, saya cuma bisa nunjukkin fotonya. Komentarnya lumayan membesarkan hati.

Katanya, “Istrimu cantik juga ya?”

Saya cuma bisa menjawab lugas, “Kamu kira saya mutusin kamu karena saya gila?”