Kiat Menjadi Mahasiswa yang Kaffah

Kiat Menjadi Mahasiswa yang Kaffah

theodysseyonline.com

Masuknya mahasiswa-mahasiswi baru adalah momen yang paling mendebarkan. Setidaknya bagi para senior. Para mahasiswa lama yang sudah nyrempet basi itu seketika berubah menjadi elang kampus, dengan daya sorot mata yang tajam.

Dengan segala macam modus dan atas nama keharmonisan kehidupan di kampus, mereka akan mencari tahu siapa mahasiswi yang layak digebet. Kalau toh nggak bisa dipacarin, ya minimal bisa menebar jaringan untuk menggaet teman si mahasiswi baru.

Selain godaan mahasiswa lama yang sebenarnya terlampau kuno dan udik dalam menggebet mahasiswi baru, ada banyak macam godaan lain yang akan ditemui para mahasiswa/i baru. Paling nyata adalah godaan untuk memanfaatkan jatah bolos kuliah. Kuliah memang berbeda dengan sekolah biasa. Paling kelihatan dalam hal membolos.

Saat sekolah, kegiatan membolos akan dilaporkan ke orang tua. Dan, tidak ada jatah maksimal untuk membolos. Ketika membolos sekolah, hukumnya berubah menjadi haram dan para siswa diganjar hukuman yang memicu kontroversi hati: nyinyiran guru dan orang tua, termasuk yang paling pedih: pemangkasan anggaran pendapatan dan belanja harian (APBH) alias biaya kenakalan uang jajan.

Ketika kuliah, kita malah diberi ruang untuk membolos. Biasanya diberi jatah tiga kali untuk satu mata kuliah selama satu semester. Tidak ada hukum yang melarang, asalkan tidak menabrak batas maksimal. Bolos secara bertanggungjawab. Drink responsible.

Tapi yang namanya manusia, kadang suka kalap khilaf. Akibat keenakan membolos, kadang lupa kalau jatahnya sudah habis. Kalau sudah melewati batas maksimal, hukumannya bisa berupa larangan untuk mengikuti ujian akhir semester (UAS). Akibatnya, kelulusan menjadi sesuatu yang sangat dirindukan layaknya kamu.

Nah, bagi mahasiswa/i baru yang akan menapaki jalan sebagai pemuda-pemudi penerus bangsa, saya sebagai mahasiswa yang sudah nyrempet basi ini mau menyumbang saran atau kiat. Kalau motivator memasang tarif mahal, saya justru tidak akan meminta bayaran. Apalagi minta dicarikan jodoh. #BukanModus. Cukup doakan agar saya bisa wisuda tahun ini. Itu saja.

Berikut kiat-kiatnya:

1. Hindari Tatapan Langsung dengan Senior

Ada dua hal yang menyebalkan saat memasuki dunia kampus. Dosen yang super menyebalkan (beruntung kampus saya tak seperti itu) dan kakak senior yang sangat ingin dihormati. Perihal dosen, saya tak akan memberikan saran apa pun. Dosen adalah perpanjangan tangan Tuhan. Selesai.

Tapi untuk mahasiswa tua yang menyebalkan, saya punya saran, tapi tolong jangan di-bully. Jangan sekali-sekali mencoba bertatapan langsung dengan mereka. Tatapannya mengisyaratkan banyak hal. Yang paling sering adalah pencarian target untuk dijadikan gebetan.

Kalau ada senior yang seperti itu, biasanya mereka baru saja merasakan pedihnya putus cinta. Makanya, mereka mencari pelampung supaya tidak tenggelam ke dalam kenangan. Kecuali, kamu rela ditenggelamkan kayak kapal asing yang masuk perairan Indonesia tanpa izin. Tenggelamkan!

2. Menjadi Mahasiswa “Kura-kura

Dalam dunia perkuliahan, ada istilah “kupu-kupu” atau kuliah pulang-kuliah pulang. Istilah itu disematkan bagi mahasiswa yang kehidupannya hanya seputar kampus dan kamar kos. Tidak mengikuti kegiatan apa pun di kampus.

Saran saya, jangan menjadi mahasiswa “kupu-kupu”. Jadilah mahasiswa “kura-kura” atau kuliah rapat-kuliah rapat. Ilmu yang kalian dapatkan di ruang kelas tak lebih banyak dibandingkan ketika kalian bekerjasama dan bersosialisasi dengan teman sejawat. Kalian tak akan tahu gosip panas yang sedang melanda fakultas, kalau hanya berteman dengan kesendirian.

Bukankah menggosip itu buruk? Lah, kata siapa? Buktinya tayangan infotainment sampai saat ini juga masih digemari emakemak rumah tangga. Kalau buruk, sudah pasti ormas paling alim di negeri ini latah menggeruduk stasiun TV yang getol tayangkan acara gosip, bukan? Standar baik dan buruk di republik ini kan ditentukan oleh mereka yang suka main gebuk.

Manfaat lain dari kegiatan kampus adalah keuntungan dalam membolos. Kegiatan-kegiatan kampus biasanya menguras banyak waktu. Tak jarang, perkuliahan terganggu akibat kesibukan. Manfaatkan jatah membolos yang biasanya tiga kali untuk satu mata kuliah selama satu semester itu untuk kegiatan kampus atau organisasi.

Ini adalah perwujudan dari jargon “bolos secara bertanggungjawab”. Jangan bolos kalau tak ada gunanya. (pelintiran dari jangan begadang kalau tak ada gunanya detected).

3. Turun ke Jalan dan Membantu Masyarakat

Setelah mengikuti aktivitas kampus, kurang afdhol kalau tidak melengkapinya dengan ikut turun ke jalan alias unjuk rasa. Mahasiswa cupu, kalau belum merasakan dinginnya badan akibat disemprot air yang keluar dari water cannon.

Belum menjadi mahasiswa, kalau belum hafal lagu “Darah Juang” dan “Mars Mahasiswa” yang melegenda dan menyanyikannya di tengah jalan raya. Belum lengkap rasanya kalau mengepalkan tangan masih menggunakan tangan kanan, bukan tangan kiri sebagai tanda perlawanan.

Coba pejamkan mata saat menyanyikan dua lagu wajib tersebut. Resapi kata demi kata dua lagu tersebut. Masukkan setiap katanya ke dalam lubuk hati kalian. Paksakan hati kalian menerima pesan tersebut. Resapi dalam-dalam. Kalian tak bisa melakukannya? Sama.

Tapi begini, turun ke jalan itu fungsinya dua. Selain untuk mengawal kebijakan pemerintahan yang amburadul, itu juga bisa jadi ajang show off ke gebetan. Cinta bersemi saat aksi alias CBSA. Biar dunia tahu, kalau situ adalah mahasiswa yang peduli. Kacang yang tak lupa bungkusnya. Nasi goreng yang tak lupa… bayar ke abangnya.

Kalau ada yang nyinyir kepada kalian karena memilih untuk turun ke jalan, bisiki kupingnya dengan nada pelan sedikit mendesah, “Asyuuu…” Mengapa mahasiswa harus sesekali turun ke jalan? Agar masyarakat tahu bahwa mereka tidak sendirian. Kamu saja nggak mau toh ditinggal pacar jadi orang yang sehari-harinya meratapi kesendirian di kamar kosmu yang sempit itu?

4. Makan Mie Instan

Nah, ini yang paling populer, makanya saya taruh di bawah. Cara terakhir agar menjadi mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa adalah makan mie instan pada akhir bulan. Menjadi mahasiswa adalah jalan paling mudah untuk merasakan duka yang sama dengan masyarakat menengah ke bawah. Makan dua hari sekali. Seadanya.

Tak elok, kalau kalian makan di Mukidinal – restoran cepat saji dari Amerika – ketika di luar restoran ada ibu-ibu tua yang menanti uluran tangan kalian. Mie instan adalah kita. Ia penyelamat saat kita kelaparan tengah malam. Berharap negara hadir untuk itu?

Seperti Francesco Totti yang erat hubungannya dengan AS Roma, maka mie instan juga sangat erat kaitannya dengan mahasiswa. Mie instan juga menjadi teman paling sejati mahasiswa. Bukan pacar. Apalagi selingkuhan. Hanya mie instan yang bisa melepas rasa lapar mahasiswa, yang lagi krisis makan nasi. Hidup mie instan! Eh salah, hidup mahasiswa!

Demikian saran atau kiat, yang saya yakin itu menjadi jalan menuju mahasiswa yang kaffah alias sesungguhnya. Bukan mahasiswa yang menjunjung tinggi paham khilafah. Kalau kamu ikut-ikutan paham itu, maaf… Kita lebih baik putus. *Mumpung musim mahasiswa/i baru… 🙂