Ketika Ondel-ondel Menjadi Offdel-offdel

Ketika Ondel-ondel Menjadi Offdel-offdel

apakabardunia.com

Ondel dan Ondel tidak sakit. Tapi belakangan ini mereka harus terus menerus menenggak pil. Pilkada. Ondel dan Ondel adalah sepasang makhluk halus yang gentayangan menjaga Jakarta. Tugas mereka menolak bala, menjauhkan ibukota dari serangan roh-roh jahat.

Supaya eksis, Ondel dan Ondel kerap bersemayam di tubuh boneka-boneka besar yang menjadi maskot DKI, diarak pada berbagai keriaan yang digelar masyarakat Betawi, dinyanyi-nyanyikan, dan memakai kostum warna-warni.

Tetapi ada masanya Ondel dan Ondel merasa lelah. Ketika Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok cuti dari jabatan gubernur, Ondel dan Ondel pun ikut-ikutan. Mereka yang biasanya ‘on’ menjadi ‘off’. Offdel dan Offdel.

Cutinya Ahok membuat kantor Balai Kota mendadak sepi dan lengang. Warga Jakarta yang biasa berbondong-bondong datang ke sana semacam kehilangan alasan untuk bertandang. Bertolak belakang dengan Kantor Balai Kota, berbagai isu justru semakin gaduh dan sesak. Pak Susilo Bambang Yudhoyono, ayah Agus Harimurti Yudhoyono, cagub nomor urut 1, kerap turut memeriahkan suasana.

Pada suatu akhir pekan, demonstran dari berbagai penjuru nusantara pun berbondong-bondong memenuhi ibukota. Aksi yang dijanjikan akan damai ternyata tak terhindar dari berbagai kehebohan. Offdel 1 menyimak film layar lebay (bukan layar lebar) tersebut secara intens. Sementara Offdel 2 sudah terlalu sakit kepala.

“Del, kata lu ini ngapa begini yak keadaannya?” Offdel 1 memancing diskusi.

“Pan kita lagi op. Kagak usah mikir begini-ginian dah,” tepis Offdel 2.

“Tapi lagi rame, Del. Elu pilih siapah?”

“Auk. Emang elu pilih siapah?”

“Belon tau sih. Tapi nyang pasti gua bakal pilih nyang paling kayak kita.”

“Kayak kita pegimana? Udah mabok pil (kada) juga lu gua rasa. Lu kata ada cagub nyang kayak ondel-ondel?!”

“Lah, masa kagak ada? Calon pemimpin Jakarta entu kudu kayak ondel-ondel. Lu tau kagak ngapa?”

“Kagak. Tapi gua kagak mau tau. Ya udah dah, gua mau ngaso. Lu nonton sendiri ajah ya?” sahut Offdel 2 sambil terbang ke puncak Monas.

Sepeninggal Offdel 2, Offdel 1 kembali menyaksikan rangkaian peristiwa menjelang pilkada dengan seksama. Ia sadar betul ketika berkata pasangan cagub dan cawagub DKI harus seperti ondel-ondel.

Ondel-ondel selalu datang berpasangan. Mereka selalu bekerja sama menolak bala. Artinya, pasangan cagub dan cawagub yang ideal pun harus bisa bekerja sama menjaga Jakarta. Harus mampu – atau setidaknya punya ketulusan hati untuk berusaha – menjauhkan ibukota dari roh-roh jahat yang mengganggu kedamaian warga.

Selain itu, meski senantiasa diarak dan menjadi bintang kemeriahan, ondel-ondel tak pernah datang untuk merayakan diri mereka sendiri. Sekali lagi: tak pernah datang untuk merayakan diri mereka sendiri.

Ondel-ondel selalu hadir untuk memberi dukungan. Makhluk-makhluk berwujud 2,5 meter ini dipercaya mempunyai kekuatan, tapi bukan untuk berkuasa dan menindas. Sebaliknya, dengan kekuatannya, ondel-ondel justru menjauhkan masyarakat dari penyakit, wabah, mendatangkan rejeki, dan melindungi mereka dari segala marabahaya.

Jauh sebelum disebut ondel-ondel, karakter ikonik tersebut dikenal dengan nama ‘barongan’ alias ‘barengan’. Kenapa? Karena kedatangan ondel-ondel selalu disertai dengan ajakan, “Nyok kita ngarak bareng-bareng”.

Kualitas ini pun perlu dimiliki oleh cagub dan cawagub DKI kelak. Bukannya mencerai-berai, para pemimpin DKI justru perlu bergerak merangkul warga Jakarta yang majemuk untuk dapat berjalan beriringan.

Offdel 1 mengamati gerak-gerik tiap kandidat. Agus- Sylviana adalah pasangan yang paling banyak mendulang dukungan selebritas. Mungkin karena Annisa Pohan, istri Agus, cukup terkenal di dunia hiburan. Mungkin juga karena Sylviana Murni sempat menjadi None Jakarta. Atau jangan-jangan karena ayah Agus, Pak SBY, pernah membuat album musik.

Sejauh ini, Ahok-Djarot adalah pasangan yang paling kuat dan populer meski paling banyak pula diterpa badai, terutama isu SARA. Kendati begitu, jumlah warga dari berbagai suku, agama, dan kalangan yang dengan militan “ngarak bareng-bareng” Ahok dan Djarot masih besar sekali.

Sementara itu, Anies-Sandi yang good looking dan digandrungi ibu-ibu tampak memilih jalan kampanye yang aman-aman saja. Mereka bersikap simpatik kepada warga dan menunjukkan sikap santun kepada calon-calon lainnya.

Offdel 1 menimbang-nimbang. Ia sepertinya tahu siapa yang akan dipilihnya. Ia terbang ke puncak Monas untuk mendiskusikannya dengan Offdel 2.

“Del, Del, kayaknya gua udah tauk mau pilih siapah.”

“Gua baru sadar. Kita ini pan roh halus, kagak punya KTP. Kita kagak punya hak pilih, tauk,” tukas Offdel 2.

Offdel 1 tersadar dan mendadak kecewa.

“Ya udah, jangan sedih. Kita ‘on’ lagi aja nyok. Gua rasa Jakarta butuh tolak bala lagi, jadi kita jangan op lama-lama.”

“Iya. Monas.”

“Maksud lu?”

“Mo nas-ib Jakarta kayak apa juga, ondel-ondel kudu selalu ada.”

“Ah, ada-ada ajah lu. Nyok, cari boneka ondel-ondel!”

Offdel 1 dan Offdel 2 kembali ‘on’. Mereka bergentayangan mencari tubuh,  menjelma lagi menjadi Ondel dan Ondel di boneka ondel-ondel.

Dalam hati Ondel 1 berharap tolak balanya menjauhkan Pilkada dari segala roh jahat yang berusaha menghancurkan; mengantar peristiwa ini kepada seorang pemimpin dengan semangat ondel-ondel. Coba tebak siapa jagoan Ondel 1? Apakah sama dengan jagoan kalian?

Supaya kekinian dan trendy, artikel ini akan saya tutup dengan quote. Kali ini dari Benyamin S. “Plak gumbang gumplak plak plak”.

Penting nggak? 🙂

Untuk Em. Sahabat Dea yang pasti juga udah jadi roh baik Betawi seperti Ondel dan Ondel.

  • Ahahahahaha. Dea! Quote-nya on point banget!

  • Hahah Ondel-ondel bakal jadi ofdel-ofdel. Pentas DKI dengan segala kepentingan politiknya. Salah pilih, mampus hidup ane lima tahun ke depan.