Ketika Leonardo DiCaprio Menjadi Anak Sholeh di Serambi Mekkah

Ketika Leonardo DiCaprio Menjadi Anak Sholeh di Serambi Mekkah

gqindia.com

Siapa yang tak kenal Leonardo DiCaprio? Suatu kehormatan Babang Leo menyempatkan diri berkunjung ke Aceh. Beliau punya nawaitu dan ikhtiar untuk peduli terhadap lingkungan. Wabil khusus Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Tentu, menyelamatkan ekosistem Leuser merupakan suatu kegiatan yang mulia, yang patut disambut warga Aceh. Ini bisa dibilang kampanye hijau, bukan kampanye hitam.

Lha, memangnya jurkam calon kepala daerah atau presiden? Ini perkara lingkungan, jangan nyampah dengan sembarang ngoceh kayak Donald Trump.

Saya selaku warga Aceh sempat terkejut dengan kedatangan Bang Leo. Tanpa ada sinyal apapun, entah itu karena nggak ada Wi-Fi atau apa, eh?

Tapi itu wajar sih. Kalau dikasih kisi-kisi mau datang, saya tak sanggup membayangkan betapa lelahnya ia harus meladeni orang-orang untuk sekadar selfie.

Selain aktor tersohor, Bang Leo memang dikenal sebagai aktivis lingkungan yang kerap bersuara lantang soal perubahan iklim, ekosistem, satwa, dan segala hal mengenai alam maupun keberlangsungan bumi ini.

Ia melihat kemajuan program lingkungan dan satwa di Aceh Timur. Ia juga menyaksikan secara langsung keanekaragaman hayati di Stasiun Penelitian Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara.

Tak lupa juga melihat langsung penelitian Orangutan Sumatera tertua di habitatnya di Gunung Leuser. Bang Leo hadir bersama dua aktor lainnya, Adrien Brody dan Fisher Stevens.

Namun, ketenaran mereka di sini kalah telak sama Bang Leo. Saya bahkan lebih mengenal mas Dodit, seorang komika lugu tapi mahir berbiola dan ngegombal itu.

Tapi kedatangan mereka semua patut dihargai, bukan malah dihujani dengan isu deportasi. Persoalan lingkungan adalah perkara yang sangat serius saat ini.

Mulai dari pemanasan global, deforestasi, ancaman kepunahan ekosistem dan spesies, limbah kimia beracun, kelangkaan air, pengelolaan limbah, sampai gorong-gorong yang mampet akibat tumpukan kulit kabel.

Mungkin menjadi sebuah anomali sekaligus tamparan bagi kita semua oleh kehadiran Bang Leo dengan misi kepeduliannya terhadap alam di negeri ini.

Tanpa bermaksud lebay, kenapa dia yang sibuk dengan urusan filmnya mau jauh-jauh menyumbangkan uangnya untuk menjaga ekosistem di sini?

Lagi-lagi, pertanyaan mendasar yang selalu diulang-ulang, entah bebal atau apa, bukankah seharusnya kita-kita selaku tuan rumah bisa lebih peka terhadap lingkungan di sekitar kita?

Misalnya hal-hal sepele, seperti jangan buang sampah sembarangan, bersihin parit di depan rumah, atau menanam pohon. Basi ya?

Tapi keblingernya kebangetan. Giliran plastik dikenakan tarif malah ngomel-ngomel. Keluar rumah cuaca panas, maki-maki matahari. Maumu apa? Ah lucu deh kamu… Ya kamu…

Jangan membayangkan menjaga alam itu harus seperti Bang Leo. Saya pun tak mampu, karena isi dompet saya paling-paling duit 10 ribuan rupiah. #Curhat.

Kalau Bang Leo masih mau menyisihkan rezekinya melalui Leonardo DiCaprio Foundation, yang telah bersedekah untuk keberlangsungan ekosistem Gunung Leuser sebesar US$ 3,2 juta atau setara Rp 44 miliar.

Lalu, mendermakan uang sebesar US$ 3 juta untuk menyelamatkan kehidupan laut sampai membeli Pulau Blackadore Caye di Belize demi menyelamatkan pulau tersebut dari penggundulan lahan, erosi, dan mengatasi masalah perikanan. Ia juga menggelontorkan uang US$ 3 juta guna menyelamatkan harimau di Nepal.

Pasti ada orang yang bilang, “Bersedekah kok riya?” Ah, ya susah juga. Kadang sedikit riya untuk hal-hal yang positif tak apalah supaya banyak orang yang tersadar.

Khusus untuk pemerintahan setempat (Provinsi Aceh) maupun pihak-pihak terkait, baik LSM maupun masyarakat sipil, sekiranya terus menjaga lingkungan dan merawat alam. Terlebih Taman Nasional Gunung Leuser menyandang status internasional sebagai Cagar Biosfer dan sebagai world heritage.

Meskipun TNGL berada di dua provinsi, yaitu Aceh dan Sumatera Utara, namun Aceh lebih dominan dengan 10 kabupaten yang melingkari TNGL dan 4 kabupaten dari Provinsi Sumatera Utara.

Khusus untuk Aceh, dengan syariat Islam di dalamnya, harusnya pemerintah lebih produktif dalam memproduksi qanun-qanun yang menyangkut lingkungan.

Syariat Islam tidak boleh absen di dalamnya. Jika sudah ada, tapi cenderung gaungnya senyap. Syariat Islam dengan segala kekhususan Aceh harus mencakup segala lini, tak terkecuali lingkungan.

Penerapan syariat Islam yang terekspos selama ini hanya soal razia pakaian ketat dan larangan duduk ngangkang bagi perempuan yang dibonceng di sepeda motor.

Jika dengan qanun syariat Islam nantinya mampu menjaga ekosistem alam, saya yakin para syaikh-syaikh di Timur Tengah atau dimana pun itu akan studi banding ke Aceh, yang selalu kita kenal sebagai ‘Serambi Mekkah’. Sesungguhnya itu keren.

Pada akhirnya kita semua bisa sadar kalau kelestarian alam adalah tanggung jawab seluruh umat manusia. Ada semacam simbiosis mutualisme yang kuat antara manusia dan alam. Bukankah menjaga alam itu menjadi Sunnatullah?

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum: 41)

Dan, di ‘Serambi Mekkah’, Bang Leo telah mencapai tingkat kesholehannya, karena tidak ada hukum-hukum Allah yang diingkari.

Keep istiqamah Bang Leo! Semoga mabrur sebagai aktivis lingkungan dan terus menggondol Piala Oscar. Salam damai dari kami di Aceh… Teurimong geunaseh ka troeh teuka u Aceh