Ketika Kebencian Dibalas dengan Humor, Anda Bisa Apa?

Ketika Kebencian Dibalas dengan Humor, Anda Bisa Apa?

Linimasa media sosial belakangan ini dihiasi beberapa kejadian menarik. Salah satu yang menyedot perhatian para netizen di Twitter adalah ulah usil anak-anak Presiden Jokowi, yang menyindir para pembenci alias haters dengan humor yang asyik. Saya – sebagai bagian dari peradaban internet – tentu saja ikut tertawa.

Misalnya, saat @jokowi ngetwit, “Pulau Pianemo Raja Ampat, sangat indah. Surga kecil di Tanah Papua -Jkw.” Lalu, salah satu anak Jokowi, Kaesang Pangarep, melalui @kaesangp berkomentar, “Pak, bukan bermaksud untuk tidak sopan, tapi kalo cari kecebong bukan di situ tempatnya.”

Senada seirama, anak Jokowi yang lain, Gibran Rakabuming melalui akunnya @Chilli_pari bahkan ngetwit soal kecebong, “Pak @jokowi ada yang nyari”, yang disertai foto sejumlah kecebong yang sedang berenang.

Selama ini, istilah “kecebong” dipakai para haters untuk mengolok-olok Jokowi lovers. Tapi apa betul Gibran dan Kaesang benar-benar ikut mengolok-olok Jokowi lovers atau bahkan ayahnya sendiri?

Idola saya, Zen Rachmat Sugito, suatu waktu pernah berujar bahwa fanatisme hanya bisa ditawarkan oleh humor. Dan, salah satu humor terbaik adalah menertawakan diri sendiri.

Beberapa hal tersebut juga membawa saya mengingat beberapa esai dan cerita singkat yang ditulis Etgar Keret, salah satu penulis unik dengan gaya tulisan yang cenderung banyak mengolok-olok diri sendiri dan mewartakan cara menertawai diri sendiri dengan bentuk paling paripurna.

Banyak esai-esai yang ditulis Keret memang berangkat dengan mengambil sudut pandang yang asyik untuk dinikmati. Salah satu bahan yang kerap ditulis Keret pun terkadang tak jauh-jauh dari latar belakang kehidupannya sendiri sebagai seorang Yahudi.

Dia berbicara soal kakeknya yang konon menjadi korban Holocaust. Tentang paranoidnya sang ayah terhadap anti-semit. Tentang menjadi Yahudi di Israel yang ternyata tak sedap betul untuk dijalani.

Keret – dalam bentuk yang sederhana – mengajak orang untuk tertawa menyikapi kebencian dan sinisme. Di beberapa titik dalam hidup, biasanya, orang akan memiliki haters dan dibenci banyak pihak. Apalagi, kalau anda anak dari Presiden yang saat pilpres lekat dengan berbagai kontroversi dan ujaran kebencian yang bertebaran dimana-mana, laiknya populasi manusia tuna asmara di Indonesia.

Gus Dur di medio 90-an pun kerap mengajarkan cara-cara tertawa yang asyik untuk hidup di era rezim Orde Baru yang luar biasa tersebut. Sebagai rakyat di negara yang kerap menggunakan slogan nasionalisme untuk merepresi masyarakatnya sendiri, humor diperlukan untuk membuat kita sedikit waras.

Keret, misalnya, menceritakan ketakutannya dalam berpergian ke banyak negara dengan cara yang lugas, tapi mampu membuat orang tertawa. Kalau ke Jerman dan sekitarnya, dia khawatir dikebiri para Neo-Nazi. Kalau tinggal di Tel Aviv, beliau was-was dengan keadaan sekitar negaranya yang hampir semuanya haters abadi bangsa Yahudi.

Bayangkan saja kalau beliau datang ke Jakarta. Bisa didemo tujuh hari tujuh malam tanpa henti oleh front pembela apalah-apalah.

Contoh yang lain lagi adalah Jurgen Klopp. Pelatih eksentrik yang kedatangannya ke Liverpool membuat para kopites ejakulasi rame-rame. Ketika ditanya reporter tentang isu transplantasi rambutnya yang konon mulai mengalami kebotakan, alih-alih marah, Klopp malah meminta pendapat si reporter tentang hasil transplan rambutnya.

Bagaimana kalian bisa menang ‘melawan’ orang-orang yang mampu menertawakan diri mereka sendiri dengan cara seperti ini? Jauh sebelum disudutkan dan diolok-olok dengan penuh kebencian, orang-orang yang bisa menertawakan diri mereka sendiri mampu mendapat tempat yang pas untuk bersikap.

Kalau sudah begini, haters tentunya kelabakan dan bingung untuk berpijak. Mau membenci juga tak mempan. Mau mengolok pun, si subyek sudah terlanjur nikmat mengolok diri mereka sendiri. Pilihan mereka pun hanya satu, yaitu tutup akun. Modyar.

Mungkin saja, mas Gibran dan dik Kaesang ini memang penggemar esai dan cerpen Etgar Keret atau lainnya. Pada tahun baru yang masih segar dan menggoda ini, anak-anak Jokowi itu akhirnya unjuk gigi untuk menanggapi para pembenci dengan cara yang nikmat untuk diikuti. Ketika kebencian dibalas dengan humor, anda bisa apa?

Foto: rolepages.com