Ketika Cinta dan Seks Hanya Beda Tipis-tipis

Ketika Cinta dan Seks Hanya Beda Tipis-tipis

Huffington Post

Jika satu dari 10 orang mengaku paham sekali makna cinta, bisa jadi dia sebetulnya ragu dalam pengakuannya. Sebab, cinta adalah salah satu kata di dalam kumpulan kosa kata yang bekerja melampaui batas.

Lalu bagaimana ketika kita masih dalam angan-angan memahami makna cinta, muncul pertanyaan lain, semisal apakah cinta dan seks itu memang berbeda? Pertanyaan ini mungkin menjadi penting bagi pasangan yang mengalami kenyataan pahit untuk berpisah, setelah kedekatan intim terbangun sekian lama.

Bagi Theodor Reik, kunci dari perbedaan cinta dan seks adalah fakta bahwa gairah seks sebenarnya tidak memiliki objek, sedangkan cinta adalah ‘hubungan emosional antara aku dan kamu’.

Tak heran, Reik berasumsi, “Dulu, cinta digunakan untuk mendeskripsikan perasaan tergila-gila antara laki-laki dan perempuan. Pada waktu yang sama juga mendeskripsikan tujuan paling mulia, sekaligus paling spiritual dari manusia.”

Tapi, bagaimana dengan Sigmund Freud? Bukankah psikoanalisis berhubungan sepenuhnya dengan cinta? Ternyata tidak. Psikoanalisis berhubungan dengan seks, dan itu berbeda dengan cinta.

Semula, pandangan Freud soal cinta bersifat sederhana dan konsisten yang menitikberatkan pada ‘cinta identik dengan seks’. Freud kemudian membicarakan objek cinta ketika yang dimaksud adalah objek seksual, dan membicarakan pilihan cinta ketika yang ia maksud sebenarnya adalah pilihan terhadap pasangan seks.

Ia berangkat dari studi kedokteran dan menggunakan ekspresi libido sebagai citra awal dari energi dorongan seks. Dapat dikatakan, Freud berasumsi bahwa dorongan itu meliputi ‘rasa kasih sayang’ dan ‘rasa tertarik’. Ia pula mengatakan bahwa libido adalah ekspresi dari semua kecenderungan energi yang kita rangkum sebagai cinta.

Karenanya, Freud tidak membedakan antara cinta macam itu dengan cinta antara orangtua dan anak, antara teman, atau cinta di antara kelompok-kelompok sosial.

Secara dangkal, apakah gagasan Freud itu sudah pas? Bila dilihat lebih dalam, pertanyaannya adalah menyangkut gagasan itu sendiri, yakni ketika nama seks dipilih untuk mengekspresikan cinta, dianggap benar. Freud mengulangi ketegasan atas fakta bahwa ia telah memperluas makna kata ‘cinta’ dengan melibatkan kasih sayang, pertemanan, dan cinta.

Sontak pertanyaan muncul dari pernyataan tersebut, apakah bisa dibenarkan bila Freud menggunakan kata ‘seks’ dalam makna seperti itu? Patut rasanya kita berasumsi bahwa kata ‘seks’ selalu berarti hasrat dan aktivitas yang berkembang (munculnya gairah dari libido) dari kebutuhan biologis untuk melepaskan ketegangan khusus (orgasme).

Apakah memang karena ada kemunafikan umum bahwa orang-orang menolak terminologi ‘seks’ dengan makna yang mengandung pertemanan, cinta, kasih sayang, atau apakah mereka merasakan bahwa seks dan cinta itu tak sama? Apakah hanya karena kesopan-santunan yang mendorong mereka untuk menolak teori identitas dari dua kebutuhan ini?

Cinta vs Seks

Apa tujuan seks? Penghilangan ‘ketegangan fisik, pembebasan, dan pelepasan’. Apa tujuan dari gairah yang kita sebut cinta? Penghilangan ‘ketegangan fisik dan kelegaan’.

Kontras antara pelepasan dan kelegaan pada salah satu dari perbedaan yang paling menentukan. Seks menginginkan kepuasan, sedangkan cinta menghendaki kesenangan.

Seks muncul sebagai fenomena alam, umumnya terjadi pada manusia dan hewan. Cinta adalah hasil dari perkembangan kebudayaan dan tidak bisa ditemukan pada semua manusia.

Kita tahu bahwa hasrat seks muncul secara tak menentu atau berfluktuasi secara berkala, dan ini sudah pasti ditemukan di dunia hewan. Tapi watak alamiahnya dapat mudah dikenali di dunia manusia. Namun, tidak ada yang tahu tentang cinta.

Seks bisa bersifat sesederhana mungkin atau kasual terhadap objeknya. Namun, tidak demikian dengan cinta. Cinta selalu berupa hubungan pribadi, dan itu tidak penting di dalam seks.

Objek seks bisa jadi membosankan, atau bahkan penuh kebencian secepat mungkin setelah kepuasan diraih dan ketegangan berkurang. Namun, tidak demikian dengan objek cinta. Pasangan seks bisa tampak sebagai objek seksual semata. Namun, objek cinta selalu dilihat sebagai orang dan kepribadian.

Objek seksual harus memiliki kualitas-kualitas fisik tertentu yang bisa menyenangkan atau merangsang seseorang. Jika tidak, seseorang akan bersikap acuh. Tapi tidak demikian dengan objek cinta. Objek cinta harus memiliki kualitas-kualitas fisik tertentu yang dinilai tinggi, eksistensi yang lebih dari sekadar objek seksual.

Bahkan ketika objek Anda dicintai sekaligus dikehendaki secara seksual, Anda bisa memisahkan antara daya tarik seksual dan daya tarik suatu kepribadian. Dan, Anda tahu bahwa keduanya berbeda. Hasrat seks memburu kesenangan birahi, sementara cinta menjadi kebahagiaan dan kesenangan.

Seks juga bersifat egois, menggunakan objek hanya untuk memperoleh kepuasan. Tapi bukan berarti cinta tidak egois, namun sangat sulit untuk menyebutkan tujuan-tujuan egoisnya, selain menjadi bahagia di dalam kebahagiaan orang yang dicintai.

Cinta tidak hanya akan menjadi egois, tapi juga sama egoisnya dengan seks. Bila demikian, itu bukan cinta. Cinta selalu memikirkan kesejahteraan atau kesenangan orang lain, menyesali ketidakhadirannya, ingin bersama dengan objeknya (pujaan hati), merasa kesepian tanpanya, takut atas malapetaka atau bahaya yang menimpanya.

Tidak ada karakteristik seperti itu di dalam seks. Apabila individu tidak terangsang oleh harapan-harapann seksual, kehadiran objek seksual tidak dikehendaki dan ketidakhadirannya juga tidak disesali. Hal yang sama juga terjadi setelah kepuasan seksual tercapai.

Seks menghendaki ‘seorang perempuan’. Seks bersifat sederhana atas kehendak-kehendaknya. Sementara cinta selalu membuat pilihan. Cinta sangat diskriminatif. Cinta hanya menghendaki ‘perempuan ini’ dan bukan yang lain.

Pada akhirnya, tidak ada cinta yang sifatnya tidak manusiawi. Orang yang dikehendaki sebagai objek seks dan objek cinta, bisa berarti dua orang yang berbeda. Objek seks bisa menjadi pusat dari semua harapan manusia di bawah tekanan kebutuhan-kebutuhan seksual. Objek seks bisa diidolakan, tapi tak bisa diidealkan. Hanya cinta yang bisa seperti itu…