Keterkaitan Pilkada Jakarta dengan Mitos Asal-usul Nama Betawi

Keterkaitan Pilkada Jakarta dengan Mitos Asal-usul Nama Betawi

suara.com

Alkisah, setelah gagal pada percobaan pertama penyerangan terhadap VOC yang berkedudukan di Batavia karena minimnya perbekalan, Sultan Agung kembali memerintahkan tentara Kerajaan Mataram menyerang Batavia.

Perjalanan panjang ribuan manusia dari tengah Pulau Jawa menuju sisi barat pulau kembali terjadi. Penyerangan yang dilakukan pasukan Sultan Agung kali ini cukup berhasil. Pasukan VOC terdesak di benteng pertahanan hingga cadangan amunisi menipis.

Semakin terdesak oleh gempuran pasukan Mataram, tentara bayaran VOC yang bertahan di benteng-benteng mencoba bertahan sekuat tenaga. Konon, berbagai macam peralatan darurat digunakan untuk bertahan, hingga akhirnya mereka menggunakan kotoran manusia untuk menyerang pasukan Mataram yang semakin mendesak masuk wilayah kekuasaan VOC.

Kotoran manusia itu – menurut cerita yang berkembang – mereka lemparkan ke arah pasukan Mataram yang sedang menyerang. Mengetahui hal ini, pasukan Mataram menghindar. Mereka menjauh sambil berseloroh, “Mambu tai, mambu tai”, yang artinya bau tahi.

Pasukan Mataram yang sebelumnya berada di atas angin kembali dipukul mundur. Kerajaan yang dipimpin oleh Sultan Agung kembali kalah dalam pertempuran. Pasukan Mataram yang kesal karena hampir menaklukkan VOC namun kembali gagal, bersumpah serapah dan kerap menyebut wilayah Sunda Kelapa yang dikuasai VOC dengan sebutan ‘Mambu Tai’.

Perlahan-lahan, masih berdasarkan cerita-cerita, penyebutan ‘Mambu Tai’ mengalami perubahan demi perubahan hingga akhirnya wilayah itu akrab disebut Betawi. Selain melatarbelakangi cerita asal-usul penamaan Betawi, serangan pasukan Mataram itu konon juga berhasil menewaskan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, JP Coen.

Seorang budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menolak mentah-mentah riwayat penamaan Betawi di atas. Semua itu sekadar mitos. Jika memang cerita itu ada, kemungkinan sengaja diciptakan oleh penjajah untuk meremehkan kaum pribumi yang tinggal di Sunda Kelapa.

Jika menggunakan logika, paling jauh seseorang melempar kotoran manusia itu tidak akan mencapai 100 meter. “Jadi, mana mungkin sekadar kotoran manusia bisa melemahkan perjuangan pasukan Mataram?” ujarnya.

Ridwan Saidi, sejarawan Betawi berambut gondrong yang sudah memutih dan selalu memakai peci, banyak meriwayatkan asal-usul nama Betawi. Ada kemungkinan kata Betawi berasal dari Pitawi yang dalam bahasa melayu kuno berarti larangan.

Ada juga kemungkinan nama Betawi diambil dari nama salah satu jenis flora yang dahulu banyak ditemukan di wilayah Jakarta, yaitu Guling Betawi (cassia glauca) dari famili papilionaceae yang masuk ke dalam tanaman jenis perdu.

Penggunaan nama pepohonan menjadi nama sebuah wilayah adalah hal yang lazim. Gambir, Bintaro, Pakem, Grogol, adalah sedikit contoh dari banyak nama wilayah yang diambil dari nama pepohonan.

Yang terakhir inilah yang paling banyak dipercaya oleh sejarawan, budayawan, dan masyarakat Betawi sejak dulu hingga kini. Narasi asal-usul nama Betawi yang diambil dari nama pohon ini juga menjadi legitimasi penolakan asal-usul nama Betawi yang diserap dari kata Batavia. Sebab, nama Betawi sudah ada jauh sebelum penjajah datang.

Tapi, akhir-akhir ini, saya merasa mitos sumpah serapah pasukan Mataram patut didiskusikan kembali. Bukan untuk menyoal asal-usul nama daerah, melainkan lebih pada aroma tak sedap yang menyeruak dari penjuru Jakarta menjelang Pilkada 2017.

Sejak sebelum pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur dibuka, genderang pertikaian antar para pendukung telah ditabuh. Dua kutub yang berseberangan dan saling serang terdiri dari para pendukung petahana dan mereka yang menolak sang petahana terpilih kembali. Isu SARA sudah mendominasi gesekan awal ini.

Yusril Ihza Mahendra, Abraham Lunggana, hingga Ahmad Dhani sempat icip-icip untuk memimpin gerbong perlawanan menghadapi petahana. Hingga akhirnya tiga tokoh itu kandas, karena tak ada satu partai politik pun yang mau mendaftarkan mereka sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta. Nama terakhir malah mencalonkan diri di wilayah tetangga.

Setelah pendaftaran bakal calon gubernur dan wakilnya resmi dibuka dan diikuti oleh tiga pasangan, keriuhan para pendukung kian sulit dibendung. Babak baru pun dimulai. Semua mata menyoroti gerak-gerik dan manuver tiga bakal calon, yaitu Ahok-Djarot, Anies-Sandiaga, dan Agus-Sylviana.

Eksekutif muda, pedagang pasar, sopir-sopir angkot, para pengkhotbah di rumah-rumah ibadah, tukang ojek online maupun pangkalan, pekerja seks di tepi jalan, menjelma bak pengamat politik mumpuni.

Di sisi lain, ahli tata kota jempolan, pakar tafsir kitab suci, dan akademisi handal seolah menjadi pemegang tunggal kebenaran. Mereka lupa bahwa tiap kali pemilu atau apapun jenisnya, tak lebih dari sekadar janji-janji belaka.

Semuanya menjadi serba politis. Surat Al Maidah 51 dipolitisasi, hingga mereka yang nyaman di menara gading dan mengklaim paling agamis turun gunung ikut ambil bagian dalam gonjang-ganjing ini. Gairah menegakkan ajaran-ajaran agama hanya sebatas untuk menghantam lawan politik.

Pelanggaran hukum dan nilai-nilai kemanusiaan pun diabaikan. Yang didukung selalu benar. Menggusur benar. Merampas hak hidup orang banyak benar. Merusak lingkungan benar. Semuanya benar dan dicarikan pembenarannya.

Janji-janji manis yang dilontarkan hingga mulut berbusa di hadapan korban penggusuran saat pilkada sebelumnya sirna, musnah, raib bersama laut dan pantai serta ikan-ikan yang ditimbun untuk proyek reklamasi.

Tingkah polah pendukung garis keras seluruh kontestan pilkada persis kelakuan kompeni-kompeni yang melemparkan kotoran manusia kepada pasukan Mataram pimpinan Sultan Agung. Segala cara dilakukan agar kemenangan dalam genggaman.

Padahal, selepas pilkada, siapapun pemenangnya, keadaan tidak akan jauh berbeda. Jakarta tetap macet, tetap banjir, tetap semrawut, terlebih sampai saat ini tak ada terobosan baru yang realistis dan jitu-jitu amat.

Sedangkan mereka yang kini sibuk mati-matian membela junjungannya, tak lebih dari sebatas sumpah serapah tentara Kerajaan Mataram usai kekalahan kedua mereka, “Mambu tai.”