Kesamaan Fenomena Dimas Kanjeng dengan Pelaku LDR yang Taat

Kesamaan Fenomena Dimas Kanjeng dengan Pelaku LDR yang Taat

youqueen.com

Lelaki tampan bernama Dimas Kanjeng Taat Pribadi muncul menyeruak di antara gadis-gadis trendi kekinian berwujud Awkarin dan Anya Geraldine.

Aksinya begitu menggemparkan. Sampai-sampai di Youtube, klik – yang seharusnya ditujukan untuk iklan-iklan di channel-nya Awkarin dan Anya – bisa berpindah cepat ke akun Youtuber entah siapa namanya yang telah mengunggah video aksinya Dimas Kanjeng.

Boleh jadi, kemunculan Dimas Kanjeng ke permukaan sedikit mengurangi penggandaan uang via monetisasi Youtube yang dilakukan oleh Awkarin, Anya, hingga Rando dan Kevin Anggara. Yang sabar ya, dek!

Jangan lupa, kalau Dimas Kanjeng bisa memindahkan uang dengan mudah. Kalau cuma sekadar klik, ya gampang lah. Bagi seorang Dimas Kanjeng, uang itu ada dan berlipat ganda.

Dimas Kanjeng memang tampil sebagai sosok fenomenal. Bukan hanya soal uang yang bisa muncul dengan mudah dari balik jubahnya, namun juga perihal jumlah pengikutnya yang sedemikian banyak.

Bagi sebagian kita, menjadi seorang pengikut Dimas Kanjeng tampak begitu absurd. Mereka-mereka yang jarang beribadah saja banyak yang kurang percaya, apalagi mereka yang mendaku sebagai orang yang agamis?

Ini sama persis kala kita memandang salah satu tindak tanduk absurd lain yang begitu eksis di dunia ini, yaitu fenomena Long Distance Reladikibulinship Relationship atau LDR. Saya sendiri pernah LDR, tiga kali bahkan.

Kala saya melakoni LDR, tidak sedikit suara sumbang yang mempertanyakan, menertawakan, hingga memberikan justifikasi bahwa hubungan jarak jauh pasti akan gagal. Tapi, saya bergeming.

Hasilnya, dua kali hubungan LDR kandas dengan sukses, lalu satu lagi berhasil dengan sangat sukses. Status pacar akhirnya bisa dikubur dalam-dalam dan kemudian membangun bahtera rumah tangga di atasnya. #uhuk

Dimas Kanjeng sendiri muncul sebagai sebuah ‘penjelmaan’ LDR secara sukses. Guliran kasus Dimas Kanjeng semakin menunjukkan bahwa ada ‘makna’ yang sama antara Dimas Kanjeng dengan para pelaku LDR.

Setidaknya ada tiga ‘persamaan’ antara fenomena Dimas Kanjeng Taat Pribadi dengan para pribadi pelaku LDR yang taat. Mari saya jelaskan:

1. Mempercayai pesona yang tak terbantahkan

Sudah jelas bahwa Dimas Kanjeng mempunyai pesona yang tidak terbantahkan. Bagaimana mungkin ribuan orang tertarik mengikuti dirinya, jika tidak ada hal menawan dalam tindak tanduknya?

Aspek pesona ini kiranya sama dengan alasan – bagi sebagian kalangan – untuk memilih LDR sebagai jalan kehidupan. Bahkan dengan mengabaikan kehadiran lawan jenis lain yang jelas-jelas ada di depan mata.

Tidak sedikit gadis cantik luar dalam – yang makan-makan sendiri, tidur-tidur sendiri, cuci baju sendiri – di Jakarta, sementara lelakinya ada di Balikpapan. Padahal, kecantikannya lebih dari cukup untuk bisa menarik lelaki lain yang beredar di Jakarta. Mulai dari SCBD yang penuh gedung mentereng hingga ke tengah-tengah genangan kenangan yang ada di Kemang.

Dimas Kanjeng menawarkan pesona yang bahkan mampu menarik hati seorang wanita matang berpendidikan S3. Butuh pesona yang tiada tanding untuk bisa membuat manusia dengan profil pendidikan setinggi itu percaya seutuhnya kepada tindak-tanduk Dimas Kanjeng.

Pesona pula lah yang menjadi landasan bagi dua orang untuk bisa saling percaya dan memegang komitmen meski tidak saling memegang tangan, hanya bisa bertemu di udara, dan tanpa bersua ehm satu sama lain. Tidak lah mudah menahan semuanya itu dalam koridor berkasih-kasihan.

Namun, segala keinginan dan godaan akan musnah atas nama cinta yang tumbuh dari pesona. Maka, hanya para kaum LDR yang sanggup memahami benar kenapa ribuan orang begitu mudah mengikuti Dimas Kanjeng, sementara sebagian masyarakat lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala.

2. Yakin pada perpindahan, bukan penggandaan

Salah satu sosok yang sering berbicara dalam konteks Dimas Kanjeng ini adalah ibu Marwah Daud Ibrahim. Benar, dia adalah wanita matang berpendidikan S3 yang saya sebut di atas. Dari beliau lah, kita semua diminta mahfum perihal ajaran Dimas Kanjeng.

Salah satu upaya beliau untuk meluruskan berita yang beredar adalah dengan menyebut bahwa tidak pernah ada praktik penggandaan uang yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng. Penggandaan itu bahasa media belaka, yang benar adalah perpindahan.

Aha! Ibu Marwah begitu tegas menggunakan kata kunci yang pada akhirnya semakin meyakinkan bahwa Dimas Kanjeng memang ‘muncul’ demi kaum LDR yang tertindas.  Lho kok bisa?

Mari kita bicara tentang pelaku LDR dari kalangan Long Distance Marriage. Saya punya banyak teman yang melakoninya. Kalian tahu, hidup mereka penuh dengan perpindahan.

Seorang teman, setiap Jumat selalu siap siaga di Stasiun Senen untuk pulang ke Jogja bertemu istri dan anaknya. Ada juga teman lain, yang setiap dua pekan sekali membawa 1 boks besar ASI dari Jakarta untuk diberikan dengan penuh kasih kepada anaknya di Imogiri.

Saya belum menyebut seorang kawan yang bekerja di Jakarta dengan status sebagai seorang suami dari istri yang sedang hamil dan berada di Ambon. Perpindahan yang dilakoni kawan saya ini begitu drastis, karena kita sedang bicara perpindahan zona waktu dari WIB ke WIT.

Dimas Kanjeng muncul, namun banyak orang yang salah menangkap makna di balik tembok tebal filosofi. Untunglah ada ibu Marwah yang memberikan kata kunci itu, bahwa Dimas Kanjeng muncul untuk menekankan kata ‘perpindahan’.

Jelas ini adalah bukti ‘keberpihakan’ Dimas Kanjeng kepada kaum LDR yang memang rajin berpindah hanya untuk saling membelai satu sama lain.

3. Paham bahwa ada konsekuensi dan investasi

Dimas Kanjeng juga muncul untuk menjadi pengingat bahwa atas keinginan yang kita miliki selalu ada konsekuensi yang menanti. Dalam konteks Dimas Kanjeng, jika ingin mendapatkan uang banyak syaratnya satu: daftar dan membayar uang pendaftaran. Bagaimana pun dan berapa pun, uang pendaftaran itu adalah investasi.

Nah, soal investasi ini sebaiknya jangan ditanyakan kepada kaum LDR, karena jawabannya nanti ujung-ujungnya pilu. Walau begitu, sebenarnya kaum LDR adalah kaum yang paling konsisten di muka bumi perihal investasi atas konsekuensi pilihan.

Memilih jalur terjal LDR sudah barang tentu mensyaratkan pertemuan yang harus difasilitasi ongkos. Ya menurut ngana, kalau seorang kawan ingin ketemu istrinya di Ambon itu bisa dengan nyepik pilot doang? Kawan lain malah berkisah bahwa hanya boarding pass lah satu-satunya yang tersisa dari kunjungan ke tempat kekasihnya.

Saya sendiri dulu juga menghabiskan sekian rupiah untuk biaya berkunjung kala LDR, yang kalau saya investasikan via Dimas Kanjeng, boleh jadi saya sekarang sudah bisa pensiun dini di kapal pesiar. Bukannya menulis di Voxpop. #Life

Logika ajaran Dimas Kanjeng ini benar-benar sederhana. Ada pilihan, ada konsekuensi. Ada konsekuensi, ada investasi. Sebuah kebenaran hidup yang terkadang sulit dipahami oleh kalangan yang tiada pernah merasakan LDR  alias Lelahnya Dibuai Rindu.

Memang butuh pemikiran tingkat tinggi untuk bisa memahami filosofi kehadiran Dimas Kanjeng. Hanya kaum LDR lah yang bisa memahami semua itu. Tentu saja ini terjadi karena LDR-wan dan LDR-wati memiliki cukup banyak waktu untuk berkontemplasi. Sementara kalangan lain sedang menghabiskan waktu untuk berkasih-kasihan, kaum LDR hanya dapat cibiran.

Dan kamu tahu? Itu rasanya pediiihhh jendralll…