“Saya itu Keren, Hebat, dan Alim”

“Saya itu Keren, Hebat, dan Alim”

Ilustrasi (nytimes.com)

Seorang figur publik Indonesia memutuskan mundur dari jagat maya. Dia adalah Sarah Sechan. Meski tak sepanjang caption gadis-gadis kekinian selepas sidang skripsi, pengumuman teh Sarah ini sukses menyedot perhatian netizen.

“Saya ingin orang-orang mengenal saya karena mereka bertemu dan berbicara dengan saya. Bukan karena caption dan foto saya di media sosial.”

Di antara isi otak saya yang sebagian besarnya terisi oleh pertanyaan “Kenapa ada orang yang percaya bahwa bumi itu datar”, statement penghabisan teh Sarah di akun media sosialnya itu menjadi sentilan yang dalem banget. Terlebih, saat ini, media sosial adalah candu. Animo pengguna medsos di negeri ini sudah mencapai stadium 4, termasuk saya.

Saat netizen sibuk mentransformasi dirinya menjadi penyair apa-apalah itu – sibuk membuat kalimat puitis untuk caption – teh Sarah malah bodo amat sama hiruk-pikuk rimba maya. Baginya, imaji dan ilusi tak hanya dikuasai oleh Romy Rafael, tapi juga oleh netizen.

Keputusan Sarah Sechan mengakhiri hidup akun media sosialnya ini menambah panjang daftar figur publik yang lelah dengan medsos. Mereka lebih memilih hidup di dunia nyata tanpa harus memikirkan pendapat orang lain di dunia maya. Mereka penat melahap kritikan pedas atau muak dengan pujian setinggi langit pada setiap postingan.

Andai Adolf Hitler hidup pada era milenial, saya rasa tidak perlu serbuan ratusan tank M4 Sherman untuk membuat beliau menelan kapsul sianida di kamar tidurnya. Hanya butuh cibiran netizen untuk membuatnya skak mat.

Jika Raden Adjeng Kartini menumpahkan keluh kesahnya tentang feodalisme melalui surat-surat kepada para sahabatnya, netizen mencurahkan segalanya, ya segalanya, pada laman dunia maya. Yang artinya, segala keluh kesah tersebut bisa dibaca atau bahkan dirasakan oleh orang-orang di seluruh dunia.

Alhasil, banyak juga orang yang risih melihat postingan yang nggak penting-penting amat itu. Emangnya lo siapa?

Alasan mereka yang tidak bermedia sosial bukan karena gagap teknologi, tapi sekadar menjaga kewarasan dan kesehatan otak. Misalnya dari perang maya dan serbuan berita hoax.

Lagipula, sekitar 80% keseharian para netizen di media sosial hanya kamuflase. Kehidupan nyatanya bisa jadi tak semakmur di dunia maya. Mereka hanya terobsesi oleh jumlah like, share, dan jumlah pengikut di ranah maya.

Rela tidak makan seharian demi bentuk perut yang ideal untuk difoto, rela foto lebih dari 200 kali dengan pose yang sama demi mendapatkan satu foto yang instagramable, rela mengakuisisi quote orang ternama untuk dijadikan caption agar orang lain menganggap keindahan kosa katanya setara Wiji Thukul. Semua itu dilakukan demi nyaiii… Eh sorry, demi like and love.

Tanda jempol dan hati ibarat pil ekstasi bagi para pecandu narkoba. Mulut mereka akan berbusa, jika seminggu saja tidak mendulang like. Harus ada pengakuan dari orang lain bahwa “saya itu keren”, “saya itu hebat”, “saya itu alim”. Apa nggak capek menjalani hidup seperti itu?

Aktris film La La Land, Emma Stone – yang juga tak memiliki akun media sosial – pernah bilang bahwa apa yang ditampilkan orang-orang di Instagram hanyalah potret terbaik mereka, bukan diri mereka yang apa adanya.

Orang-orang yang sudah kecanduan media sosial level hardcore juga cenderung lebih sensitif dengan pendapat orang lain terhadap dirinya. Mereka merasa sudah memberikan penampilan terbaik dengan sentuhan camera360 atau VSCOcam, ditambah pula dengan angle terbaik yang membuat pipi mereka terlihat tirus.

Saat komentar yang didapat tak sesuai harapan, mereka cenderung lebih mudah sakit hati dan mengabaikan pendapat orang lain. Inilah awal mula sifat ego yang tumbuh pada dirinya.

Tidak heran, Perang Dunia III kerap muncul pada kolom komentar. Jika dulu perang menggunakan machine gun dan bom atom, kini perang bisa terjadi cukup dengan ketikan beberapa kata pada kolom komentar.

Mereka yang hidup tanpa medsos tidak mempercayai afirmasi yang menyebutkan bahwa medsos menghubungkan Anda dengan teman-teman Anda. Bagi mereka, medsos adalah suatu wadah yang merangsang rasa ingin tahu berlebihan terhadap urusan orang lain. Kepo, kalau merujuk Kamus Besar Bahasa Gaul (KBBG). Knowing Every Particullary Object.

Tidak seperti Stephen Hawking yang kepo terhadap teori lubang hitam, netizen cenderung kepo terhadap hal-hal yang tidak penting. Contohnya, kehidupan asmara seseorang atau hal-hal lain yang bersifat pribadi.

Orang-orang yang enggan bermedia sosial ini enggan menjalani hidup hanya untuk menatap layar gawai. Mereka lebih memilih hidup di dunia nyata dan menghabiskan sisa hidup untuk orang-orang terkasih. Mereka tak ingin hanya memberikan komentar pada status teman yang sedang berulang tahun tanpa memberi surprise.

Mereka juga tak ingin hanya menulis status dengan tagar #SavePalestine tanpa memberikan sumbangan pakaian dan makanan kepada lembaga kemanusiaan. Mereka pun tak ingin sekadar memberikan love pada akun Dompet Duafa agar seolah terkesan sebagai aktivis tanpa memberi sedekah langsung.

Fenomena terakhir yang saya sebut tadi terkenal dengan sebutan slacktivism. Slacktivism atau aktivis pemalas, adalah aktivis online dimana seseorang dapat mendukung suatu hal, tetapi tidak menghasilkan aksi nyata. NATO alias ‘no action, talk only’.

Maka, tidak aneh, jika segelintir orang enggan berselancar di medsos. Bagi mereka, dunia maya hanyalah wadah semu, tak lebih dari panggung sandiwara.

Jadi, mana like dan love-nya nih?!