Kerajaan Plastik Bukan di Banda Neira

Kerajaan Plastik Bukan di Banda Neira

volga-info.ru

Winnie the Poor adalah boneka beruang kecil yang tinggal di tempat pembuangan sampah. Winnie lupa dari mana ia berasal dan bagaimana kehidupannya dahulu.

Hal yang terakhir diingatnya, ia diterjang oleh bus berklakson telolet, kemudian tiba-tiba tak sadarkan diri. Ketika siuman, Winnie sudah berada di tumpukan sampah itu.

Mungkin tiupan nafas telolet membuat Winnie selalu gembira. Ia berteman baik dengan siapa saja. Sahabat Winnie adalah seonggok boneka plastik yang ia temui di sana. Namanya Pevita Cheers, tapi akrab dipanggil PVC.

PVC yang telah melewati banyak sekali peristiwa dalam hidupnya sudah tak punya tangan dan kaki. Tapi ia pandai bercerita, karena dapat bertualang ke mana saja dengan imajinasi dan pikiran-pikirannya. Tuturannya selalu menarik dan Winnie selalu suka menyimak kisah-kisahnya.

“Winnie, kamu pernah dengar istilah plastic longa vita brevis, nggak?” pada suatu hari PVC membuka pembicaraan.

Winnie the Poor mencoba memeras ingatannya. “Rasanya bukan itu deh kalimatnya. Tapi… jangan-jangan aku yang lupa. Ingatanku kan sudah kacau,” batin Winnie.

Plastic longa vita brevis itu ungkapan Latin. Artinya plastik itu panjang, hidup itu singkat,” lanjut PVC sebelum Winnie sempat berkomentar.

Winnie the Poor mengangguk-angguk meski agak ragu. Ia masih tidak yakin. Tapi akhirnya ia memilih memercayai PVC.

“Di antara begitu banyak sisa-sisa peristiwa yang ada di sekitar kita, plastik adalah sampah yang tak akan sirna. Kayu dan kertas akan lapuk. Sisa-sisa makanan akan membusuk. Tapi plastik abadi,” tutur PVC memulai ceritanya.

Semakin lama jumlah sisa plastik di muka bumi ini semakin banyak. Apalagi manusia semakin tergantung kepada plastik. Coba perhatikan, segala sesuatu dikemas di dalam plastik. Mainan anak-anak, aksesoris, baju, sampai alat-alat rumah tangga pun dibuat dari plastik. Lama-lama sampah plastik jadi terlalu banyak. Terlalu banyak.

Mereka berenang-renang di samudera luas mencari tempat tinggal. Akhirnya sebagian besar dari mereka bermuara di sebelah utara Samudera Pasifik. Membuat koloni, lalu membangun kerajaan sendiri yang disebut ‘The Great Pacific Garbage Trash’ atau ‘Pacific Trash Vortex’.

“Jadi sekarang sampah-sampah plastik itu sudah hidup bahagia dan membangun kerajaannya?” tanya Winnie the Poor.

“Itu dia, Winnie. Ternyata kerajaan yang penuh keabadian tidak selalu membawa kebahagiaan. Pada akhirnya, siapapun di muka bumi ini pasti musnah, memberi ruang pada generasi berikutnya,” ujar PVC.

Sebagian manusia memang berkesadaran untuk mendaur ulang sampah plastik, tapi jumlah mereka tetap tak terkejar. “Sebagai sampah, mereka pun mulai membawa celaka pada lingkungan,” tambah PVC.

“Dengan cara apa? Siapa yang mereka celakai?” tanya Winnie prihatin.

“Kamu tahu cincin-cincin plastik yang melingkar di kemasan botol?” tanya PVC.

Winnie pun mengangguk-angguk.

“Cincin-cincin itu mengikat mulut binatang yang ada di sekitar kepulauan, sampai binatang-binatang itu mati karena tak bisa makan lagi. Ada juga yang melingkar di perut anak penyu, sehingga menghimpit pertumbuhannya.”

Sementara itu, plastik yang kecil-kecil – tutup botol dan serpih-serpih – dimakan oleh burung-burung. Sampah yang tak bisa dicerna itu meracuni burung dan membuat mereka mati karena sakit.

Winnie bergidik. Kegembiraan yang selama ini meliputinya tiba-tiba tersaput awan kelabu.

“Plastik sebenarnya tak pernah bermaksud mencelakai siapa-siapa. Mereka juga bosan hidup abadi. Tapi bahkan bunuh diri pun mereka tak bisa. Mereka tidak akan sirna,” curah PVC.

Kemudian Winnie dan PVC sama-sama terdiam. Menatap tumpukan sampah di hadapan mereka dengan pikiran masing-masing.

Namun ada yang tak tertangkap oleh mata mereka. Plastik ternyata tak akan abadi. Di antara tumpukan itu diam-diam bersemayam Ideonella Sakaiensis. Mereka adalah bakteri yang sudah mampu memakan plastik.

Pada tahun 2016 ini, Ideonella Sakaiensis ditemukan di antara sampah oleh sekelompok ilmuwan dari Institut Teknologi Kyoto dan Universitas Keio, Jepang.

Bakteri ini mengurai plastik jenis PET atau polyethylene terephalate. PET biasa digunakan untuk membuat botol plastik atau kain polyester.

Ideonella Sakaiensis membutuhkan waktu kurang lebih enam minggu untuk mengurai selembar tipis material PET. Itu pun dengan catatan suhu di sekitar lingkungannya harus terjaga pada angka 30 derajat Celcius.

Dibanding dengan jumlah sampah yang ada, memang masih belum terbilang cepat prosesnya. Tapi setidaknya alam yang pemaaf tengah bergerak menyembuhkan dirinya.

Indonesia adalah penyumbang sampah plastik nomor dua terbesar di dunia. Tiongkok adalah rajanya. Pada 2019, jumlah sampah plastik Indonesia diperkirakan mencapai 9,52 juta ton. Semoga saja kehadiran Ideonella Sakaiensis bisa mengikis hegemoni plastik.

Kita kembali pada Winnie the Poor dan PVC yang belum pernah mengetahui keberadaan Ideonella Sakaiensis.

“Winnie, apa hal terbaik dalam hidup? Biarkan yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Seandainya plastik bisa begitu, aku pasti bersyukur sekali,” ungkap PVC.

Tiba-tiba seluruh ingatan Winnie seperti berenang-renang kembali di dalam kepalanya. ‘Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti’ adalah judul album terakhir duo musisi favoritnya, Banda Neira. Dua anggotanya – Ananda Badudu dan Rara Sekar – tidak memaksakan keabadian. Keduanya memutuskan untuk bubar akhir tahun ini.

Winnie the Poor kemudian mendendangkan lagu Banda Neira.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti.

Yang hancur lebur akan terobati.

Yang sia-sia akan jadi makna.

PVC tersenyum. Suara Winnie membuatnya sedikit terhibur.

Tapi, tepat setelah Banda Neira memutuskan untuk bubar, Winnie memutuskan untuk mencari musik favorit baru. Ia mencari penghiburan lewat permainan ‘Om Telolet Om’ yang katanya bisa menggembirakan.

“Kita main telolet, yuk. Suka ada bus lewat di ujung sana. Aku tahu kamu nggak bisa jalan, sini kugendong,” ajak Winnie.

Winnie dan PVC bersama-sama mencapai ujung jalan. Winnie terus mendendangkan lagu Banda Neira.

Yang terus berulang suatu saat henti.

Tak sampai sepuluh menit mereka berdiri, terdengar suara bus dari kejauhan. Winnie menggendong PVC ke tengah jalan, menghadang bis sambil berseru-seru girang, “Om… Telolet Om… Telolet…”

Bayang yang berserah, terang di ujung sana.

Tapi bus bergerak cepat sekali ke arah mereka, lalu tiba-tiba menghantamnya. Winnie the Poor kembali tak sadarkan diri…