Seberapa Yakin Anda dengan Kencan ‘Online’?

Seberapa Yakin Anda dengan Kencan ‘Online’?

Ilustrasi (rawpixel/unsplash.com)

Ada yang menarik dari Love for Sale arahan sutradara Andibachtiar Yusuf. Bukan, bukan soal adegan dewasa di film itu, melainkan kencan cepat saji melalui jasa aplikasi pencari pasangan secara online. Benar-benar jodoh ada di tangan, bukan?

Intinya dalam film itu, seorang bujang berusia 41 tahun ditantang untuk membawa pasangan ke pesta pernikahan seorang kawannya. Dengan susah payah, akhirnya Richard Ahmad Widjaja (Gading Marten) bisa mendapatkan pasangan melalui jasa aplikasi.

Namun, karena salah registrasi, pasangan sewaan yang bernama Arini (Della Dartyan) harus tinggal di rumah Richard selama 45 hari. Beruntung, revisi KUHP belum rampung. Kalau sudah, jalan ceritanya bisa lain, eh?

Richard akhirnya jatuh cinta beneran sama Arini setelah berhari-hari tinggal satu atap tanpa digedor-gedor tetangga, ormas, atau polisi.

Menjelang hari terakhir, Richard, sang pewaris usaha percetakan orang tuanya, sempat membelikan cicin kawin untuk Arini. Namun, pagi-paginya, Arini sudah tak ada lagi di sisinya. Ia pergi, karena masa kencannya sudah habis, persis 45 hari.

Cerita seperti itu sebetulnya tidak lumrah di Indonesia, tapi nyatanya memang demikian. Kencan online – via Tinder, misalnya – tengah berlangsung di masyarakat kita.

Ada yang memang mencari cinta, ada pula yang semata urusan seks. Dua-duanya bahkan juga ada. Berawal dari cinta, terus lanjut seks. Atau, sebaliknya. Mana yang lebih dulu, sih?

Balik lagi soal kencan online tadi. Mungkin kalau via media sosial semacam Facebook atau Twitter bakal terkesan biasa. Tapi kalau via aplikasi berbayar, menjadi sesuatu yang menarik.

Mengapa? Karena mirip-mirip kawin kontrak. Tapi ini versi termutakhir. Seperti ingin mengisyaratkan kemungkinan terjadinya peralihan fenomena kawin kontrak konvensional ke digital. Bedanya, kawin kontrak konvensional ada penghulunya, kalau digital ada adminnya. Haha…

Dan, sekali lagi, dunia digital atau online membuktikan bahwa segalanya menjadi efisien. Selama ini, banyak orang yang grusa-grusu ketika ingin kawin kontrak, kalau sekarang sih udah selow.

Kita akan melihat mereka mencarinya dengan hanya modal sebuah ponsel, membuka aplikasi atau situs, lalu mencari pasangan yang pas, sembari duduk-duduk manis di kursi atau tidur-tiduran di sofa. Mirip Richard ketika mencari pasangan kencan di rumahnya.

Tapi, bagaimana jika Anda seorang Richard, apakah Anda percaya dengan profil yang tercantum di dalam akun calon pasangan kencan Anda?

Sebuah pengalaman unik datang dari seorang kawan, beberapa tahun silam. Dahulu, belum ada aplikasi teman kencan macam Tinder, yang bisa melihat profilnya. Yang ada adalah fitur obrolan daring atau chatting, seperti mIRC atau Yahoo Messenger.

Kawan saya gembira sekali mendapat pasangan via mIRC. Mereka pun bertukar nomor ponsel. Saat itu, awal tahun 2000, belum ada smartphone. Ponsel paling canggih merek Nokia 3315.

Lalu, mereka janjian ketemu di sebuah toko buku besar yang berlokasi di Matraman, Jakarta Timur. Dan, tak diduga, semua bayangan wajah pasangan online-nya itu buyar setelah kopi darat. Kawan saya kemudian lari meninggalkan pasangan online-nya, setelah pura-pura mau ke toilet.

Lha, belum apa-apa saja sudah begitu, bagaimana mau tinggal bersama selama 45 hari? 🙂

Memang, ada banyak perilaku kencan online. Aplikasi kencan online Plenty of Fish pernah melakukan penelitian mengenai hal ini. Dikutip dari Business Insider, ada lima tipe perilaku.

Pertama, flexting. Perilaku ini adalah usaha seseorang membuat kesan baik sebelum bertemu teman kencannya.

Kedua, cricketing. Perilaku ini adalah seseorang yang meninggalkan pesan, tapi lama sekali membalasnya.

Ketiga, ghostbusting. Perilaku ini adalah sikap pantang menyerah. Ia akan terus menerus mengirim pesan, padahal si penerima mengabaikan pesan tersebut.

Keempat, seredipidating. Perilaku ini adalah jomlo-jomlo yang pasrah. Ia menyerahkan segalanya kepada nasib dan menunda kencan hanya untuk berjaga-jaga, bila ada orang lain yang menyukainya.

Kelima, fauxbae’ing. Perilaku jomlo yang berpura-pura punya pacar. Ia berpura-pura memiliki pacar dan mengumbarnya di media sosial. Ini merupakan taktik untuk membuat mantan cemburu.

Meski praktis, toh banyak kasus aplikasi pencarian teman kencan online yang disalahgunakan. Tak sedikit oknum yang memanfaatkan aplikasi atau situs kencan online sebagai media transaksi esek-esek.

Di sisi lain, pertanyaan klasik semacam “kapan nikah” kerap terlontar kepada mereka yang jomlo. Pertanyaan yang seolah mirip hantu, menakutkan. Maka, aplikasi kencan online menjadi solusi termudah, praktis, dan cepat.

Pada Oktober 2017, seperti dilansir technologyreview.com, penelitian yang dilakukan oleh Josue Ortega dari University of Essex di Inggris dan Philipp Hergovich dari University of Vienna di Austria, menyimpulkan, hubungan pernikahan dari situs kencan online justru lebih bertahan lama dibandingkan mereka yang menikah lewat pertemuan konvensional.

Nah!

Menurut Ortega dan Hergovich, kebanyakan orang tak mungkin berkencan dengan salah seorang teman baiknya. Mereka sangat mungkin berkencan dengan orang-orang yang terkait oleh kelompok teman mereka, seorang teman dari teman.

Mereka bertemu, kemungkinan di bar, tempat kerja, lembaga pendidikan, atau melalui keluarga mereka. Namun, aplikasi kencan online mengubah semua itu.

Kencan online membuat orang-orang sepenuhnya asing satu sama lain. Lantas, ketika seseorang bertemu dengan cara ini, membuat sebuah jejaring sosial yang sebelumnya tak ada.

Sebuah hal mengejutkan ditemukan. Menurut mereka, lebih dari sepertiga pernikahan di dunia ini berawal dari kencan online. Namun, harus hati-hati pula, kalau berkenalan dengan seseorang teman kencan melalui aplikasi.

Kasus mengenaskan terjadi baru-baru ini. Melalui situs kencan online, seorang perempuan Indonesia bernama Enen Cahyati menjadi korban pembunuhan pria yang menjadi teman kencan online-nya.

Berkenalan lewat salah satu aplikasi kencan, Enen lalu diajak nikah pria WN Amerika Serikat bernama Bilal Abdul Fateen. Nasib nahas tak bisa dibendung. Enen dibunuh di Kamboja.

Kehati-hatian bisa ditelusuri melalui kebenaran informasi di dalam akun pasangan target kencan online kita. Apakah foto, pekerjaan, atau domisilinya asli? Jangan pernah terjebak dengan foto profil yang tampan atau cantik. Bisa-bisa aslinya berbeda dengan tampilan di aplikasi.

Kemudian, bina hubungan lebih mendalam melalui komunikasi telepon atau chatting. Kenali terlebih dahulu calon pasangan. Zaman memang serba instan, tapi bukan berarti begitu juga keleus… Sebab yang instan secara kaffah di dunia ini cuma mie. Camkan!

Tapi, banyak juga yang akhirnya berjodoh, atau mengalami kisah layaknya Richard dalam film Love for Sale: Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Syedih…

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN