Kenapa sih Kalian Super Egois Merampas Hak Pejalan Kaki?

Kenapa sih Kalian Super Egois Merampas Hak Pejalan Kaki?

Mengenang tragedi pejalan kaki di kawasan Tugu Tani, Jakarta

Pagi itu, suasana di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, sudah diramaikan arus kendaraan bermotor. Lima tahun sebelumnya, lokasi tersebut disesaki isak tangis dan jerit memilukan pejalan kaki. Sebanyak 13 orang ditabrak mobil yang dikemudikan pengendara lepas kontrol.

Perlahan, sejumlah kolega saya para pegiat keselamatan jalan mulai berdatangan ke halte bus Tugu Tani. Tempat itu menjadi titik kumpul untuk mengenang Tragedi Pejalan Kaki Tugu Tani yang menewaskan sembilan orang dan mencederai empat orang.

Mereka yang berdatangan berasal dari Koalisi Pejalan Kaki (KoPK), Bismania Community, Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), anggota pramuka, dan sejumlah jurnalis.

“Hari ini kita kumpul untuk mengenang tragedi pejalan kaki sekaligus yang kami usulkan sebagai Hari Pejalan Kaki,” tutur kolega saya, Alfred Sitorus, koordinator KoPK.

Sepanjang lima tahun terakhir, saya pun melihat bahwa pedestrian masih menjadi kelompok pengguna jalan yang rentan kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia, setiap hari belasan pedestrian meregang nyawa di jalan raya. Belum lagi mereka yang menderita luka dan menanggung hilangnya produktivitas.

Di dunia, data WHO nenyatakan, sebanyak 22% korban kecelakaan adalah pejalan kaki. Angka itu setara dengan 747 pedestrian tewas per hari.

Di sisi lain, kebijakan pemangku kepentingan yang berpihak pada pedestrian masih setengah hati. “Lihat saja, misalnya fasilitas trotoar, jembatan penyeberangan orang (JPO), dan zebra cross yang demikian minim,” ujar Alfred.

Indonesia masih ingat fakta paling kelam ketika 13 pedestrian diterjang mobil yang dikemudikan pengendara mobil yang lepas kendali. Sembilan orang meregang nyawa dan empat menderita luka berat, pada suatu pagi di Jakarta, 22 Januari 2012.

“Koalisi Pejalan Kaki menyerukan 22 Januari sebagai Hari Pedestrian. Hari untuk para pejalan kaki saling mengingatkan pentingnya keselamatan berlalu lintas jalan,” tutur Alfred.

Sementara itu, bagi saya, hak pejalan kaki masih tercabik-cabik oleh perilaku pengendara yang super egois. Fasilitas pedestrian dijarah. Motif ekonomi dan perilaku egois menjadi pemicu terjadinya itu semua.

Besar harapan agar seluruh pengguna jalan memprioritaskan keselamatan jalan. Tahun 2016, masih terjadi 288 kecelakaan per hari. Tahun lalu, setiap hari 72 jiwa melayang akibat kecelakaan.

Alfred juga menegaskan, perhatian pemerintah terhadap pejalan kaki masih timpang dibandingkan dengan kasus lain seperti penyalahgunaan narkoba, terorisme, dan bencana alam.

Koalisi Pejalan Kaki menginginkan Kepolisian RI menegakkan hukum dengan lebih tegas, konsisten, transparan, kredibel, dan tidak pandang bulu. Lalu, pemerintah menyediakan sarana transportasi umum yang aman, nyaman, selamat, terjangkau secara akses dan finansial.

Sementara masyarakat diminta untuk selalu mematuhi aturan yang berlaku, yakni UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. “Yang pasti, trotoar, zebra cross, jembatan penyeberangan orang  adalah hak dan kedaulatan para pejalan kaki. Mari rebut kembali,” tegasnya.

Hari Pejalan Kaki kali ini diisi pula dengan tabur bunga persis di samping halte bus, lokasi terjadinya kecelakaan maut. Para perwakilan komunitas yang hadir ikut menaburkan bunga selain tentu saja berdoa demi keselamatan semua. Sebelum membubarkan diri, para peserta menutupnya dengan aksi simpatik membentangkan spanduk dan papan pesan.

Seruan yang dilontarkan selain mengenai trotoar sebagai hak pejalan kaki, juga menyerukan agar semua pengguna jalan memprioritaskan keselamatan.

Selain itu, diserukan juga tentang batas maksimal berkendara di kawasan jalan kota, yakni 50 kilometer per jam (kpj), serta ajakan untuk memenuhi batas kecepatan maksimal di kawasan pemukiman, yakni 30 kpj.

Belum lama ini, ada sebuah kasus yang menimpa Radiantmi, bukan nama sebenarnya. Kecelakaan yang dideritanya terjadi saat dia sedang berkerumun di pinggir jalan dengan sesama temannya.

Malam itu, melintaslah sebuah mobil. Sekalipun melaju perlahan karena ada kerumunan orang, tetap saja terjadi kecelakaan. “Mobil melintas tanpa memberi isyarat klakson,” papar seorang saksi.

Radiantmi menderita luka-luka atas kecelakaan tersebut. Sang pengemudi, kita sebut saja Falen, sekalipun sudah meminta maaf dan belakangan berdamai, harus menjadi pesakitan di pengadilan.

Setelah melewati sejumlah persidangan, Falen yang semula dituntut denda Rp 1,5 juta akhirnya divonis denda Rp 1 juta. Falen dibidik dengan Pasal 310 ayat (2) Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Pengalaman seharusnya menjadi guru yang amat berharga bagi kita semua. Kejadian yang menimpa Falen mengajarkan kepada kita bahwa kecelakaan berdampak luas.

Pembelajaran yang berharga lainnya adalah bagaimana kita para pengendara patut memberi prioritas kepada pedestrian. Memberi isyarat klakson menjadi salah satu upaya untuk menghindari terjadinya tabrakan.

Masih ingat nasib pedestrian yang ditabrak oleh sepeda motor pesohor di Jakarta Selatan? Korban seorang kakek berusia 80 tahun meninggal dunia dan dianggap menyeberang jalan tidak hati-hati.

Kepolisian menyatakan, korban menyeberang membelakangi jalan dan sang pesohor tidak melihat ada pedestrian yang hendak menyeberang. Sang pesohor pun lolos dari jeratan hukum.

Kejadian nyaris serupa menimpa, Edwardian, kita sebut saja begitu, dua tahun sebelum kasus sang pesohor. Edwardian adalah pengendara sepeda motor yang menabrak seorang pejalan kaki. Korban yang berusia 70 tahunan menghembuskan nafas setibanya di rumah sakit.

Sang pesepeda motor melihat korban pada jarak lebih kurang 20-30 meter. Saat itu, sang pedestrian telah berada di aspal jalur kiri dan hendak menyeberang ke kanan jalan.

Untuk menghindari kecelakaan, sang pesepeda motor mengaku telah menghidupkan klakson sebanyak dua kali dan melakukan pengereman. Korban menunjukkan reaksi ragu-ragu untuk menyeberang dan berjalan mundur.

Sayangnya, Edwardian tidak bisa menghindar sehingga menabrak korban. Korban tertabrak pada bagian dada kanan akibat tertabrak stang motor bagian kanan. Saat itu, laju kecepatan sepeda motor berkisar 70-80 km per jam. Kondisi jalan beraspal lebar dan lurus, permukaan jalan kering, dan siang hari.

Sepeda motor sang penabrak dalam kondisi lengkap dan standar pabrikan. Saat terjadi kecelakaan, lampu kecil motor dalam kondisi menyala. Saat kejadian, pedestrian yang tertabrak terseret sejauh lima meter, sedangkan sang penabrak terjatuh sekitar 14 meter dari titik tabrakan.

Melihat korban tersungkur, Edwardian menolong korban. Dia membawa korban ke rumah sakit dengan meminta tolong angkutan desa yang kebetulan melintas pada saat itu.

Dia pun sempat ditahan selama 10 hari untuk mengikuti proses mencari keadilan di meja hijau. Sang pesepeda motor diancam oleh pidana dalam pasal 310 ayat (4) UU No 22 Tahun 2009. Dan, majelis hakim akhirnya menjatuhkan pidana penjara selama empat bulan dengan masa percobaan selama delapan bulan.

Bagaimana, anda ingin menjadi pesakitan?

  • sa tjia

    kok artikel diatas lebih menyerang ke mobil dan motor ya? menurut saya sih sebagai mantan pejalan kaki dulu yg paling ganggu sebenarnya gerobak makanan… waktu musim hujan ketika trotoar tergenang air saya tidak bisa berjalan kaki di trotoar karena dipakai full utk warung tenda, tdk pernah saya terganggu karena mobil tuh!