Kenapa sih, Jadi Pengantin Saja Sulit?

Kenapa sih, Jadi Pengantin Saja Sulit?

Ilustrasi (penulispro.com)

Apakah anda termasuk anak perempuan yang pernah menikmati drama percintaan Anna dan Pedro di layar kaca? Atau, menghabiskan jam istirahat sekolah bareng teman satu geng hanya untuk menangisi Bojes AFI yang tereliminasi?

Selamat! Anda berarti saat ini sedang dihujani undangan pernikahan oleh kawan seangkatan, yang bisa jadi lebih beruntung soal jodoh. Jika itu benar terjadi, jangan murung dulu, jangan mutung, dan jangan berhenti membaca tulisan ini. Tuntaskan hingga selesai, karena saya yang juga senasib ini akan menemani derita anda. Derita anak bangsa generasi Anna dan Pedro!

Suka atau tidak, situasinya memang sensitif. Karena itu, kita harus yakin dulu kalau perkara jodoh takkan pernah sama perlakuannya, tak sama waktunya, tak sama caranya, juga tak sama kadar keberuntungannya.

Jika beberapa undangan pernikahan datang tak diundang secara beruntun, anggaplah kita sedang diuji, walau pedih. Tapi berbaik sangka saja, meskipun mereka memang ingin sengaja pamer kebahagiaan dengan melancarkan agitasi propaganda yang masif di bagian belakang undangan: “Karena cinta sejati selalu datang tepat waktu”.

Nah, kalau sudah menamati dan meresapi kata-kata yang kerap diucapkan oleh sang motivator super itu, bisa jadi dengan beringasnya kita lempar undangan itu ke luar jendela. Lalu mengumpati bayangan wajah sang mempelai perempuan yang ternyata teman SMA.

Perlahan, juga mulai muncul bayangan wajah manisnya yang nyengir kegirangan saat nanti satu ranjang pelaminan penuh bunga dengan suaminya yang kita nggak kenal siapa dia. Kemudian, kita mulai bikin analisis alay-alayan untuk mencari tahu mengapa pernikahan itu bisa terjadi.

Padahal, kita tahu betul, wajah sang mempelai perempuan – yang teman kita itu – manis sekali mirip Mika Tambayong versi agak gemukan. Tapi mengapa pasangannya nggak keren gitu? Muncul anggapan iseng bahwa bisa saja suami teman kita itu anak horang kaya. Atau, mungkin kena guna-guna. Atau, mungkin karena foto prewed-nya pakai kebaya dengan perut sedikit melembung, lalu disimpulkan ia hamil duluan.

Stop! Saya terpaksa harus menghentikan pikiran buruk itu. Saya yakin anda pun tak sejahat itu men-suudzoni momen bahagia teman sendiri. Mungkin pikiran sedang kalut saja dan itu amat lah wajar. Bukan kah lebih baik berikhtiar pada cita-cita semula? Menjadi seorang pengantin?

Tapi, nyatanya, beberapa anak perempuan seangkatan saya tak memiliki militansi untuk mempertahankan sebuah cita-cita yang katanya luhur itu. Sebagian malah lebih dulu menggugurkan keinginan mereka menjadi seorang pengantin. Dan, kebetulan saya pun begitu.

Saya merasa jadi seorang pengantin tak lebih masuk akal daripada seseorang yang berkeinginan menjadi walikota atau bupati. Misalnya bupati. Beberapa syarat untuk menjadi bupati begitu sederhana. Pertama, batasan usia minimal 25 tahun. Kedua, jenjang pendidikan minimal SMA atau sederajat.

Dan, yang ketiga, jika bakal bupati ini malas menggandeng partai, jalur perseorangan masih bisa ditempuh. Syaratnya memang bercabang lagi, karena butuh dukungan sekian persen dari total penduduk kabupaten.

Semisal, anda berselera menjadi bakal bupati dan ingin memimpin kabupaten X berpenduduk 250.000 jiwa. Anda harus mengumpulkan dukungan minimal 10% dari jumlah penduduk. Saya yakin anda takkan sulit mengumpulkan 25.000 dukungan.

Kalau mau pakai hitungan ala sempoa, minimal 10.000 dukungan bisa anda panen dari perjalanan hidup semasa sekolah. Hitung saja total kawan anda sedari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga perguruan tinggi. Jangan hanya hitung kawan seangkatan saja, tapi juga angkatan kakak kelas, adik kelas, para guru, sampai staf sekolah yang pastinya mengenal anda. Sebab, saya yakin anda adalah sosok yang cukup populer.

Oh iya, kawan nongkrong juga dihitung. Sebab, siapa tahu, anda suka dugem, gonta-ganti pub, menggilir kafe-kafe, atau mungkin sekadar ngemil di pelataran minimarket. Para pelayan bahkan juru parkir otomatis mengenali dan tanpa babibu mereka takkan keberatan mengalihkan dukungannya kepada pelanggan setia seperti anda.

Masih tak yakin mampu mengumpulkan dukungan sebanyak itu? Kan itu baru di dunia nyata, dunia yang satunya lupa belum dihitung. Coba tengok kawan-kawan di Facebook. Pertemanan di dalamnya minimal akan menyumbang 5.000 dukungan. Itu  belum termasuk follower yang tidak dapat mengajukan pertemanan lagi karena alasan limit.

Kemudian tengok akun-akun media sosial lainnya, seperti Instagram, Twitter, Path, Snapchat, ataupun Bigo. Terlebih, jika anda rajin bikin video di Youporn Youtube, jelas para subscriber dengan senang hati akan menghibahkan dukungannya.

See? Betapa terjangkaunya menjadi seorang bupati, jauh lebih terjangkau ketimbang menjadi seorang pengantin. Masih tak percaya? Baik, mari kita verifikasi syarat menjadi seorang bupati tadi dengan syarat menjadi seorang pengantin.

Pertama, soal batasan usia. Anda takkan pernah tahu jodoh akan datang pada usia berapa. Anda boleh saja berencana minimal menjomblo sampai umur sekian. Tapi nyatanya, sifat jomblo yang hakiki itu tak kenal batas minimal dan maksimal. Kelewat bebas dan bisa saja bablas.

Kedua, soal jenjang pendidikan. Jangan dipikir bisa santai-santai karena telah mengantongi gelar sarjana. Berasumsi asal sarjana, jalan untuk dipinang atau meminang seseorang bisa licin-licin saja, begitu? Wong yang magister, doktor, bahkan calon profesor saja kalau urusan jodoh masih kalah bejo sama anak ustadz kondang, yang kemarin baru saja menikah walau belum tamat SMA.

Ketiga, soal dukungan. Ini yang paling gawat. Dukungan untuk bisa menjadi seorang pengantin agaknya sulit, jika dihitung secara statistik sekalipun. Sebab, para pendukung dalam konteks ini tak melulu soal kuantitas. Anggaplah banyak kawan dan rekan yang telah merestui hubungan anda dengan si calon untuk naik ke atas kuade. Tapi apa iya, orang tua sudah memampirkan restunya?

Bahkan, untuk sekelas Julia Perez yang pengagum dadanya karyanya begitu fantastis dan haters-nya begitu melimpah ruah – berkaca pada hubungannya dengan Gaston si sixpack itu – masih tak direstui sang ibu. Lalu mengatasnamakan birahi cinta, mereka pun menikah tanpa restu. Lantas, tahu sendiri kan nasib keduanya sekarang ini bagaimana?

Saya jadi teringat obrolan dengan ibu. Ketika itu, ibu cerita soal teman kantornya yang tak memberi restu pada pernikahan anaknya. Saya tanya alasannya kenapa, ternyata mantunya bukan seorang dokter. Sedangkan tiga kakaknya yang lain ‘kebetulan’ berjodoh dengan manusia yang kebetulan berprofesi sebagai dokter.

Batin saya jelas bergejolak mendengarnya. Dan, bisa saja itu adalah sebuah kejahatan yang dilakukan orang tua, karena mencekik niat anaknya menjadi seorang pengantin dengan kriteria yang teramat muluk. Lagi-lagi, orang tua yang seharusnya berperan sebagai barisan pendukung paling depan sering kali berkelit untuk masalah jenjang pendidikan bakal menantunya. Dan, itu jelas meresahkan.

Jenjang pendidikan itu tak ada batas usia. Belajar dan mencari ilmu berhak ditempuh setinggi-tingginya dalam kurun waktu semampunya atau se-diberinya umur. Jika jenjang pendidikan adalah kriteria utama, maka variabel waktu tak wajib dijadikan indikator. Sementara, kode keras dari orang tua yang mengoceh minta cucu tak lagi bisa terelakkan.

Saya pun paham, banyak yang sudah kebelet untuk segera menjadi seorang pengantin. Apalagi, kini halaman akun media sosial sedang dibanjiri foto ijab qobul dan resepsi kawan-kawan lama. Lalu, kalau begini, bagaimana kalau tak usah menikah saja?

Lalu mengubur dalam-dalam impian luhur itu, impian luhur saya, anda, dan anak bangsa untuk menjadi seorang pengantin. Sebuah impian untuk bisa bersanding bersama orang yang menyimpan separuh dari tulang rusuk anda. Dan, impian untuk bisa menjadi putri atau pangeran yang duduk di singgasana dan diselamati kekal abadi lewat ribuan jabat tangan.

Ah, tapi janganlah. Kita harus tetap memelihara harapan dan angan-angan itu. Tetaplah menjadikannya sebagai tujuan mulia seperti saat kita masih kanak-kanak dan belum akil baligh.

Jadi, kapan nikah?