Kematian Sang Pianis Sukses dan Pesan dibalik Itu
CATATAN SI NENG

Kematian Sang Pianis Sukses dan Pesan dibalik Itu

pixabay.com

Akhir pekan Abang libur. Biasanya dia suka mancing di Jatiluhur. Tapi sekarang sering hujan. Neng pernah ke sana, kebetulan mau hujan lebat. Duh, bikin ciut nyali. Cukup sekali deh.

Jatiluhur itu cekungan lembah. Serupa mangkuk raksasa bertepi tebing. Menjelang hujan lebat, awan hitam bergulung di ujung mangkuk. Petir menggelegar, menyambar puncak-puncak. Awan pekat bergerak cepat. Mencekam, seperti di film The Lord of the Rings.

Karena takut kesambar petir, Neng rayu Abang supaya lebih sering di rumah. Apalagi bulan depan kami mau nikah. Alhasil, kami menghabiskan hari seperti pasangan normal lainnya: duduk di sofa. Lalu masing-masing buka ponsel. Yang dekat terasa jauh, yang jauh terasa dekat.

Abang paling suka nonton streaming sepak bola. Sesekali ngecek perkembangan politik dunia. Kalau Neng lebih suka nonton streaming drama. Sesekali ngecek perkembangan politik rumah tangga orang. Eh?

Tiba-tiba, si Abang teriak… GOOLLL!! Neng sih diam aja, mata ini tetap tertuju ke layar ponsel. Abang tampak heran. Biasanya Neng memang selalu minta Abang nge-replay bagian golnya. Ya itung-itung berbagi kegembiraan. Neng kan juga suka olah raga, cuma rasanya rugi buang waktu untuk nonton bola full.

Si Abang lalu nyeletuk, “Neng lagi nonton apa sih?”

Ya langsung Neng jawab aja sekenanya, “Lagi baca-baca aja soal Raisa.”

“Baru putus ya? Hahaha…”

Neng nggak ikut ketawa. Di pikiran ini cuma bagaimana pernikahan nanti bisa sempurna. Neng langsung bilang ke Abang, “Pasti keren banget kalau nikahan nanti ada Raisa nyanyi, ya Bang? Semua orang bakal berdecak kagum.”

Kalau dialog tadi dibuat film kartun, pasti ada adegan Abang terjengkang ala Sinchan. Tapi rupanya ia hanya bisa melongo. Sebelum mengeluarkan kata-kata, Neng langsung merebahkan kepala di pundak Abang sambil ngomong, “Iya ngerti kok, Abang bukan anak mantan presiden. Neng juga bukan anak mantan gubernur BI.”

Neng sebetulnya cuma teringat pesta resepsi orang yang dekornya megah kayak istana Cinderella. Lalu membayangkan Raisa turun dari tangga pakai spotlight. Datang ke pelaminan, nyanyi, sambil masangin mahkota ala-ala Miss Universe gitu ke Neng. Ah… Keren.

Abang yang dikasih tahu begitu hanya geleng-geleng. Tapi ia kayaknya paham, Neng cuma lagi manja. Biasanya tinggal dibelai dikit, terus dicium jidat lebar yang licin ini, pasti langsung ceria lagi. Ya siapa sih yang nggak lumer punya calon suami yang ganteng berlesung pipi.

Tapi di tengah perbincangan kami itu, tiba-tiba ponsel Neng berdering. Neng langsung melihat nama si penelpon, kemudian bangkit berjalan menuju teras rumah mencari sinyal yang lebih kencang.

“Ya, halo? Mas Bram? Ada apa, ya?”

“APAAA??? Dharma meninggal?”

Abang langsung menghampiri Neng yang masih menyimak kabar dari Bram. Ah, air mata ini spontan mengalir cukup deras. Abang langsung menggandeng Neng menuju sofa. Neng hanya bisa terduduk lemas. Mungkin sekitar lima belas menit.

Abang lalu menuangkan teh hangat, lalu memberi Neng minum. Cukup lama Neng termenung. “Abang… Dharma, teman lama Neng, yang mini orchestra-nya Neng pesan untuk resepsi kita…”

Dharma seorang pianis sukses dari keluarga mapan. Ia bikin grup entertainment sekitar 10 tahun lalu, bersama pacar yang jadi istrinya. Lalu berkembang pesat merajai pesta-pesta pernikahan mewah di Bandung dan Jakarta. Sering juga ngiringin artis ibukota.

Dia juga pinter nego. Mahir bikin musik pengiring yang halus kayak rekaman aslinya. Sangat detil dan perfeksionis, bahkan dalam keseharian. A blessing, and a curse

Tapi Dharma orangnya terlalu khawatir tentang segala hal. Dari ketertiban, keamanan, sampai kebersihan. Gelisah berlebihan lihat buku yang tersusun terbalik. Pasti harus langsung ia betulkan. Selalu ngecek kunci pintu lebih dari tujuh kali, hanya untuk memastikan pintunya sudah terkunci.

Ia juga selalu bawa bekal sendiri, bahkan kalau manggung ke luar kota. Teman-temannya suka ngeledek, sungguh rugi nggak bisa wisata kuliner. Ia hanya mau makan di tempat yang nggak ada lalat sama sekali. Sekali ada lalat nakal, dia akan pindah makan ke dalam mobil.

Di rumah, ganti keset, handuk, dan seprai harus tiap hari. Mandinya? Pakai air minum galon. Orang yang begitu detil dan higenisnya – bisa dibayangkan – seperti apa kehidupan cintanya? Complicated. Ribet banget.

Waktu bisnisnya melejit, ia bisa dapat lebih dari lima job dalam seminggu. Bikin iri grup-grup yang lain. Tentu pakai pianis asisten. Istrinya ngurus tim lainnya itu. Dharma bisa nelepon istrinya lebih dari selusin kali cuma buat nanya, “Gimana keadaan di sana?” Kalau istrinya bosan dan mengakhiri pembicaraan, dia akan langsung telpon balik, “Kenapa ditutup telponnya? Ada siapa sih di sana?”

Sejak pertama Neng kenal, mereka sudah cukup sukses. Tapi Neng sudah lihat ada bibit-bibit bencana. Istri Dharma, meski lebih dari lima tahun pacaran sebelum nikah, tentu pusing ngikutin kemauan Dharma. Ditambah kehadiran anak kembar, perfeksionisme Dharma membabi-buta. Sampai pada akhirnya, Dharma ditinggalkan istrinya.

Waktu Neng ceritakan itu ke Abang, dia langsung nyerocos, “Dharma keliatannya nyebelin ya, Neng? Nggak aneh juga kalau ditinggalin istrinya.”

Neng langsung aja menimpali, “Dia bukan orang jahat, Bang! Dharma itu mengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder).”

OCD semacam gangguan kecemasan yang bikin orang gampang gelisah. Takut dan punya pikiran yang nggak masuk akal. OCD nggak bisa sembuh. Obatnya hanya… obat penenang. Tapi kalau makan itu, Dharma nggak akan bisa kerja.

Sebelum cerai, istri Dharma sepertinya tertekan banget. Ah… Neng kira wajar kalau dia nyari temen curhat. Yang paling sering dicurhatin, ya rekan kerja yang sering ketemu. Terjadilah bencana itu. Istri Dharma selingkuh. Dua kali.

Selingkuh yang pertama dengan MC. Dari keluarga yang juga cukup mapan. Dharma menggugat cerai. Tapi mereka masih serumah. Neng kira mereka berusaha rujuk. Job-job masih dikerjain seperti biasa. Nggak lama, MC itu memilih untuk putus dan nikah sama perempuan lain. Kami semua berpikir, badai sudah berlalu.

Eh, empat tahun kemudian, Dharma benar-benar pisah sama istrinya, dengan bara amarah di antara mereka. Drama perebutan anak, juga merk dagang. Para pemusik anak buahnya sampai terbagi menjadi kubu yang saling bermusuhan.

Hanya tiga bulan setelah cerai, istri Dharma udah nikah lagi. Sama pianis asisten. Duda beranak satu. Mereka lalu buka grup entertainment baru. Dharma jadi depresi.

Neng dengar, dia pernah percobaan bunuh diri. Minum cairan pembersih lantai. Muntah darah, tapi masih tertolong. Astaga, Dharma yang begitu higienis, yang mandi pun pakai air minum galon, menelan cairan pembersih lantai?

Drama perebutan anak nggak juga berakhir. Mantan istri Dharma menuntut tunjangan anak, sementara keluarga Dharma menuntut diberikan hak asuh. Mantan istri Dharma memilih: mindahin anak kembar mereka ke sekolah yang lebih murah dan melarang Dharma ketemu mereka.

Sampai akhirnya berujung pada kabar bahwa Dharma meninggal di kamarnya. Ibunya yang nemuin. Tubuh Dharma sudah membiru. Keluarganya cuma bilang kalau Dharma serangan jantung. Tapi Neng mana percaya??

Tak lama setelah itu, teman di grup WA mengaku ketemu Dharma. Dharmanya bilang, “Gue udah pengen cepet-cepet ke surga.”

Mendengar itu, tangis Neng pecah.

Sesak.

Neng bilang ke Abang, “Kita ke rumah duka, ya.” Tiba di rumah duka, suasananya mencekam. Rasanya awan hitam menggulung. Bagian paling menusuk hati di rumah duka itu ya melihat kawan yang masih muda, terbujur kaku di peti mati. Terbersit bahwa, dia udah gak ada… Tapi kita belum bisa percaya.

Lalu peti ditutup. Dikencengin bautnya. Disegel las. Orang-orang berhenti ngobrol. Sadar, itu kali terakhir bisa lihat kawanmu. Air mata kembali tumpah…

Di tempat kremasi, ada doa terakhir. Aura begitu sendu. Lalu peti mati didorong pelan-pelan ke dalam oven pembakaran. Matamu nggak akan bisa lihat dengan jelas. Kabur oleh tangisan.

Seorang anggota keluarga kemudian menekan tombol oven. Lidah api langsung keluar dari segala arah. Menyambar peti. Keluarga histeris. Orang-orang terisak. Seketika bawah sadar kita menyergap: inilah akhirnya.

Ya semuanya jadi abu. Raga, dan semua kenangan. Semua kisah suksesnya, semua mimpinya, hancur menjadi debu. Tiada arti lagi.

Terus Abang ngomong ke Neng, “Istrinya jahat ya? Dharma nggak boleh ketemu anak-anaknya. Gimana dia mau punya semangat hidup?”

Tapi Neng menggeleng. Bagi Neng, mereka semua pelaku sekaligus korban. Dua-duanya salah, tapi nggak bisa disalahkan gitu aja.

Neng pulang ke rumah dalam keadaan lemas. Tadi nangis habis-habisan. Malam itu, dalam pelukan Abang, dengan mata yang masih bengkak, Neng berbisik. “Kita pakai band dan katering yang sederhana aja, ya? Gengsi itu fana. Yang paling penting cuma Abang. Kita.”

*Untuk semua penderita OCD dan keluarga mereka, saya menulis ini…

 

DISCLAIMER: Ini merupakan cerita fiksi. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.