Kelompok Intoleran Sebaiknya Belajar dari Tusuk Gigi

Kelompok Intoleran Sebaiknya Belajar dari Tusuk Gigi

Ilustrasi tusuk gigi (youtube.com)

Pak Ismail tak mau berhenti ngoceh sejak pintu kendaraan ditutup dan melaju. Banyak hal ia ceritakan. Seperti biasa, saya tidak bisa hanya menjadi pendengar yang baik, tapi juga teman diskusi yang asik.

Hingga akhirnya kami terlibat dalam scene pembicaraan yang kekinian. Soal kelompok intoleran.

Menurut Pak Ismail, yang cerita sembari berkali-kali mengikuti arah peta di ponsel pintarnya, kelompok intoleran itu banyak. Bukan hanya kelompok yang membawa-bawa agama, tapi juga orang-orang yang tidak siap dengan perubahan. Salah satunya, tukang ojek pangkalan.

“Mereka dengan leluasa menghakimi ojek online yang memasuki wilayah kerjanya, padahal zaman sudah berubah,” katanya.

Pak Ismail menceritakan itu karena pernah jadi bulan-bulanan tukang ojek pangkalan. Saat dirinya masih bekerja dengan kendaraan roda dua. Ketika jenis kendaraannya berubah jadi roda empat, ternyata perlakuan serupa juga masih ada.

“Bahkan mereka juga melakukan persekusi.”

Terus terang saya ingin berlama-lama membahasnya, tapi lokasi tujuan sudah di depan mata. Sebelum berpisah, Pak Ismail menitip pesan agar saya menginformasikan kepada kelompok intoleran supaya belajar pada tusuk gigi.

Saya tidak paham apa maksud Pak Ismail menyebut tusuk gigi. Tapi saya oke kan saja, meski masih menyimpan rasa penasaran.

Sehabis makan, kebetulan saya melihat sekotak tusuk gigi. Saya jadi ingat pesan Pak Ismail. Ada dua model tusuk gigi. Yang satu dibalut kertas satu per satu, lalu diletakkan dalam kotak. Satunya lagi dikumpulkan begitu saja di kotak yang lain.

Awalnya, saya hendak mengambil tusuk gigi yang tak dibungkus sama sekali. Sebab itu lebih praktis, bisa langsung dipakai. Namun, saya teringat dengan Agatokles, seorang aristokrat pada periode Yunani Kuno. Pada tahun 289 SM, ia dibunuh oleh budak kesayangannya dengan menggunakan tusuk gigi.

Si budak menaruh racun mematikan pada ujung tusuk gigi, yang kemudian dipakai sang tiran. Racun itu bekerja pelan-pelan hingga akhirnya Agatokles meninggal dunia.

Saya juga ingat kabar seorang teman, yang menceritakan pengalaman dari temannya. Temannya itu punya teman yang punya teman ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Si temannya temannya teman ini – mulai bingung ya? – disinyalir terinfeksi penyakit menular dari tusuk gigi yang dipakainya dari warung makan. Mungkin bekas pakai ODHA yang jahil.

Karena pertimbangan itu, saya akhirnya memilih tusuk gigi yang dibungkus satu per satu. Jika diperhatikan, bentuk tusuk gigi yang dibungkus secara eksklusif itu jauh berbeda dengan yang dikumpulkan begitu saja.

Di sisi lain, tusuk gigi tersebut ada bagian bergerigi. Awalnya, saya pikir itu hanya pemanis. Hingga seorang teman mengatakan bahwa itu adalah bagian penting dari tusuk gigi. Fungsinya sebagai bantalan sehabis pakai agar ujungnya yang bekerja di dalam mulut tidak melekat langsung ke meja atau permukaan lain.

Sejauh itu, saya belum menemukan jawaban dari pesan Pak Ismail. Apa hubungannya kelompok intoleran dengan tusuk gigi?

Saya kemudian melihat tusuk gigi yang bekas pakai. Ia berada di pembuangan sampah. Bercampur dengan sampah lainnya. Bentuknya yang kecil nyaris tak mampu dilihat sekilas mata. Padahal, tusuk gigi itu lahir dari rahim yang eksklusif, karena ujung lainnya bergerigi.

Mungkin saja ia habis dipakai politisi rakus untuk mengangkat sisa makanan yang menempel di giginya. Setelah itu dibuang begitu saja. Tanpa peduli bahwa awalnya dibuat secara eksklusif dan mewah. Bahkan berbungkus kertas putih-putih.

Tapi namanya tusuk gigi, meski membantu menjangkau sesuatu yang tak tercapai oleh tangan, jika sudah dipakai, dibuang ke tempat sampah. Kecuali tusuk giginya dibuat dari logam mulia dan berhias batu permata. Mungkin akan disimpan untuk koleksi atau dijual di kemudian hari.

Saya kemudian berpikir. Jangan-jangan Pak Ismail ingin menyampaikan pesan agar kita tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Tusuk gigi dari apapun bahan dasarnya, tugas utamanya adalah membantu manusia menjangkau sisa-sisa makanan yang sulit digapai oleh tangan.

Meski jadi alat, bukan berarti ia bisa memaksakan kehendak. Semuanya tetap dikontrol oleh tangan. Mungkin itu maksud Pak Ismail…

Beberapa saat kemudian, saya menemukan buku berjudul ‘Slilit Sang Kiai’. Buku ini kumpulan cerita Emha Ainun Najib. Dalam satu cerita, ia berkisah tentang seorang ulama bergelar syaikh. Singkat cerita, ulama tersohor itu menemui ajalnya. Lalu datanglah orang jahat, yang berusaha mencuri kafannya setelah dikubur.

Sial tak ketulung. Mayat sang ulama berbicara setelah dua lembar kafannya diambil si jahat. Kafan ketiga ia pegang erat-erat, lalu berkata, “Kafan pertama aku biarkan, kedua juga aku ikhlaskan, tapi yang ketiga tak aku relakan. Aku tak ingin menghadap Allah dalam keadaan telanjang.”

Siapapun akan merinding, jika berada di posisi orang jahat itu. Sejahat-jahatnya dia, rasa takut pastilah ada. Lalu kemudian dialog si mayat ulama dan si orang jahat berlanjut dengan satu syarat.

“Kuberikan kain kafan itu kepadamu asal kau mintakan maafku kepada si fulan. Ia pernah mengundangku makan di rumahnya. Sepulang dari sana, aku mengambil ranting pohonnya untuk kujadikan tusuk gigi. Saat ini, gigi itu jadi bara, karena tak sempat aku minta kepada si fulan.”

Si ulama menyesal karena telah mengambil hak orang lain, meski itu hanya sebatang ranting untuk tusuk gigi. Bisa dibayangkan, andai hak orang lain yang diambil lebih besar dari itu. Akan jadi apa si ulama di alam kuburnya?

Sementara itu, saat ini, banyak orang mengklaim atas nama agama mengambil hak orang lain. Kita jangan melihat hak sebagai benda yang kasat mata saja. Ia juga berbentuk banyak rupa. Hak berekspesi, misalnya. Itulah mengapa, menghargai pilihan orang lain sangat penting.

“Jangan karena merasa mayoritas, kita tak mentolerir sikap orang lain.” Mungkin begitu pesan yang ingin disampaikan Pak Ismail…