Kelas Pekerja dalam Karya Satire Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Kelas Pekerja dalam Karya Satire Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (rollingstone.co.id)

Jangan terpancing dengan namanya yang susah diucapkan. Tak perlu googling untuk mencari tahu apakah namanya asli atau tidak. Sebab, Ziggy selalu menjelaskan itu pada halaman belakang setiap bukunya, selain bertahan hidup dengan makan corn bread selama empat bulan berturut-turut.

Melalui novel “Jakarta Sebelum Pagi”, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie berhasil menyabet gelar Karya Fiksi Terbaik Indonesia 2016 versi Majalah Rolling Stone. Saya pun penasaran ingin tahu lebih detil, tentunya dengan membeli novel tersebut.

Semula, saya sama sekali tidak tertarik dengan karya Ziggy. Masih terngiang dalam ingatan, saat membaca salah satu komentar penikmat buku yang mengatakan bahwa ia tidak bisa tahan membaca lebih dari lima halaman novel “Semua Ikan di Langit”, salah satu karya Ziggy yang memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2016.

Tapi, takdir berkata lain, ehem, ternyata saya malah jatuh hati kepada Ziggy. Gadis berusia 23 tahun ini menceritakan secara gamblang soal nasib kelas menengah pekerja di kota besar, seperti Jakarta. Ya seperti saya dan jutaan pekerja lainnya.

Novel “Jakarta Sebelum Pagi” langsung menyentil. Bagaimana tidak, pada awal cerita, tokoh yang bernama Emina – seorang gadis muda yang bekerja di Jakarta – menyebut sobat karibnya, Nissa, sebagai yan pi.

Oh ya, buat yang belum tahu yan pi, ini semacam kulit dimsum yang terbuat dari daging babi yang dipukul-pukul dan dicampur dengan tepung, lalu ditipiskan dan dijemur.Yan pi adalah produk makanan terkenal dari Fuzhou, Tiongkok.

Yan pi adalah cara Emina untuk menggambarkan kondisi kelas pekerja yang tinggal di Jakarta. Dipukul, dihimpit, diinjak-injak, digiling halus dalam gerbong kereta penuh sesak, dan dijemur di bawah teriknya matahari ibu kota.

Apa bedanya saya dengan yan pi, kalau begitu? Setiap pagi mesti berjibaku dengan ribuan pekerja lainnya di kereta, berpindah jalur di stasiun, dan berlari mengejar gerbong dengan berbekal sepatu Converse. Ini bukan karena ingin dibilang gaul, tapi sepatu ini niscaya susah lecek, tak seperti kemeja ketika berhimpitan di dalam kereta.

Yang membedakan, saya atau mungkin anda tak perlu berjemur di bawah sinar matahari, karena bekerja di dalam ruangan ber-AC. Tapi rasanya, kalau kita berjumpa dengan Emina, ia tetap akan memasukkan kita ke dalam kategori yan pi.

Bahkan, tetangga apartemen Emina yang notabene makhluk berparas ganteng saja, ia panggil dengan istilah babirusa. Termasuk rekan kerjanya yang lain, Kak Cindi, yang ia sebut dengan istilah babi asap. Kenapa mesti pakai istilah itu?

Wajar saja, seperti dikisahkan pada awal cerita, Emina baru selesai membaca Animal Farm, novel terkenal karya George Orwell. Novel satire ini memang beken dan cukup page turning – menurut istilah seorang teman.

Saya sendiri menghabiskan novel terbitan tahun 1973 itu, yang diterjemahkan menjadi “Binatangisme” oleh Mahbub Junaidi, dalam perjalanan di kereta trayek Jogja-Pasar Senen.

Membaca terlebih dahulu novel Animal Farm akan sangat membantu kita saat membaca “Jakarta Sebelum Pagi”. Kalau tidak, kemungkinan besar anda akan mengernyitkan dahi sepanjang cerita. Kemudian, bertanya-tanya mengapa Emina sering memakai istilah babi, bercerita tentang babi, menganalogikan segala hal dengan kehidupan babi.

Prolog yang menggambarkan kehidupan kelas pekerja di Jakarta tadi sangat tepat sebagai pengantar novel “Jakarta Sebelum Pagi”. Sebab, kondisi pekerja yang cenderung statis, bergerak ke sana ke sini sesuai jalurnya tanpa ada hasrat untuk melawan, dan tidak neko-neko, seperti yang dialami Emina.

Nissa sebagai seorang sahabat mengingatkan Emina bahwa sebagai warga lokal Jakarta, ia seharusnya apatis, reaktif, dan melapor kepada polisi saat mengetahui ada stalker misterius yang mengirim balon lengkap dengan rangkaian bunga ke jendela apartemennya. Apakah itu dilakukan Emina? Tidak.

Walaupun tenggelam dalam pekerjaan yang monoton; memesan menu makanan diet untuk bosnya selama bertahun-tahun, Emina tidak terjerumus menjadi seorang yan pi seperti halnya Nissa.

Maka yang terjadi adalah pencarian sosok stalker itu yang mengantarkan Emina berkenalan dengan seorang anak kecil yang berperawakan seusia anak SD dengan rambut seindah iklan sampo bernama Suki.

Suki memang bukan anak biasa. Alih-alih sibuk dengan PR dari sekolah yang banyak, sebanyak tumpukan buku yang harus dijejalkan ke dalam tas ransel sekolah tiap pagi, Suki lebih aktif mengurus tea room yang jadi satu dengan toko bunga milik kakaknya.

Suki seperti kamus hidup dalam segala hal tentang teh, jenis-jenis teh, termasuk adab dan tata cara minum teh dengan baik dan benar.

Lagi-lagi hal menarik disampaikan Ziggy disini. Coba perhatikan, mana ada sih seorang pekerja yang isi kepalanya melulu soal tagihan kartu kredit, pekerjaan yang seolah tiada habisnya, masih memiliki waktu untuk meladeni obrolan atau berinteraksi dengan seorang anak kecil?

Tak cuma itu, novel “Jakarta Sebelum Pagi” juga menceritakan beberapa lokasi menarik di Jakarta, yang semakin sesak dengan bangunan perkantoran dan mal, termasuk fly over yang dibangun bertumpuk dengan fly over sebelumnya (mau melayang sampai tingkat berapakah jalanan ini?).

Namun, di balik itu, ternyata Jakarta memiliki beberapa spot yang memiliki nilai historis nan eksotis. Oke, kalian sebagai KIDS JAMAN NOW biasa menyebutnya instagramable, path-able, dan abel-abel lainnya. Tokoh pria dalam novel ini juga bernama Abel.

Nah, salah satu lokasi yang historis nan eksotis itu adalah Kanal Molenvliet. Dari namanya saja, sudah pasti kita tidak akan husnudzon; berprasangka baik bahwa kanal ini berada di Jakarta. Faktanya, kanal yang terletak di antara Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, Jakarta Barat itu, dibangun oleh orang Tionghoa, bukan Belanda.

Menyusuri lokasi-lokasi yang bernilai sejarah rasanya cukup menarik untuk dijadikan alternatif kegiatan, terutama untuk para pekerja. Daripada menghabiskan setengah dari gaji bulanan untuk plesiran di mal?

Emina dan Abel bisa menelusuri beberapa lokasi bangunan tua di Jakarta bermodalkan setumpuk surat cinta yang mereka temukan. Petualangan mereka semakin mengukuhkan bahwa Emina betul-betul bukan yan pi, tak seperti orang kebanyakan. Memangnya ada yang mau berpergian pada dini hari bersama orang yang baru dikenal?

Novel “Jakarta Sebelum Pagi” rasanya layak untuk dikonsumsi oleh kelas menengah pekerja yang butuh banyak penyegaran. Sebab, buku itu mengingatkan kita untuk tidak terjebak menjadi yan pi.

Sekarang, saya siap untuk membeli karya Ziggy yang lain: “Semua Ikan di Langit”. Tapi ini tanggal berapa ya? Uang gajian sisa berapa? Limit kartu kredit masih ada atau nggak?

  • Vian Kamaruddin

    penulis hebat itu. mantap pokoknya

  • Kevin Kurnia

    Namanya ribet, tapi karyanya simpel dan asik. Baru 23 tahun? Emejing!

  • Tatiek Andajani

    Yanpi… kosa kata baru buat saya yang ndak segitu paham soal produk olahan babi. Pengen baca, sesudahnya mungkin saya balik ke sini, komen lagi..