Kelahi di Internet Memang Paling Enak

Kelahi di Internet Memang Paling Enak

Ilustrasi (Photo by Andre Hunter on Unsplash)

Internet adalah tempat yang sungguh menyenangkan. Banyak hal bisa didapatkan di situ, mulai dari ilmu baru, teman-teman dari beragam daerah dan latar belakang, serta perkembangan informasi terkini.

Namun, bagi beberapa orang, kesenangan di internet mereka dapatkan dari berkelahi dengan pengguna internet lain. Serius. Entah di Facebook, Twitter, Instagram, atau mungkin media sosial lain yang ia miliki, kerjanya adalah melontarkan komentar negatif atau provokatif yang memancing kemarahan pengguna lainnya.

Bahkan, untuk tulisan ataupun unggahan yang bersifat biasa saja, orang-orang ini bisa menemukan sesuatu untuk diperdebatkan atau dimaki-maki, sekonyol apapun itu. Tidak sedikit yang bikin akun khusus untuk menyerang dan memaki di internet.

Di sini, kelahi tidak sama dengan debat dan kritik. Niatannya bukan untuk berdiskusi atau koreksi, melainkan menghina, nyinyir, mencaci, hingga membunuh karakter.

Dampak terparah mungkin persekusi, seperti menggiring pengguna lain untuk beramai-ramai menyerang satu akun bertubi-tubi; tak menutup potensi serangan melebar hingga ke dunia nyata.

Sebabnya bisa beragam, tapi terutama karena perbedaan pendapat antar individu yang berkelahi. Contoh paling mudah mungkin pada masa-masa Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, ketika pendukung dua calon di putaran kedua saling serang satu sama lain.

Padahal, si penyerang tidak dicantumkan sama sekali dalam unggahan orang yang diserang. Atau, ada juga yang sengaja mencantumkan akun tersebut, sengaja untuk memprovokasi.

Sekarang ini ya persoalan moralitas dan etika. Penyerang dan yang diserang bisa saling mencap satu sama lain sebagai tak bermoral, tentu dengan standar masing-masing yang jelas berbeda. Cap lemah, liberal, ateis, amoral, hingga komunis pasti ramai berseliweran kalau sudah di arena ini.

Saya selalu bertanya-tanya kenapa orang gemar sekali kelahi di media sosial. Medium yang nirbatas ini memang membuat jangkauan interaksi penggunanya lebih luas, yang artinya dia akan lebih terpapar dengan nilai dan pendapat yang asing dan berbeda; entah dapat diterima atau tidak.

Kalau yang tidak terbiasa dengan perbedaan, maka ia akan rentan menyerang karena menganggap pendapat berbeda itu salah. Orang yang berbeda pendapat itu harus mengubahnya jadi sama; atau tidak ia akan terus diserang.

Tentu saja di dunia asli hal seperti ini rasanya mustahil terjadi. Misalkan saja ada dua orang yang bercakap-cakap di kafe, dan kamu tidak sengaja mendengar salah satunya melontarkan pendapat yang berbeda denganmu. Apakah kamu akan mendatangi dan kemudian langsung marah-marah di depannya? Menyampaikan pendapatmu tanpa diminta dengan kata-kata menyerang?

Rasanya mustahil. Kalaupun iya, pasti kamu sudah digiring keluar oleh pelayan kafe atau sekuriti.

Sewaktu ramai kasus perundungan dan persekusi daring, saya pernah bertanya ke Peneliti Media, Anak, dan Keluarga dari Universitas Indonesia (UI) Laras Sekarasih tentang kenapa orang-orang sangat berani dan garang di media sosial?

Menurut dia, orang-orang itu merasa lebih aman menjadi agresif di internet karena bisa berlindung di balik anonim atau identitas palsu sehingga sulit dilacak.

Patricia Wallace, penulis buku The Psychology of Internet mengatakan, saat seseorang merasa sebagai anonim, berjarak secara fisik, dan tidak ada tanggung jawab langsung, mereka cenderung menyampaikan pendapat dengan marah dan kasar. “Ekspresi yang tidak akan mereka gunakan di kehidupan nyata,” kata dia.

Kalaupun menggunakan akun asli, mereka juga tidak terlibat interaksi fisik dengan lawan kelahinya. Psikolog Catherine Steiner-Adair mengatakan interaksi tidak langsung seperti lewat media sosial meredupkan empati.

Jadi, kalau kalian melihat kelahi di internet yang menggunakan kata-kata dan ancaman yang mungkin tak terbayang sebelumnya, karena empati memang tak terlibat dalam interaksi.

Selain itu, ada juga faktor besarnya atensi yang diberikan pada akun kelahi. Survei majalah New Statesman di Inggris menunjukkan kalau 64,9% dari 388 respondennya ‘menikmati argumen orang-orang di media sosial.’ Apalagi kalau argumen yang dilontarkan salah satu pihak terdengar bodoh dan konyol.

Atau tidak, kelahi tersebut secara tidak langsung menyampaikan pendapat yang tersimpan dalam hati, namun tidak berani disampaikan karena pertimbangan tertentu. Jadi semacam juru bicara.

Makanya, tak heran kalau akun semacam Info Twitwor sangat populer, mendorong orang jadi berlomba-lomba untuk kelahi dengan alasan sekonyol apapun.

Lewat kelahi, bisa mendongkrak popularitas di dunia maya dan mungkin panjat sosial menjadi selebriti Twitter; diterima di lingkaran selebtwit yang mungkin sebelumnya tak terbayang.

Dia bisa memperoleh momen 15 minutes of fame dengan cara ini. Ada yang pengikutnya dari cuma ratusan langsung melonjak jadi ribuan; ada yang mendapat gelar pengamat ini, ahli itu, tanpa mempertimbangkan latar belakang pendidikannya.

Enak sih modal marah-marah, atau nyinyir bisa dapat ekspos besar; mendulang pendukung yang siap jadi beking perkelahianmu. Tubir produktif kalau meminjam istilah zaman sekarang.

Tapi, apa pencapaian marah-marah dan kelahi rutin di media sosial ini sesuai dengan dampaknya?

Kepada New Statesman, psikolog sosial Dawn Branley mengatakan kelahi di internet ini dapat menjadi katarsis pelepasan emosi negatif. Tetapi, yang disasar seringkali merasa frustrasi, bahkan sedih karena merasa kata-katanya disalahartikan.

Ya, sekali lagi karena tak ada interaksi langsung, maka tak ada bantuan dari bahasa tubuh, kontak mata, maupun intonasi yang bisa memperjelas maksud.

Tapi, tak jarang setelah kelahi atau marah-marah, ada yang justru merasa tambah emosi. Bisa karena perkelahian tak mencapai titik damai, atau malah ia yang awalnya menyerang jadi diserang. “Beberapa penelitian mengatakan kalau mengeluh atau marah di media sosial malah menguatkan emosi negatif, bukan menguranginya,” kata Branley.

Apalagi, lanjut dia, kalau orang tersebut emosinya sangat rentan, maka ujung-ujungnya malah stres. Makanya, tak sedikit yang habis kelahi lalu terekspos di Info Twitwor, langsung tutup akun.

Di luar penonton, perasaan positif seperti senang atau bangga justru sedikit sekali dirasakan para makhluk kelahi ini. Mungkin cuma para SJW atau troll yang senang; yang satu berhasil memuaskan self righteousness lewat likes atau retweet, sementara yang lain memang hobinya bikin orang marah-marah. Apalagi, kalau lawannya sampai hilang kredibilitas dan hilang selamanya dari jagad dunia maya.

Jadi, gimana dong?

Ya kalau merasa mampu dan suka, silakan kelahi. Karena buat sebagian orang cara ini memang berdampak positif buat pelepasan emosi yang terpendam, atau sekadar panjat sosial dan mencari eksistensi. Toh, mentok-mentok cuma kena UU ITE.

Meski tak ada salahnya kalau mulai berpikir ulang sebelum marah, seperti ini patut diucapkan atau tidak? Perlu tidak? Soalnya sekarang orang-orang HRD juga memantau media sosialmu. Mungkin mereka bakal mikir dua kali sebelum merekrut orang yang gemar marah dan berantem.

Sementara buat yang tidak suka, dan tidak bisa menikmati kelahi di media sosial seperti orang kebanyakan, silakan mute atau blok akun-akun itu.

Ekspos terhadap aura negatif seperti perkelahian di linimasamu memang berpotensi membuat jengah dan menghabiskan energi, terutama untuk yang diseret ke dalam pusaran. Pergi tidak selalu berarti pengecut.

Hanya kamu yang tahu bagaimana membuat dunia maya menjadi ruang yang nyaman. Entah sebagai ring tinju, panggung sandiwara, atau ruang kedap suara.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN