Baru Pacaran sudah Kekerasan, tapi kok Cinta?

Baru Pacaran sudah Kekerasan, tapi kok Cinta?

Film Posesif (Palari Films)

Setelah film horor Pengabdi Setan, penonton kembali dibuat berbondong-bondong ke bioskop untuk menyaksikan film berjudul Posesif, salah satu kandidat film terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2017.

Kisah ini berawal seperti layaknya manga Jepang bergenre romantis yang berkisah seputar datangnya murid pindahan yang memancing perhatian tokoh utama.

Lala (Putri Marino) bertukar pandang mata untuk pertama kalinya dengan murid baru bernama Yudhis (Adipati Dolken) di depan kelas, dan akhirnya berpacaran.

Adegan dan dialog penuh kemesraan kemudian mengalir manis. Mereka juga mengunggah memori-memori kecil di Instagram, seperti milenial pada umumnya.

Situasi mulai tidak nyaman ketika Yudhis mencemburui aktivitas latihan lompat indah dan kedekatan Lala dengan sahabatnya. Bahkan, kecemburuan Yudhis membuat Lala harus berbohong saat ia sedang bersama Reno, sahabat lelakinya, hanya karena takut Yudhis marah.

Ketakutan bahwa pasangan kita akan marah saat kita tidak melakukan hal yang salah adalah tanda adanya relasi kuasa di antara keduanya.

Sebagian orang akan membenarkan tindakan Yudhis dengan bilang, “Siapa suruh bohong?” Namun, di sisi lain, ketakutan macam apa yang dimiliki seseorang hingga harus berbohong, meski ia tidak salah?

Dalam hubungan normal yang sehat, takut mengecewakan sebetulnya wajar. Terlebih, jika memang membuat sebuah kesalahan, misalnya selingkuh. Namun, tokoh Lala menunjukkan ketakutan tak beralasan, karena hanya nongkrong santai bersama sahabat lelakinya.

Hubungan tidak sehat atau toxic relationship yang dialami Lala itu baru disadari saat tampak bekas cekikan di lehernya. Ayah Lala yang pertama kali menyadari hal itu.

Saat berniat untuk lapor polisi, Lala yang menjadi korban kekerasan dalam pacaran (KDP) itu mencegah sang ayah. Situasi serupa sering terjadi dalam banyak kasus korban KDP. Itu semata karena takut kasusnya menjadi panjang, malu, maupun alasan lainnya.

Keraguan Lala untuk menceritakan tindakan abusive Yudhis pada sahabatnya juga jadi cerminan masyarakat kita yang permisif terhadap kekerasan fisik maupun psikologis. Hal ini tampak dari ucapan Ega, sahabat wanitanya, yang meminta Lala memaafkan Yudhis.

Saking eratnya cengkraman relasi kuasa yang dilakukan Yudhis, Lala pun tak mampu bercerita pada Reno yang sempat menawarkan bantuan padanya. Kondisi Lala makin berbahaya saat Yudhis memanipulasi sahabat Lala dengan berpura-pura baik di depan mereka.

Ia menggunakan sikap tersebut sebagai bentuk pengorbanan bahwa ia telah melakukan segalanya demi hubungan mereka. Sekalipun pada akhirnya Lala lah yang nyaris mengorbankan karier dan pendidikannya demi Yudhis.

Relasi kuasa atas tubuh Lala juga terlihat saat Yudhis berkata, “Kamu nggak ingat kita udah ngelakuin apa aja?”

Ajakan sutradara Edwin untuk melihat latar belakang mengapa Yudhis menjadi pelaku abusive menurut saya juga menjadi pesan bahwa bukan hanya lelaki saja yang bisa jadi pelaku. Perempuan juga bisa.

Jika anak dibesarkan dengan kekerasan, ia akan akrab dengan hal itu sekalipun ia juga mengenal cinta. Yudhis adalah korban ibunya. Atas nama cinta ibu pada anak, ibunya jadi diktator atas hidup Yudhis.

Sedangkan ayah Yudhis yang pergi meninggalkan mereka menjadi trigger bagi ibunya untuk melakukan kekerasan pada anaknya.

Setelah mengetahui hubungan abusive antara ibu Yudhis kepada anaknya, Lala yang polos makin tidak sadar bahwa dirinya direpresi. Ia pun memaklumi pasangan yang menyakitinya, karena relasi kuasa cinta dan upayanya dalam memahami mengapa ia sering disakiti.

Seperti kata Yudhis pada Lala, usai mendapat kekerasan domestik dari ibunya, “Aku nggak papa kok. Nanti mama juga minta maaf.”

Alih-alih membantah pernyataan berbahaya Yudhis, Lala dengan naif justru bertekad menyelamatkan pacarnya dari situasi tersebut. Rasa inferior pada pasangan yang lebih berkuasa darinya membuat Lala tak segera beranjak pergi.

Ia justru mengidap semacam Mother Mary Syndrome, yaitu perasaan ingin menyelamatkan seseorang yang sebenarnya di luar kemampuannya.

Jika Yudhis sudah ‘berjasa’ membuatnya sadar bahwa lompat indah hanyalah ambisi ayahnya sebagai perpanjangan cita-cita ibunya, maka ia ingin membalas itu dengan menyadarkan Yudhis bahwa kuliah di ITB hanyalah ambisi ibunya. Namun, ia gagal melakukannya untuk Yudhis.

Tak membantu korban

Sayangnya, film ini tak memberikan contoh pada remaja bagaimana cara keluar dari toxic relationship. Sekalipun kekerasan psikologis dan fisik sudah terjadi jelas pada Lala, Yudhis tetap digambarkan sebagai sosok manis yang pada akhirnya memikirkan apa yang terbaik untuk Lala.

Sikap Yudhis yang memilih untuk meninggalkan Lala mengingatkan saya pada sosok filsuf melankolis Denmark, Kierkegaard. Ia juga nekat memutuskan Regina, karena takut nasib sial yang sering dialaminya berdampak pada tunangannya tersebut.

Namun karena cinta yang masih terlalu kuat, filsuf eksistensialis ini masih saja mengirimkan surat cinta pada mantannya, sekalipun Regina sudah bersuami.

Pada akhir film Posesif, Yudhis pun digambarkan masih menguntit mantannya yang sedang jogging. Film ini mengambarkan jelas adanya toxic relationship, tapi gagal memberi solusi nyata pada remaja yang sedang mengalaminya.

Setelah menonton film tersebut, bisa jadi mereka makin bingung dengan cara keluar dari hubungan tersebut. Apakah korban harus menunggu ‘dibebaskan’ oleh pacarnya yang abusive untuk memutus siklus kekerasan itu? Atau harus bagaimana?

Film Posesif memperlihatkan kegagalan usaha Lala mengakhiri toxic relationship-nya. Sebab, setiap kali ia ingin keluar dari situasi tak sehat itu, Yudhis selalu berhasil meluluhkan hatinya kembali. Hal ini yang membuat mereka jadian lagi, dan mengulangi siklus abusive dalam KDP.

Orang abusive memang bisa sangat manis sekaligus kejam demi mempertahankan kekuasaannya atas seseorang. Untung saja, pada adegan jogging pada akhir film tersebut, Lala mulai dapat merebut dirinya sendiri dari kuasa Yudhis berkat dukungan orang sekitarnya.

Ia tahu, bahwa ia harus terus berlari menjauh, meskipun nostalgia indah ala lagu Kita dari Sheila on 7 terngiang dalam ingatannya.

Film ini juga memperlihatkan Lala sudah dapat menjalani aktivitas normal seperti biasa. Ia tak tampak harus menjalani terapi pemulihan psikologis. Orang-orang terdekatnya pun menerima ia kembali apa adanya.

Nyatanya, memiliki pengalaman abusive bisa membuat seseorang mengalami trauma dan depresi berkepanjangan. Jika Lala bisa terselamatkan dari perilaku abusive sang pacar, apakah Yudhis bisa keluar dari rantai kekerasan ibunya?

Jika kamu mengalami KDP maupun KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), segera pulihkan kondisi psikologis dengan menghubungi Yayasan Pulih. Jika ingin mendapatkan pendampingan hukum secara gratis, kamu juga bisa menghubungi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta.

Dan, yang terpenting, sudah sepatutnya kita tidak lagi bersikap permisif terhadap kekerasan fisik maupun psikologis. Pacaran kok gitu?

  • ambar6667

    Koreks minori: tidak ada lagu Sheila on 7 yg berjudul Kita di film Posesif. Adanya lagu ‘Dan’.