Kejar Uangnya Sampai ke Negeri China

Kejar Uangnya Sampai ke Negeri China

bleacherreport.com

Apakah yang terlintas di benak anda ketika mendengar negara China? Kung fu kah? Atlet bulu tangkis bernama Lin Dan? Atau, bahkan negara komunis? Ya, saya anggap semua tentang Negeri Tirai Bambu itu benar.

Namun, kali ini bukan sesi untuk membahas itu semua, walau masih ada hubungannya dengan olahraga. Mari, sejenak kita tengok sepak bola China, yang semakin hari semakin glamor dan gemerlapnya saja. Siapa tahu, kita bisa mencuri ilmu mengenai tata kelola sepak bola di China.

Negara yang memiliki penduduk sebanyak 1,4 miliar jiwa tersebut telah menggemparkan dunia pesepakbolaan. Bagaimana tidak, dengan gelontoran dana sangat besar, klub-klub sepak bola di China berhasil memboyong para pemain top Eropa.

Salah satunya Carlos Tevez. Pemain asal Argentina tersebut diboyong Shanghai Shenhua dari Boca Juniors, dengan harga 84 juta euro. Tevez juga menjadi pemain dengan gaji termahal dunia, mengalahkan megabintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo.

Kedatangan Tevez ke Negeri Panda ini menyusul beberapa bintang ternama yang telah dulu singgah. Sebut saja mantan bintang Chelsea, Oscar. Saya sempat terkejut mendengar keputusan Oscar. Ia lebih memilih hijrah ke Shanghai SIPG. Padahal, umurnya masih terbilang muda untuk tetap berkiprah di liga Eropa.

Beberapa bintang lainnya yang telah sepakat bermain di Chinese Super League (CSL) adalah Hulk, Paulinho, Gervinho, Lavezzi, Ramires, hingga Demba Ba.

Tapi apalah gunanya pemain berkelas, jika tanpa diracik oleh tangan yang spesial juga. Jauh sebelumnya, klub-klub beringas di China mendatangkan sejumlah pelatih berpengalaman. Sebut saja mantan arsitek Manchester City, Manuel Pellegrini.

Selain Pellegrini, ada juga Andre Villas-Boas, Luiz Felipe Scolari, dan Fabio Cannavaro. Tak heran, jika pelatih asing bertaburan di liga China. Dari 18 klub CSL, hanya 3 klub saja yang mempercayai pelatih lokal. Memang tak terduga sebelumnya, China bakal benar-benar membangkitkan sepak bolanya.

Dulu, saya pernah sekali menonton sepak bola China di televisi. Itu pun bukan sepak bola sungguhan. Hanya sekadar sepak bola yang dikemas dengan Kung fu. Nama tontonannya Shaolin Soccer, haha…

Dulu, liga China memang kurang dikenal. Bila kita menilik pemain Asia Timur yang bermain di liga top Eropa, di situ hanya didominasi oleh pemain Jepang dan Korsel. Kita kenal Keisuke Honda asal Jepang yang telah melanglang buana di Eropa. Park Ji Sung, mantan pemain Manchester United dan timnas Korsel.

Dan, tak kalah tenar pemain Leicester City asal Jepang, Shinji Okazaki, yang ikut membawa The Foxes pertama kali menjuarai Liga Inggris. Tapi selama menjadi penonton liga-liga Eropa, saya belum pernah melihat pemain asal China yang memperkuat klub ternama di Eropa.

China memang harus kita akui sebagai negara adidaya ihwal olahraga. Mereka bahkan menjadi tim tangguh di sejumlah cabang olahraga dunia. Bulu tangkis, bola basket, atletik, dan lain-lain. Sebagai bukti, dalam Asian Games – pesta olahraga negara-negara Asia – China selalu menjadi nomor 1 dengan perolehan medali emas terbanyak.

Setelah digelar pertama kali pada 1951, China telah berhasil menjadi juara umum Asian Games sebanyak 9 kali. Bisa dibayangkan, sebanyak apa medali emas, perak, dan perunggu di lemari mereka?

Di level dunia, China juga membuktikan bahwa mereka merupakan salah satu negara yang terdepan di bidang olahraga. Misalnya di Olimpiade, China selalu masuk 10 besar peraih medali emas terbanyak.

Tetapi hanya satu yang kurang dari China? Apa menurutmu? Kalau menurutku jelas, gelar juara sepak bola. Apalah artinya juara umum Asian Games, jika belum bisa membawa pulang medali emas cabang sepak bola. Hal tersebut jelas belum lengkap rasanya.

Apalagi, sepak bola katanya lahir di China. Nenek moyang mereka yang memperkenalkannya. Dan, sejarah tersebutlah yang menjadi salah satu tamparan keras bagi federasi sepak bola China.

Bagaimana caranya sepak bola ini bisa menjadi komoditas di China. Dengan demikian, nantinya akan mengangkat ekonomi China. Saat ini, mereka sudah mulai membangun puing-puing sepak bola negerinya. Terlihat instan, memang. Walaupun yang instan tak seluruhnya berdampak buruk.

Federasi sepak bola China tampaknya tak ingin berlama-lama. Mereka tampaknya ingin segera menunjukkan kepada dunia bahwa Chinese football is true. Kita lihat saja liga China. Jika dibandingkan dengan liga tetangganya, Korea Selatan dan Jepang, China memang kalah glamor kala itu.

Namun, sekarang keadaan berbalik. Liga China menjadi liga dengan hak siar termahal mengungguli Jepang sekaligus Korsel. Hak siar CSL sebesar 250 juta euro, yang merupakan bagian dari nilai kontrak selama 5 tahun.

Untuk mewujudkan liga yang diperhitungkan, sepak bola China akan mengeluarkan dana yang juga tidak sedikit. Media Elmundo melaporkan, klub-klub liga China mengeluarkan 215 juta euro untuk merekrut pemain di bursa transfer musim lalu. Maka bisa dibayangkan, dana tersebut akan berlipat ganda pada masa mendatang.

Yang menjadi pertanyaan sekarang apakah uang yang telah dikeluarkan klub-klub China bakal seirama dengan prestasi klub?

Hal itu sepertinya bukan menjadi kekhawatiran bagi mereka. Dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, China nantinya bakal menyedot banyak perhatian. Fans club bakal digiring menuju stadion dan digiring untuk membeli marcandise. Pasalnya, setiap klub telah memiliki pelatih dan pemain-pemain terbaik dunia.

Tentu itu akan memberikan pemasukan untuk klub. Ini bukan ramalan, tapi hanya sekadar prediksi. Tak ayal, jika besok liga China akan menjadi salah satu liga top di dunia dengan sederet pemain bintang. Lalu, hal tersebut akan menguntungkan kita penduduk Indonesia.

Lha, apa untungnya? Salah satunya, ya kita tak perlu jauh-jauh lagi terbang ke Eropa menonton pemain idola. Cukup ke China saja, kita sudah bisa melihat pemain idola meliuk-liuk di lapangan hijau. Jangan kaget, apabila suatu saat China menjadi salah satu kiblat sepak bola dunia.

Maka, pepatah pun bergeser dari “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China” menjadi “Kejar uangnya sampai ke negeri China”.