Keceriaan Dunia Sophie dan Muramnya Hari Buku Nasional

Keceriaan Dunia Sophie dan Muramnya Hari Buku Nasional

desktopwallpapers4.me

Tanggal 17 Mei adalah Hari Buku Nasional. Rasanya kurang afdol, kalau tidak berkontribusi artikel, khususnya di Voxpop ini. Sebab, Voxpop pernah menayangkan artikel soal Hari Buku Internasional 23 April berjudul “Sekuntum Mawar untukmu, Sebuah Buku untukku” karya Jauhari Mahardika. Tulisan yang renyah nan bergizi, terkesan romantis, tapi memberontak.

Semua orang tentunya mafhum kalau buku adalah koentji dalam membangun peradaban umat manusia. Seperti kata Milan Kundera, “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.”

Bahkan seorang Fir’aun membangun kekuasaannya tidak semata-mata dengan kekuatan militer. Penguasa Mesir kuno itu memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi sebanyak 20.000 buku. Sine libris cella, sine anima corpus. Sebuah ruangan tanpa buku seperti tubuh tanpa jiwa. Begitulah kata-kata termasyhur dari seorang filsuf besar Romawi kuno, Marcus Tullius Cicero.

Saya pun selalu bergumul dengan buku-buku, tak terkecuali malam minggu. Bukankah baca buku pada malam minggu itu sungguh mulia? Dan, cowok atau cewek yang suka baca buku itu keren sekali. Bahkan Arif Utama resmi menjadi hipster yang gagal seksi, karena selalu kehabisan buku ‘Tidak Ada New York Hari Ini’ karya Aan Mansyur yang kini sudah termasyhur itu. Baca: “‘Tidak Ada New York Hari Ini’ dan Hipster Gagal Seksi“. Bukan begitu mas Jauhari Mahardika? #MenghiburDiri

Hari Buku Nasional seharusnya menjadi hari yang membahagiakan. Selain beberapa toko buku kasih diskon harga, tapi ini seharusnya juga menjadi momen meningkatkan minat baca di Tanah Air. Sebab, berdasarkan studi Central Connecticut State University, AS, minat baca orang Indonesia berada di peringkat 60 dari total 61 negara.

Indonesia hanya satu peringkat di atas Botswana. Ada yang tahu negara Botswana? Yuk, mari kita tanya ke mbah Google, karena jujur saya juga tidak paham. Lalu di mana para tetangga kita? Singapura ada di posisi 36, Malaysia di peringkat 52, sedangkan Thailand di posisi 59 atau satu level di atas negara kita yang tercinta ini.

Ironisnya, di tengah tingkat keliterasian yang minimalis, Hari Buku Nasional tahun ini justru diwarnai aksi pemberangusan buku-buku, yang katanya berbau ajaran Marxisme-Komunisme-Leninisme. Entah itu sudah terbukti atau belum, setidaknya beberapa buku sudah diangkut.

Sebagian penerbit dan toko buku bahkan mulai menarik buku-buku “kiri” tersebut dari peredaran. Ini semata-mata ada ketakutan berlebihan dari pihak-pihak tertentu mengenai isu kebangkitan PKI. Tentunya ini konyol sekali.

Sebagai seorang mahasiswa filsafat, saya pun mempelajari Marxisme. Wong, Karl Marx itu juga seorang filsuf. Apa jadinya menghapus Karl Marx dari dunia kefilsafatan? Toh, sampai saat ini, saya tidak pernah menjadi seorang komunis.

Bukankah kita harus mempelajari terlebih dahulu sebelum menyampaikan kritik atau menilai bahwa sebuah ajaran itu berbahaya atau tidak? Mohammad Hatta, salah satu founding father kita, pernah menyampaikan kritik mendalam dan tajam terhadap ajaran Marx, yang terangkum dalam buku ‘Ajaran Marx atau Kepintaran Sang Murid Membeo?’

Bung Hatta berani seperti itu, karena menurut dia tak banyak orang yang beruntung bisa mempelajari buku ‘Das Kapital’ dan ‘Das Kapital II’ secara langsung dan utuh. Kebanyakan dari mereka, menurut Hatta, belajar dari buku para penafsir ajaran Marx. Jika begitu Bung, berarti yang belajar dari para penafsir saja kadang ngaco, apalagi yang tidak belajar sama sekali?

Saya yakin, semakin anda melarang beredarnya literatur-literatur, maka semakin banyak orang yang penasaran dan mencari tahu. Bukan untuk menjadi “kiri” atau Marxis atau Komunis, melainkan lebih pada soal menambah wawasan.

Saya ingin sedikit mengumbar romantisme filsafat itu sendiri. Bukan dengan teori, melainkan dengan cinta sebuah sentilan kasih sayang. Bahwa kebijaksanaan hidup itu bermula dari rasa ingin tahu. Kuriositas. Demikianlah pijakan awal ketika kita menyoal filsafat.

Jostein Gaarder, penulis asal Norwegia, sukses memverifikasi itu secara naratif lewat bukunya ‘Dunia Sophie: Sebuah Novel Filsafat’. Sophie, tokoh fiksi karangan Gaarder, adalah seorang gadis kecil biasa. Dia hidup layaknya anak-anak yang selalu riang dengan kisah keseharian mereka.

Namun, suatu ketika, anak berusia 14 tahun itu dikirimi sepucuk surat. Isinya singkat, berupa pertanyaan, “Siapakah kamu?” Ini menarik. Sebab, pertanyaan ini menjadi awal yang baik untuk pergelutan filsafati lanjutan baginya. Apalagi ketika surat kedua menyapa, “Dari mana datangnya dunia?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang bikin pusing. Namun, Sophie tidak menghindar. Dia memasuki dunia pertanyaan itu dengan ceria. Dia pun berpikir dan bertanya sendiri. Siapakah dia? Dari mana dunia yang dihidupinya itu berasal?

Ia akhirnya keranjingan menekuni dunia membaca itu sendiri. Mengenai eksistensi para filsuf alam, semisal Thales, Anaximandros, dan Anaximenes. Lalu menuju pada trisula Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang mulai mencoba menggunakan akal rasional untuk melihat realitas. Ditambah lagi dengan perjumpaannya dengan Alberto Knox, seorang lelaki misterius yang menuntunnya dalam setiap pertanyaan terajukan.

Pemikiran-pemikiran para filsuf tersebut dipakai sebagai pisau bedah realitas. Gagasan mereka yang kita kira mengawang-awang itu terkonfrontasikan untuk melihat dan menyikapi situasi yang terjadi pada masanya. Lihat saja Karl Marx dengan materialisme historisnya mengobrak-abrik banalnya kapitalisme. Atau, pengagungan akal budi ala Descartes dan Bacon, yang kemudian dikritisi filsuf seperti Adorno dan Horkheimer, karena dianggap berkontribusi buruk terhadap bobroknya dominasi penguasaan manusia atas alam.

Terlihat bahwa filsafat sepertinya bikin polemik. Namun, polemik itu muncul, ketika ada yang tidak beres. Filsafat membantu kita memiliki pemikiran yang kuat dan tegas. Dengan begitu, filsafat tidak hanya sekadar ilmu, tapi sebuah pandangan hidup.

Bagi saya, yang terpenting ialah bagaimana pikiran kita tetap terawat. Pikiran kita tetap ternutrisi oleh pengetahuan yang menyegarkan. Apakah dengan makan buah pengetahuan di Taman Eden seperti yang dilakukan Adam dan Hawa? Di sini, saya hendak mengatakan bahwa membaca buku merupakan salah satu keutamaan dalam merawat pikiran tersebut.

Sama seperti Sophie dalam kisah di atas yang rakus mempelajari literatur-literatur filsafat. Dengan begitu, membaca buku merupakan bagian dari filsafat atau kebijaksanaan hidup itu sendiri. Bahkan, sastrawan kenamaan Jorge Luis Borges pernah berujar, “I have always imagined that Paradise will be a kind of library”. Terlihat ada kebahagiaan batin, jika hidup dipenuhi buku-buku.

Membaca sebagai bagian dari hidup adalah surga tersendiri di dunia yang fana ini. Pikiran kita akan selalu terbuka, kritis, dan berkembang. Ia menjadi tidak kaku dan selalu bisa dikonfrontasikan dengan pelbagai situasi apapun. Dengan demikian, otak anda akan senantiasa terasah dan tidak tumpul seperti para fundamentalis garis keras.

Bahkan, berdasarkan penelitian di Mindlab International, University of Sussex (2009), membaca ternyata merupakan cara terefektif untuk mengatasi stres. Sungguh sesuatu yang luar biasa. Ini mengafirmasi apa yang diucapkan oleh cendekiawan David Lewis, “Tidak peduli buku apa yang anda baca, keasyikan saat membaca dapat menghilangkan kekhawatiran dan tekanan dari luar.”

Jadi, buku “kiri” atau “kanan” sekalipun tidaklah menjadi soal. Selagi bertujuan menambah amunisi intelektualitas, eksistensi sebuah buku pantas diapresiasi. Dengan demikian, cerita Sophie di atas merupakan ajakan mulia bagi kita. Ajakan untuk menghidupkan minat baca, merawat pikiran, dan menjaga budaya literasi.

Syarat utamanya ialah rasa ingin tahu sejak dari dalam pikiran. Di situlah, anda sebenarnya sedang berfilsafat. Karena itu, memberangus buku-buku tertentu patut kita kutuk. Sebab, ilmu pengetahuan terus bergerak maju dan berlari jauh meninggalkan kalian yang berpikiran sempit.

Selamat Hari Buku Nasional!