Kebelet Gagah-gagahan di Kalijodo

Kebelet Gagah-gagahan di Kalijodo

bharatanews.com

Cerita tentang bisnis esek-esek di kawasan Kalijodo sudah menjadi perbincangan biasa saja bagi warga Jakarta sejak lama. Bukan rahasia lagi, untuk urusan begituan dengan pelacur kelas teri, Kalijodo yang terletak di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara itu adalah juaranya.

Kalijodo semakin gemerlap, setelah Kramat Tunggak, kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di Kecamatan Koja, sama-sama Jakarta Utara, ditutup pada 1999. Pesaing Kramat Tunggak adalah Gang Dolly di Surabaya, yang akhirnya ditutup juga pada 2014.

Walaupun tak berlabel terbesar di Asia Tenggara, Kalijodo termasuk kawasan prostitusi tertua di ibukota. Lebih dari 400 pekerja seks komersial (PSK) tersedia di sana. Rata-rata tarifnya sekitar Rp 150 ribu untuk short time. Kadang bisa diskon jadi Rp 100 ribu.

Tapi nggak ada yang kasih diskon sampai 99% seperti belanja online kekinian. Biar para e-commerce yang kepedean itu saja yang kasih diskon nggak masuk akal. Kalijodo tidak. Mentang-mentang urusan begituan, nggak pakai akal, gitu?

Begitu tersohornya Kalijodo sampai-sampai menjadi bahasa percakapan sehari-hari warga Jakarta. Misalnya, “Ke Kalijodo sono.” Ujaran bernada ledekan itu kerap terdengar di tongkrongan gang-gang sempit nan padat di Jakarta. Meski demikian, praktik prostitusi yang sudah tersaji lebih dari 50 tahun itu tak pernah disentuh aparat.

Baru kali ini, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berani ingin meratakan Kalijodo. Ahok memang terkenal galak, sampai-sampai ingin mengerahkan polisi, tentara, dan Satpol PP, karena kawasan itu dikuasai preman yang ditakuti.

Kata Ahok, Kalijodo mau disulap jadi ruang terbuka hijau (RTH), karena kawasan itu berada di daerah hijau. Itu sih bagus-bagus saja koh, tapi adil dong sama prostitusi dan lahan RTH lain yang ditiban sama pengembang nakal.

Kalau Ahok nggak bisa adil, bisa belajar sama AA Gym. AA itu adil banget. Selain sama istri-istrinya, AA juga adil bermedsos. Buktinya AA memboikot Line, karena mendukung LGBT. Kalau sama Facebook? Google?

Balik lagi ke Ahok. Kalau ingin menertibkan pelacuran koh, bersihin semua juga dong yang di hotel-hotel kelas melati, hotel berbintang, karaoke, diskotik, kosan-kosan, dan jalanan.

Nggak mungkin Pemprov DKI nggak pegang datanya. Tinggal minta saja ke Dinas Pariwisata dan Tramtib, mereka tahu betul. Saya jamin, lima menit data tersedia. Koh Ahok kan galak, pasti berani. Tapi apakah mampu? Belum tentu.

Lalu persoalan RTH. Ahok juga harus adil. Jangan cuma Kalijodo yang dijadikan RTH, banyak mal dan hotel berdiri di lahan hijau kok dibiarkan. Nggak cuma itu, banyak pengembang properti yang mengemplang kewajiban fasos/fasum.

Koh Ahok nggak tahu ya? Nggak mungkin. Tinggal panggil Dinas Tata Kota, urusan beres dalam tempo lima menit. Koh Ahok kan galak, pasti berani. Tapi apakah mampu? Sorry to say, belum tentu juga.

Selama itu tidak ditertibkan, Jakarta akan selalu defisit ruang terbuka hijau. Yang banyak justru RTH lainnya alias rumput tetangga lebih hijau. Dari dulu porsi RTH sekitar 9% terus. Masih jauh dari ideal sekitar 30% dari luas wilayah.

Jadi urusan menyulap Kalijodo jadi RTH tak sebanding dengan risiko menyerbu kawasan hitam itu dari segala penjuru. Yang prioritas adalah menagih kewajiban para pengemplang fasos/fasum, yang jelas-jelas sudah melanggar peraturan. Niscaya, RTH bertambah signifikan. Begitu juga dengan urusan prostitusi, ayo sikat yang lain juga koh.

Jika tidak, Kalijodo cuma jadi pentas gagah-gagahan Ahok menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta pada 2017. Ahok yang non-muslim pasti ingin meraih simpati dari kelompok muslim. Bukan apa-apa, itu realitas politik.

Menjadikan Kalijodo sebagai panggung gagah-gagahan para calon gubernur DKI sepertinya tidak berlebihan. Saya hanya tersenyum kecut ketika musisi Ahmad Dhani, yang katanya didukung PKB untuk maju di Pilgub DKI, mengunjungi Kalijodo. Pakai seragam loreng Banser pula. Gagah betul, mas.

Mungkin Dhani sekalian ingin merekrut penyanyi berbakat di sana. Tapi kurang cocok mas. Di sana itu dangdut sentris. Salah alamat kalau kata Ayu Ting Ting. Mas Dhani kan suka pop, rock, kadang metal meski nggak jelas gitu.

Ah, mas Dhani pakai menantang Ahok datang ke Kalijodo lagi. Biarlah Kalijodo itu panggung milik biduan dangdut koplo pinggiran. Bukan panggung politik jelang pilgub. Apalagi panggung juri idol-idolan, XX-an, atau dewi-dewian.

Dhani mungkin kebelet mau kasih saran soal Kalijodo seperti Tri Rismaharini, walikota Surabaya. Bu Risma memang berpengalaman menutup Gang Dolly tanpa ada kekerasan dan huru-hara. Kalaupun sekarang mau ikut gagah-gagahan di Kalijodo, karena namanya digadang-gadang maju di Pilgub DKI, ya silakan saja.

Mungkin sebentar lagi beberapa bakal calon gubernur juga ikut gagah-gagahan. Bagaimana pak Yusril Ihza Mahendra? Adhyaksa Dault? Sandiaga Uno? Ridwan Kamil? Siapa paling gagah?