Kebangkitan Nasional: Antara ‘Magnum Opus’ dan ‘Hipster’ Naik Tahta

Kebangkitan Nasional: Antara ‘Magnum Opus’ dan ‘Hipster’ Naik Tahta

maritasetyaningsih.blogspot.com

Kebangkitan nasional pada 20 Mei 1908 bisa dibilang sebuah magnum opus atau karya besar yang berdampak luas bagi negeri kita yang dicintai dan dibenci ini. Kalau tidak ada momen itu, mungkin tidak ada pergerakan melawan penjajah.

Dan, di balik mahakarya tersebut, ada pemuda-pemuda ganteng nan hebat. Misalnya Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeradji.

Kalau saya hitung-hitung, usia Soetomo waktu itu baru 20 tahun. Goenawan lebih muda lagi, sekitar 19 tahun. Kalau Soeradji, saya tidak tahu, karena tidak ada datanya. Ini tentu ironi, karena Soeradji justru yang mengusulkan nama Boedi Oetomo, organisasi pemuda yang mempelopori kebangkitan nasional pada 20 Mei 1908.

Lagipula, apa sih yang nggak ironi di negeri ini?

Tapi, saya yakin, usia Soeradji tak jauh-jauh dari Soetomo dan Goenawan, rekan-rekannya saat kuliah di STOVIA, Batavia (sekarang Jakarta). Walau relatif muda, pemikiran mereka melompat jauh ke depan. Yang dikumandangkan “Indie vooruit” atau Hindia maju, bukan “Java vooruit” atau Jawa maju, meski mereka orang Jawa banget.

Mereka memutuskan untuk melepas identitas diri demi sebuah magnum opus. Bandingkan dengan mahasiswa sekarang. Apa yang dilakukan? Tersinggung sedikit korps mahasiswanya langsung marah, demo, lalu coret-coret gedung. Yang lebih maju lagi, marah-marah kemudian pecahkan kaca kantor PLN.

Tapi, membandingkan Soetomo, Goenawan, Soeradji dengan mahasiswa dan pemuda kekinian juga terlalu memaksa diri. Ya tentu beda banget. Ini pasti karena Soetomo dkk terlalu banyak baca buku sebelum aksi. Jangan lupa, buku juga sebuah magnum opus, termasuk buku-buku ‘kiri’ yang saat ini dikebiri.

Karena sebagai magnum opus, pemberangusan buku-buku yang katanya ‘mengajarkan Marxisme, Komunisme, dan Leninisme’ tersebut adalah kecelakaan sejarah. Saya pikir, penggunaan istilah librisida sangat pas dan mengambil alih semua kosakata soal pemberangusan buku.

Ini lagi-lagi ironi negeri sendiri, karena buku adalah jendela dunia. Setidaknya itu kata-kata yang dipamerkan Perpustakaan Nasional melalui sebuah baliho kecil. Tapi, Perpusnas malah ikut mendukung pemberangusan buku-buku yang dianggap ‘kiri’.

Memang terjadi pro dan kontra dalam menyikapi fenomena ini. Tapi, satu yang pasti, fenomena ini membuktikan bahwa buku mempunyai kekuatan yang mampu mempengaruhi tindakan para pembaca. Dialah magnum opus dari sebuah magnum opus.

Dan, dari pemberangusan itu pula, kita dapat memahami setidaknya ‘kiri’ yang selama ini menjadi hipster akhirnya naik tahta menjadi arus utama (mainstream). Kini, semakin banyak orang yang justru ingin tahu dan membicarakan apa itu ‘kiri’ dan mengapa dilarang di negeri pengidap komunisto-phobi akut seperti di Indonesia ini.

Sebuah Prolog

Pemberangusan buku ‘kiri’ hanyalah sebuah prolog. Sebuah awal dari percepatan proses kembalinya kenangan pahit seperti pada era Orde Baru. Apakah ini yang disebu Neo Orba?

Jika berbicara mengenai prolog, sudah pasti pada bagian akhirnya bakal ada epilog. Epilog lahir dari hubungan sebab akibat dari adanya prolog. Dan, jika pemberangusan buku adalah sebuah prolog, maka kausalitas bernama epilog itu akan muncul dengan sendirinya.

Efek pertama yang terjadi dari pemberangusan buku adalah gagalnya melawan masa lalu. Sebab, semua yang hidup pasti dikejar oleh masa lalu. Begitu juga dengan Indonesia. Negera kita selalu dikejar masa lalu berwujud ketakutan terhadap komunis dan hal lainnya yang berbau ‘kiri’.

Yang harus dilakukan adalah berontak melawan masa lalu, dengan tujuan agar menangkap dan menjinakkan kembali hal yang dulu tidak berhasil dilakukan. Hal yang tidak berhasil dilakukan itu adalah phobia terhadap ‘kiri’.

Namun, dengan adanya fenomena pemberangusan buku bertemakan ‘kiri’ tersebut bisa menjadi hipotesis awal Indonesia yang hingga kini masih dikejar oleh masa lalunya sendiri. Indonesia yang masih belum berani berontak lebih memilih untuk meleburkan diri pada penyesalan yang diwarisi dari generasi ke generasi.

Efek kedua dari pemberangusan buku ini lebih ekstrem dari yang pertama, karena apa yang dilakukan terhadap buku-buku tersebut menuntun bangsa ini kepada sebuah penghancuran. Langkah pertama untuk menghancurkan sebuah bangsa adalah menghapuskan memorinya. Penghapusan memori tersebut di antaranya penghancuran buku-buku.

Pemberangusan buku ‘kiri’ juga sebuah prolog dalam proses penghancuran bangsa, dimana buku-buku yang dianggap ‘kiri’ itu dilarang untuk dibaca, diproduksi, dan dijualbelikan kepada khalayak ramai.

Untuk kemudian nantinya akan diterbitkan ulang buku-buku antitesis dari buku yang dilarang tersebut, yang bermuara pada ‘penemuan baru’ sejarah bangsa. Melupakan apa yang terjadi pada masa lampau, melupakan buku-buku yang diberangus tadi.

Efek diatas menunjukkan adanya indikasi dekadensi, sebuah kemunduran atau kemerosotan pengetahuan dari keanekaragaman literasi yang ada. Disamping itu, fenomena ini juga memvisualisasikan bahwa literasi di Indonesia semakin kabur dari kebenaran, karena adanya belenggu dan monopoli pengetahuan.

Pemberangusan buku juga awalan dari gagalnya memaknai kebangkitan nasional. Pada hari yang agung ini seharusnya dijadikan refleksi terhadap apa yang salah dalam sejarah bangsa ini, bukan malah memberangus buku sebagai upaya cuci tangan dari kesalahan.

Selain itu, dampak pemberangusan buku terhadap gagalnya memaknai kebangkitan nasional tercermin lagi pada perspektif sejarah. Sebab, hanya satu perspektif yang dikehendaki untuk mengeksplanasi peristiwa sejarah.

Masak kita yang pribumi ini kalah dengan pak Vlekke dengan bukunya ‘Nusantara’, yang lebih Indonesiasentris dibandingkan ribut soal ‘kiri’ atau ‘kanan’? Mari rayakan Hari Kebangkitan Nasional dengan sebaik-baiknya, sehormat-sehormatnya!