Habis Kecantikan, lalu Jual Kebahagiaan

Habis Kecantikan, lalu Jual Kebahagiaan

Ilustrasi (photo by ian dooley on Unsplash)

Akhir-akhir ini, teman-teman Instagram saya sering membagikan story mengenai rezim perawatan kecantikan mereka. Konon kabarnya, rezim perawatan kecantikan agar kulit awet muda harus dimulai sejak usia 30, sebelum garis keriput merajalela. Sering saya dengar, 30 ini angka keramat, si dirty thirty.

Katanya, mulai usia 30, kulit kehilangan kolagen, sehingga tak kencang lagi. Kulit juga tak mulus lagi, dan mudah timbul bercak hitam. Selain itu, metabolisme perempuan juga menjadi semakin lambat, sehingga akan mudah sekali menambah berat badan.

Kalau belum menikah, segeralah menikah, karena laki-laki tak tertarik pada perawan tua. Kalau belum punya anak, segeralah berusaha memberi momongan, karena tubuh kita tak lagi perkasa untuk hamil dan melahirkan.

Banyak betul momok mengerikan tentang 30-an.

Saya tidak tahu apakah kapitalisme atau patriarki yang lebih dulu menciptakan momok tersebut. Yang pasti, kapitalisme membonceng isu-isu tersebut, dan mengambil keuntungan sedalam-dalamnya, seluas-luasnya. Kapitalisme berusaha membuat perempuan 30-an kehilangan kepercayaan diri agar kemudian dapat muncul dengan solusi.

Solusi yang mereka siapkan agar para perempuan 30-an ini dapat meraih kepercayaan diri kembali tentu saja tak jauh-jauh dari konsumsi. Tumpah ruah produk perawatan tubuh di pusat perbelanjaan dan dalam halaman-halaman mengkilap majalah perempuan.

Dokter serta klinik kecantikan muncul di setiap sudut kota besar. Sedot lemak, botok, implan payudara, segala macam produk kecantikan pun lebih sering diperbincangkan dari pada isu-isu penting macam kesehatan reproduksi dan menstruasi.

Memangnya pernah lihat iklan menstrual cup atau vaksin kanker serviks di baliho-baliho besar sepanjang Casablanca? Iklan salon kecantikan sih banyak.

Saya tentu tak sedang menyindir mereka yang memilih untuk merawat diri dengan berbagai produk yang katanya mumpuni tersebut. Apalagi, jika perawatan tersebut dianggap memberi nilai tambah, dilakukan dengan kesadaran, membuat nyaman, tidak terpaksa, dirasa penting untuk kebutuhan pribadi, dan memiliki dana yang cukup untuk melakukannya, mengapa tidak? Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk merasa nyaman dan bahagia.

Namun, yang saya khawatirkan adalah tekanan sosial dan tekanan pasar untuk melakukan hal-hal tersebut agar merasa bahagia dan nyaman dengan diri sendiri.

Industri kecantikan adalah jalan panjang berliku yang tak ada habisnya, mau sejauh mana perempuan ditekan untuk melalui jalan tersebut?

Katanya, kecantikan bisa meningkatkan kepercayaan diri, dan membawa perempuan pada kebahagiaan. Hal ini berlaku juga sebaliknya, kepercayaan diri dan kenyamanan atas diri sendiri dapat dicapai melalui kebahagiaan. Sebab itu, kita harus selalu bahagia dan selalu berpikir positif. Salah satu merek perawatan kecantikan beberapa tahun lalu bahkan pernah menggunakan taglinedont wait, start recording happiness, now!

Habis menjual kecantikan, lalu dijual pula kebahagiaan.

Kapitalisme sering kali mempromosikan dan mengajarkan bahwa bahagia adalah sebenar-benarnya perasaan yang harus dirasakan manusia. Sedangkan perasaan lainnya adalah kurang hakiki dibanding rasa bahagia.

Kita seperti hidup dalam tirani bernama kebahagiaan. Ribuan artikel ditulis mengenai bagaimana caranya menjadi bahagia, bagaimana menciptakan kebahagiaan, bagaimana mendapat kebahagiaan, bagaimana meningkatkan kebahagiaan, bagaimana menjaga kebahagiaan dan rasa bahagia, juga bagaimana caranya membuat kebahagiaan bertahan lama.

Tentu menjadi bahagia adalah hal baik, namun bahagia hanyalah salah satu bagian dari kepenuhan emosi manusia. Merasa harus bahagia adalah obsesi. Padahal, marah, sedih, dan frustrasi tidaklah lebih buruk dari rasa bahagia. Sah-sah saja merasakan amarah, kesedihan, atau rasa frustrasi. Kita manusia, rangkul saja semua emosi tersebut.

Saya percaya, satu-satunya cara untuk merasa cukup dan memiliki kepercayaan diri, bukanlah dari keharusan untuk bahagia atau keharusan terlihat muda, melainkan dari mencintai diri sendiri.

Ketika usia 20-an, tubuh mungkin memiliki lebih banyak energi dan lebih sedikit lemak, tapi tubuh 30-an lebih memahami diri sendiri dan apa yang dibutuhkan dalam hidup. Tubuh yang berusia 27 mungkin memiliki level kebugaran yang jauh lebih baik, tapi semakin matang usia biasanya semakin paham juga kapan kita harus mendengarkan tubuh.

Jangan takut menjadi tua, jangan tertekan pada rezim kecantikan dan iklan yang menuduh-nuduh kulit wajah kusam atau kurang berwarna terang. Bule-bule juga membayar mahal supaya berkulit cokelat. Jangan khawatir pada metabolisme dan lemak, kita hanya perlu sayang pada tubuh, memberi asupan baik dan berolahraga agar sehat.

Jangan takut pada tetangga yang suka menuding-nuding agar segera punya anak. Ibu yang lebih matang justru lebih resilien dan memiliki lebih banyak stamina untuk mendidik anak yang lebih cerdas dan welas asih. Jangan khawatir tekanan sosial untuk segera berumah tangga. Menikah muda memiliki risiko perceraian yang tinggi pada tahun pertama hingga kelima.

Jangan takut pada usia. Karena hubungan paling lama yang akan kita jalani adalah dengan diri sendiri, sementara usia cuma deretan angka-angka, dan tetangga cuma suka bergosip saja.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN