Kearifan Pasar dan Porsi Nasi Padang

Kearifan Pasar dan Porsi Nasi Padang

pegipegi.com

Pernah dengar food waste atau food loss? Itu adalah makanan yang terbuang percuma karena beberapa hal, yaitu faktor susut karena proses transportasi, proses produksi, penyimpanan dan konsumsi tentunya.

Data FAO yang pernah saya baca, total pangan yang terbuang sia-sia di seluruh dunia mencapai seperempat hingga sepertiga dari total pangan sedunia. Dari sisi berat pangan yang terbuang, jumlahnya mencapai 1,3 miliar ton.

Kerugian dalam jumlah angka mencapai US$ 750 miliar. Silakan dihitung dengan kurs hari ini yang sudah Rp 12.980 per dolar AS. Buruan ngitungnya, besok dolar naik!!! #halah

Sebanyak 56% pemborosan makanan ini merupakan kontribusi negara maju, sisanya 44% adalah negara berkembang. Mari menghitung sederhana, 44% kontribusi negara berkembang dalam food waste dari total seperempat hingga sepertiga total pangan dunia. Diperoleh angka 0,11 hingga 0,15 atau 11-15%. Makanan di seluruh negara berkembang terbuang.

Indonesia memiliki produksi tahunan 70-75 juta ton gabah kering giling (GKG) yang dapat menjadi 33-40 juta ton beras. Berbagai jenis cabai diproduksi hingga 1,6 juta ton per tahun, bawang merah 1-1,3 juta ton, jagung 18-20 juta ton, kedelai 700-900 ribu ton, dan lain lain.

Silakan dihitung sebagai negara berkembang, Indonesia kehilangan 11-15% hasil panenan tersebut karena berbagai faktor. Sayang sekali ya.

Perlu ada keseriusan untuk memaksimalkan hasil bumi tersebut melalui perbaikan logistik, teknologi pasca panen, pergudangan yang memadai, pengolahan bahan makanan, penyimpanan, and last but not least kampanye budaya menghabiskan makanan yang kita ambil atau beli.

Biasa banget melihat orang makan nasi tidak dihabiskan? Di rumah makan terutama. Entah sok diet, entah tidak selera makan. Yang pasti nasi yang dimasak susah payah dari beras yang ditanam petani dengan kesungguhan, berakhir teronggok di pinggir piring yang kemudian masuk tempat sampah.

Sementara ada 28-30 juta jiwa masyarakat miskin di Indonesia yang rawan pangan atau mengeluhkan mahalnya harga beras. Ini sungguh menyakitkan. Sok-sokan diet makan siang, lalu sorenya makan gorengan 10 biji, minum soft drink dan sebungkus keripik kentang. Diet dari Hong Kong?

Beberapa teman mengakui sering menyisakan nasi dan merasa bersalah usai diskusi dengan saya. Di sini kadang saya merasa memiliki nasib seperti akun @faktaagama #eaaaaa

Untuk menghadapi pemborosan bahan pangan dan pengolahan, terutama di Indonesia yang infrastruktur penunjangnya belum mapan, ada baiknya belajar ke orang Padang dan yang pasar tradisional. Tidak jauh-jauh. Belajar dari budaya anak negeri sendiri. Dan saya sedang tidak bercanda.

Pasti pernah makan di restoran Padang dong? Saya tanya, nasi selalu habis tidak? Nambah atau tidak? Semua yang saya tanya mengatakan: habis, kadang nambah dan habis juga. Tidak ada nasi jadi waste atau food loss di rumah makan Padang.

Mereka menyajikan nasi dengan porsi kecil dan sungguh pas takarannya. Kecuali pesan Nasi Padang dibungkus, pasti nasinya lebih banyak. Dan lagi-lagi habis.

Omong-omong mengapa kalau dibungkus, Nasi Padang lebih banyak porsinya? Saya merasa inilah kebaikan hati orang Padang: siapa tahu satu bungkus nasi dimakan berdua. Ya itu tebakan saya saja sih.

Pasar Tradisional

Berikutnya, saya juga kerap main ke pasar tradisional dan sekali-sekali pasar induk. Sesekali saya perlu merasakan menjadi orang kebanyakan kan? Hahaha… Bercanda ya. Jangan bully saya.

Kalau pernah ke pasar tradisional atau pasar induk di Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan sekitarnya, pasti menemukan pedagang bumbu yang dikelola keluarga Padang. Pasti paling ramai, racikan bumbunya enak, dan harganya seringkali jauh lebih murah.

Cabai segar masuk ke pasar induk dengan cara manual. Dipikul turun dari truk. Benar-benar manual tanpa alat bantu pendorong. Packaging-nya pun kadang karung atau tempat anyaman bambu besar. Kadang ada cabai segar yang tertekuk, patah, atau sedikit koyak.

Cabai ini masuk sortiran dan biasanya harganya turun banyak sekali. Hanya komunitas Padang yang berani membeli Cabai segar yang hanya sedikit cacat dengan harga relatif tinggi. Diolahnya segera menjadi bumbu dan dijual ke eceran ke berbagai tempat.

Betapa hebat tangan-tangan orang Padang ini mengolah produk yang nyaris dibuang menjadi bernilai tambah. Saya sungguh kagum dengan etos kerja dan budaya kawan-kawan Padang ini.

Saya juga pernah melihat ibu-ibu mengerubungi sisa sortiran bawang merah, tapi sepertinya ini tidak dikelola komunitas masyarakat Padang. Mereka mengambil bawang merah yang terlalu kecil untuk masuk produk layak jual. Saya sempat tanya buat apa, eh sama ibu itu dijawab: ya buat masak mas. Iya juga ya, mana mungkin bawang merah sortiran bisa dibuat beli Alphard.

Ada juga pedagang yang menjual buah-buah yang cacat karena proses pengiriman. Ini pembelinya juga ada. Untuk makanan ternak katanya. Yang saya lihat cukup banyak dijual di situ adalah pisang, dan pepaya.

Namun demikian, pasar masih menyisakan banyak sampah. Lapisan paling luar kol terbuang percuma, karena cara sortir ditempat dan langsung jatuh ke tanah membuatnya kotor. Selain itu mungkin cacat fisik kol bulat itu cukup signifikan. Untuk produk yang cacatnya banyak otomatis dibuang. Sebenarnya masih banyak gunanya.

Limbah hortikultura (sayur dan buah) dapat diolah menjadi pupuk. Demikian juga limbah dari pasar ikan dan ayam. Semuanya bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomis.

Ada belasan ribu pasar tradisional di Indonesia, bayangkan berapa besar potensi ekonominya jika dikelola limbahnya, produk sortirnya segera dimanufaktur ketika masih segar, berapa ton pupuk bisa diproduksi dari sampah pasar dan bisa digunakan keluarga petani Indonesia yang jumlahnya 25 juta rumah tangga petani itu.

Jika tak bisa dimakan, setidaknya bisa diolah menjadi produk lain yang berguna. Jangan dibiarkan menjadi sampah. Bukan hanya masalah bau dan makan tempat, lebih jauh dari itu, sampah pangan mengakibatkan gas metana yang memicu efek rumah kaca.

Sekali lagi, habiskan makanan anda!

  • Citrani Dahayu

    Porsi masakan padang kalo di bungkus lebih banyak nasinya mungkin itu strategi dagang juga, atau penjual nasi padang tau kalo pada dasarnya masyarakat Indonesia itu rakus kalo lagi makan. Hehehehehe….

  • faisal

    Saya sepakat, mungkin orang tua harus menyampakan filosofi untuk tidak menyisakan makanan dengan lebih logis, biar udah gedenya ga biasa buang2 makanan. Manusia-manusia dewasa udah ga takut nasinya nangis kalo ga dimakan atau sisa nasinya dimakan setan kalo ga habis. 🙂