Pledoi Kaum Botak terkait Dampak Rohingya

Pledoi Kaum Botak terkait Dampak Rohingya

Ilustrasi (Georgian-Sorin Maxim/dribbble.com)

Sebelum menulis ini, saya ingat pesan penulis senior yang mengatakan bahwa mengawali tulisan dengan kemarahan dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin. Dan, tentunya menyebabkan ketidakcerdasan dalam menulis.

Karena itu, saya ingin mengajak anda untuk memposisikan diri sebagai orang yang kebetulan botak, seperti saya dan plontosan yang lain.  Dengan begitu, tulisan ini tetap dibaca jernih dan mengalir seperti air yang mengucur di atas kepala yang botak.

Sekarang bayangkan, bagaimana rasanya jika anda diteriaki botak biadab oleh kerumunan massa? Seolah mereka ingin jitak kepala anda?

Jadi, ceritanya begini, suatu waktu saya ingin memotret unjukrasa tragedi kemanusian Rohingya. Ketika ingin memotret dengan lezat, mengatur komposisi, pencahayaan dan unsur simbol yang kental, tiba-tiba sang orator berteriak dengan lantang, “Botak biadab! Penghuni neraka!”

Mereka sebenarnya mengecam Ashin Wirathu, biksu Buddha nasionalis Myanmar dan pemimpin kelompok bernama SKUAD 969 yang melancarkan serangan kepada muslim Rohingya.

Tapi… tapi… Kenapa harus bawa-bawa botak?

Saya hanya bisa terhenyak diam beberapa saat. Mematung seperti membayangkan Raisa yang menikah. Jleb… sakitnya tuh di kepala.

Saya merasa tersudutkan saat itu, seperti kelinci yang siap diburu anjing Pitbull. Sementara beberapa teman wartawan tertawa lepas, seperti menemukan kuntilanak yang usai keramas dan memakai lingerie.

Woiii…

Orang botak bukan pembunuh!

Botak bukan penjahat!

Botak itu ideologi!

Botak itu suci!

Botak itu seksi! Eh?

Saya merasa harus menyampaikan pembelaan ini untuk mewakili kaum botak atau kaum plontos seluruh dunia. Jangan pernah mengecam Ashin Wirathu dengan membawa-bawa sebutan botak.

Kami jelas berbeda dengan dia. Beda ideologi, agama, kebudayaan, bangsa, bahkan kami berbeda dalam cara berpakaian. Lagipula, Ashin Wirathu itu juga berbeda dengan biksu-biksu lain di Myanmar, apalagi Indonesia. Tidak semua biksu seperti Ashin Wirathu. Tidak bisa dipukul rata.

Tapi masyarakat kita memang ajaib, mahir bercocoklogi. Jangankan membedakan antara Ashin Wirathu dan biksu-biksu lainnya, masalah kebotakan saja ikut dibawa-bawa.

Sebagai orang botak di tengah kerumunan massa yang berteriak bahwa botak itu biadab, terselip senyuman para ibu seraya menutup bibirnya dengan dua tangan.

Melihat itu, ingin rasanya melantunkan lagu Englishman In New York dalam hati. Lalu, segera menepi mencari pohon yang rindang untuk meredakan rasa malu dan kesal, meski bau pesing bekas orang kencing menusuk tajam hidung yang tanpa bulu alias botak juga.

Tak lama kemudian, saya pikir peristiwa yang bikin geram campur malu di area demo itu telah berlalu. Nyatanya tidak.

Ketika selesai mengirim foto dan membuka media sosial, saya kembali menelan pil pahit dari status beberapa teman yang secara tegas menyatakan, “Orang botak biadab!”

Teman saya yang hampir setiap hari bertemu, sebut saja namanya Mawar (jenis tanaman semak yang selalu menjadi nama korban kekerasan), masih saja menulis, “Jadi sebel ningali anu botak teh, hayang neke (jadi sebel lihat orang botak, pengen jitak).”

Saya lagi-lagi coba menahan amarah, tapi berusaha mengklarifikasi di kolom komentar akun media sosialnya.  Namun, apa mau dikata, tiba-tiba hadir iklan produk rambut palsu atau wig. Kan amsyong..?

Daripada hati saya kembali tersakiti, saya akhirnya memutuskan membuat pledoi ini. Bahwa ternyata, masalah botak bukan hal yang sederhana. Botak merupakan ideologi yang saya anut setelah sekian lama menjadi kaum Gondes alias gondrong sebel.

Alasan saya memutuskan untuk botak tiada lain karena suatu ketika terlibat diskursus di kelas filsafat yang membahas masalah rambut. Sebuah perbincangan yang lucu mengenai rambut dan bulu ketika itu.

Kami berandai, jika Bob Marley tidak gimbal, Albert Einstein tidak acak-acakan rambutnya, Karl Marx tidak berewokan, dan Che Guevara tanpa kumis, jambang, dan janggutnya yang melegenda itu, akan seperti apa pancaran kharisma mereka? Apakah mereka menjadi sosok yang imut dan menggemaskan?

Perbincangan yang tidak jelas dan tidak penting itu akhirnya ditutup dengan membahas seorang Paul-Michel Foucault, filsuf Prancis, yang jelas berkepala botak itu.

Paparan sang narasumber saat itu menarik. Entah karena saya bodoh saat itu atau memang ingin meluluskan keinginan emak tercinta memotong rambut gondrong nan kusut di kepala.

Akhirnya saya jatuh cinta pada Foucault yang berkepala botak. Kemudian, waktu menggiring keyakinan saya untuk menggugurkan semua rambut yang identik dengan pergerakan dan kesenimanan yang selama bertahun-tahun membayangi hidup.

Saat itu, saya hanya membayangkan orang dengan kepala plontos sarat dengan asupan gizi ilmu dari berbagai bidang keilmuan, berkarakter teguh, jujur, dan penuh kasih sayang. Hal itu karena didasari telaahan saya terhadap orang plontos yang memilki jasa luar biasa untuk dunia ini.

Anda tentu tahu Mahatma Gandhi? Beliau botak, baik, dan memiliki prinsip perjuangan Ahimsa yang demikian luar biasa.

Ada pula pesepakbola Zinedine Zidane yang dulu rambutnya tipis dan akhirnya botak. Zidane telah berhasil menghidupkan mimpi kaum pinggiran dan imigran di dunia, dengan menjadikan sepak bola sebagai jalan hidup.

Lalu, siapa yang tidak kenal dengan Steve Jobs, pendiri Apple, yang rambutnya botak juga? Tercatat pula dalam sejarah seorang Hidetsugu Yagi, orang berkepala plontos dari Jepang, penemu antene TV yang membuat saudara dan handai taulan bisa menikmati sajian sinetron parade pencarian bakat.

Belum lagi tokoh kartun seperti Ten Shin Han di Dragon Ball atau Aang di Avatar yang jelas plontos dan memiliki kemampuan luar biasa, bukan luar biadab.

Lalu, apakah anda pernah mendengar tentang keberadaan kaum Skinhead? Skinhead yang kita kenal saat ini merupakan sub-budaya di London, Inggris, pada akhir 1960. Skinhead adalah kelas pekerja, buruh pelabuhan, yang hadir dengan ciri khas rambut plontos.

Pilihan plontos alias botak karena alasan kepraktisan dan lapangan pekerjaan yang melarang pekerja berambut gondrong saat itu. Dalam beberapa literatur disebut pula, plontos merupakan counter terhadap gaya hidup kaum hippie yang mewah.

Dan, sebagai akhir pledoi ini, saya ingin membuat kesepakatan bersama untuk mengubah tatanan berpikir masyarakat tentang apa itu botak dan kajian filosofisnya. Karena itu, kami akan menuntut:

1. Hentikan penyebutan ‘botak biadab’ saat mengecam sikap dan perilaku Ashin Wirathu atau orang lain yang kebetulan berkepala botak.

2. Meminta perlindungan hukum dari negara dan pengadilan HAM internasional agar kaum botak seluruh dunia tidak dihinakan.

3. Secepatnya pemerintah mengeluarkan undang-undang yang memberi sanksi larangan kencing selama 3 hari kepada penghina kaum botak.

Saya tidak ingin menceburkan urusan botak ini dengan masalah agama dan tragedi Rohingya. Bagaimanapun, masalah kemanusiaan itu sedang berusaha dihentikan oleh dunia.

Semoga masalah Rohingya cepat usai dan kaum botak bisa melenggang bahagia di jalan tanpa cemooh…

Kaum botak seluruh dunia bersatulah!