Karena Perokok Bukan Kumpulan Orang-orang Pekok

Karena Perokok Bukan Kumpulan Orang-orang Pekok

deviantart.com

Saya bukan perokok, walau pernah merokok. Merokok bukanlah tindakan kriminal yang dosanya segunung kalau anda membunuh orang. Tidak ada nyawa yang langsung melayang kalau anda merokok. Kecuali, ya mungkin, nyawa si perokok sendiri. Itupun berproses.

Lagipula, semua orang pasti mati. Kalau semua kematian dibebankan kesalahannya kepada rokok dan perokok, berarti kita perlu sepakati untuk memunculkan satu hantu lagi selain komunis, yakni hantu tembakau.

Saya percaya sepenuhnya merokok adalah soal sila kedua Pancasila. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Seingat saya, bunyinya begitu, tapi entahlah kalau saya salah. Saya takut terkena sindrom neng Zaskia Gotik. Dari kemanusiaan yang adil dan beradab itu pula kita harusnya memandang rokok sebagai sebuah barang legal yang disukai banyak orang, pria maupun wanita.

Rokok paling asyik dinikmati sehabis makan, selepas bekerja, saat kongkow atau galau akibat diputus pacar. Merokoklah. Tidak perlu teori, tidak perlu pelarangan. Satu tarikan panjang saat menghisap rokok akan membawa pergi masalah hidup. Seorang kawan saya menyakini betul hal itu.

Merokok adalah soal kemanusiaan. Saya memiliki banyak kawan perokok yang sangat banyak. Empat dari empat pria sahabat baik saya di Malang, adalah perokok berat. Mulai dari yang borjuis yang suka menghabiskan dua hingga tiga bungkus rokok per hari sampai yang proletar dengan membeli rokok ketengan dua atau tiga batang saja. Kalau sudah habis, baru berhenti. Maksudnya berhenti beli sendiri. Beda cerita kalau dibeliin atau ditawari teman.

Menjadi satu orang di antara kawan-kawan perokok berat adalah sebuah tantangan. Saya seperti masuk ke dalam kandang singa yang belum makan steak wagyu. Lengkap tanpa pawangnya. Ketika kami berkumpul bersama di sebuah kedai kopi, tak ayal asap rokok dari keempat pemuda tanggung kawan saya itu akan masuk ke paru-paru saya tanpa filter dan bahkan tanpa mengucap salam. Kurang ajar betul.

Anda pernah bayangkan asap rokok mengucap ‘Assalamu’alaikum’ sebelum memasuki saluran pernapasan kita?

Nah, disinilah kemanusiaan yang adil dan beradab bermain. Saya bersyukur memiliki kawan-kawan yang cukup peka untuk seminimal mungkin mengurangi kemungkinan saya terpapar asap rokok yang mengganggu mata dan pernapasan. Dan, sebenarnya ini masalah sederhana. Ini masalah tenggang rasa. Perokok yang baik, tahu batasan.

Saya rasa, di titik itu, perokok yang baik adalah manusia cerdas yang memiliki kapabilitas pemikiran jauh lebih baik dari kebanyakan orang di Indonesia.

Itu kenapa saya begitu bersemangat membahas rokok, sebuah lintingan tembakau yang cepat habis dihisap, tapi tak pernah habis segala polemik yang menggelayutinya sepanjang masa. Laman kotak surat elektronik saya pernah disusupi petisi dari change.org untuk menggalang dukungan guna menolak penyelenggaraan pameran World Tobacco Process and Machinery (WTPM).

Setahu saya, itu pameran mesin rokok, bukan parade atau festival untuk memamerkan produk rokok dari berbagai jenis ke khalayak umum. Anda takut sama mesin rokok atau bagaimana? Konon, WTPM sudah dilarang di banyak negara, walau saya tidak jelas tahu negara mana saja yang melarang itu. Hingga akhirnya, pameran tersebut akan dilaksanakan di Jakarta, Indonesia.

Sekilas, ini hanya pameran yang mungkin akan menjabarkan secara gambling tentang pemanfaatan mesin rokok dalam mengolah tembakau untuk dimasukkan sebagai bahan baku membuat rokok yang amboi betul aromanya. Ini serius. Beberapa kali, saya kerap mencium batang demi batang rokok yang tersimpan di dalam bungkus untuk menyesap aroma tembakau, karena tergoda dengan aromanya.

Karena itu, melarang merokok dan segala hal yang berkaitan dengan rokok adalah upaya banal. Banyak orang hebat, hidup dengan merokok dan mati karena rokok. Johan Cruyff, misalnya. Ia sosok revolusioner yang andaikata ia seorang WNI dan memiliki KTP Jakarta, orang akan berduyun-duyun mencalonkannya menjadi gubernur DKI Jakarta tanpa syarat.

Cruyff pun mati dan kalah oleh kanker paru-paru. Apakah ia menyesal mati karena rokok? Belum tahu. Tapi mengingat bagaimana dunia melepas kepergiannya, anda harus sadar bahwa tidak semua perokok yang diberi label negatif adalah orang-orang buangan yang tidak jelas. Banyak hal hebat, walau tidak semua, kerapkali lahir dan bersinggungan dengan rokok.

Sebenarnya, polemik soal rokok adalah perdebatan banal dan bebal yang tak tentu arah dan cenderung salah persepsi. Kaum anti-rokok mengeluhkan kebiasaan buruk para perokok tolol alias pekok yang tidak tahu adab. Kaum perokok aktif mengeluhkan kebebalan para simpatisan anti-rokok yang percaya bahwa merokok lebih nista dari korupsi.

Kapan kita sadar, selagi kita sibuk berdebat secara banal tentang rokok dan pelarangannya, tiap tahun negara kita kehilangan sekian banyak uang dalam jumlah banyak karena korupsi yang sudah menjadi budaya laten? Berapa banyak orang digusur atas nama pembangunan? Berapa banyak kaum minoritas dikerdilkan, hanya karena mereka berbeda dan masyarakat kita terlalu bodoh untuk toleran?

Saya bukan perokok, walau pernah dan tahu nikmatnya merokok. Jadi, santai saja, bro and sis… Banyak persoalan yang jauh lebih penting dari sekadar menggalang dukungan anti-rokok. Sebab, perokok bukanlah kumpulan orang-orang pekok…