Karena Hidup Memang Tak Sesempurna Paras Raisa

Karena Hidup Memang Tak Sesempurna Paras Raisa

Instagram/Raisa

Angelina Jolie minta cerai dari Brad Pitt, sementara hubungan asmara Raisa Andriana dan Keenan Pearce kembali kandas. Ah, apa yang tampak sempurna memang belum tentu sempurna. Apa yang terlihat pantas bersama, belum tentu bisa bersama.

Tapi tetap saja selalu ada kebaperan massal di republik ini. Merasa terkejut kalau sesuatu yang dikira ideal nyatanya sebuah fatamorgana. Siapa yang tak iri seiri-irinya dengan Keenan? Punya kekasih berparas cantik dan bersuara merdu sekelas Raisa. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Keduanya adalah pasangan yang mengamini untaian kata-kata bernada sang motivator ulung macam Mario Teguh. Bahwa pria yang baik akan mendapatkan perempuan yang baik. Tapi memang, hidup tak semudah ‘cocote’ Mario Teguh. Hidup juga tak sesempurna paras Raisa.

Raisa sendiri, kalau menurut analisa dangkal saya, sebenarnya sudah menaruh perasaan bahwa hatinya sudah siap remuk sekali lagi. Coba simak penggalan lirik lagunya yang berjudul ‘Usai di Sini’.

Lebih baik kita usai di sini.

Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati.

Bukannya aku mudah menyerah, tapi bijaksana.

Mengerti kapan harus berhenti.

Nyoh, bagaimana Raisa nggak realistis nyinyiris romantis melankolis, wahai groupies? Ini adalah antitesis dari lagu ‘Kali Kedua’, meski dua-duanya tersaji apik dalam satu album baru bertajuk ‘Handmade’, hasil idealisme dan jerih payahnya karena pertama kali ia menciptakan album dari jalur indie.

Tak ada optimisme di sini. Semua yang tergambar adalah rasa kecewa yang utuh. Rasa kecewa karena kadung percaya. Rasa kecewa karena tak bisa memercayai lagi. Dari sini, anda akan memaklumi apa yang dikatakan Friedrich Nietzsche tentang bagaimana sukarnya untuk percaya kepada orang yang sama.

“Aku kecewa bukan karena aku telah ditipu. Aku kecewa karena tak bisa memercayaimu lagi.” Frasa ini setara dengan, “Maafkan, tapi jangan lupakan.” Jatuh cinta itu adalah ikhtiar paling paripurna untuk menghilangkan nalar. Sesuatu yang dikutuk Nietzsche, filsuf yang mengagung-agungkan pentingnya kebebasan manusia.

Ah, sekali lagi, tahu apa Nietzsche? Dia kan jomblo hingga liang lahat. Belum merasakan pancaran pesona Raisa dalam balutan dress yang sangat anggun, yang bikin para jomblo menggigil dan mengutuk Keenan karena berhasil membuat Raisa tetap memikirkannya.

Balik lagi soal lagu. Sebenarnya, selain ‘Usai di Sini’, ada empat lagu lagi dalam album ‘Handmade’ yang berselimut nafas kekecewaan. Sebut saja lagu berjudul ‘Biarkanlah’ atau Letting You Go. Tapi, ya itu, lagu-lagu tersebut tak setenar lagu-lagu bertemakan semangat untuk mencintai. Inikah simulakra cinta?

Salah satu lagu yang dianggap masterpiece dalam album barunya Raisa, ya apalagi, kalau bukan ‘Kali Kedua’. Raisa sendiri pernah bercerita kalau album ‘Handmade’ mewakili suaranya. Jika itu benar, lagu ‘Kali Kedua’ yang menjadi ujung tombak kesuksesan karir Raisa tahun ini, boleh dikatakan sebuah harapan untuk bisa memulai hal yang baru.

Raisa dan Keenan pun sempat balikan dan tentunya dengan hadiah yang begitu adiluhung, yakni lagu ‘Kali Kedua’. Penggemar Raisa di seluruh negeri bersorak-sorai, karena pasangan sempurna itu sudah kembali. Persetan dengan Nietzsche dan untaian kata-katanya yang jahanam “apakah orang ini bodoh atau dia memang orang yang sangat rendah hati?”

Namun, seperti yang saya sebut di atas, apa yang tampak sempurna belum tentu sempurna. Balikan itu ternyata tak seindah dengan apa yang dinafaskan dalam nada-nada. Anda tentu pernah berada dalam situasi dimana anda tiba-tiba kebelet ingin balikan dengan mantan. Seperti misalnya tulisan “Piye? Penak jamanku, tho?” Kata-kata provokasi motivasi yang bisa kita temukan di belakang truk?

Mengenang adegan hal-hal yang manis pastinya bikin kita senyam-senyum sendiri. Setelah main kode-kodean, eh ternyata berhasil. Nyambung lagi, meski dibayangi determinasi dan kesungguhan hati. Bagaimana pun, kali kedua, ketiga, keempat, sangat berbeda.

Meski dibumbui dengan kisah-kisah manis yang pernah melekat, tetap saja ada noda kekhawatiran. Anda bisa saja senang, lalu menduga-duga kapan jantung anda akan dihujam dengan perasaan yang menyakitkan. Tak peduli apa yang orang katakan – saat anda dan kekasih terlihat bahagia – rasa curiga selalu terpendam.

Sialnya, Raisa yang harus menerima ini. Biduan berusia 26 tahun itu tentu menyimpan luka-luka, yang seringkali terabaikan dalam senyum dan parasnya yang cantik. Karena begitulah paras cantik, harus pandai menyembunyikan luka dan selalu tampak sempurna.

Ia harus tetap melipat rasa sakit ini dalam senyum-senyum palsu yang ia berikan kepada para penggemar, sembari percaya bahwa penggemarnya akan memberikan semangat yang baru. Semangat yang mampu mengobati dirinya sendiri, karena hidup tak sesempurna parasnya.

Dan, tentu ini peringatan untuk anda. Jika Raisa bisa sampai sebegitunya, apalagi anda, mblo? Lupakan Awkarin, mari selamatkan Raisa. Sebab, Raisa adalah simbol idealisme kehidupan, meski sebenarnya juga tak ideal-ideal amat.

Untuk mbak Raisa, bagaimana mbak rasanya? Sudahlah mbak, mending fokus mempersiapkan video klip baru dari single ‘Tentang Cinta’. Sebuah lagu yang juga bagian dari album ‘Handmade’. Lagu ‘Tentang Cinta’ kabarnya soal kisah mbak Raisa dan mas Keenan, ya? Lho, kok bisa kebetulan sih, mbak?

Ah, ini mungkin perasaan saya saja. Saya tak yakin Raisa mulai bergaya ala Taylor Swift, yang gonta-ganti pacar hanya untuk jadi bahan lagu baru dan komersialisasi. Raisa juga bukan Awkarin, yang heboh putus cinta sambil mewek, lalu tiba-tiba duet bareng rapper, Young Lex. Raisa tetaplah Raisa.

Semoga menggebrak video klip baru dan turnya nanti, mbak…